Kamis, Juli 11, 2024

Creating liberating content

Ramadan Dongkrak Penjualan AMDK,...

Jakarta, Limbahnews.com - Industri Air Minum dalam Kemasan (AMDK) di Indonesia mulai bergerak...

Tipping Fee Bantargebang Rp...

Bekasi, Limbahnews.com - Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi bakal menerima uang sebesar Rp 379...

Adhi Karya Bidik Pendapatan...

Jakarta, Limbahnews.com - PT Adhi Karya Tbk (ADHI) mengincar pendapatan berulang atau recurring...

Coca-Cola Bangun Pabrik Daur...

Jakarta, Limbahnews.com - Coca-Cola Amatil Indonesia (Amatil Indonesia) dan Dynapack Asia melakukan pembangunan...
BerandaLimbahLimbah Kelapa Sawit...

Limbah Kelapa Sawit Berpotensi Dimanfaatkan untuk Diagnosa Emboli Paru-paru

Emboli paru merupakan kondisi ketika Emboli atau gumpalan darah menyumbat pembuluh darah di paru-paru.

Limbah kelapa sawit memiliki potensi untuk dimanfaatkan dalam diagnosa emboli paru, berdasarkan penelitian baru oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Penelitian ini mengusulkan metode inovatif untuk pencitraan ventilasi paru-paru dengan memanfaatkan nano aerosol karbon bertanda 99mTc yang dihasilkan dari generator komersial. Keunikan pendekatan ini terletak pada penggunaan limbah kelapa sawit sebagai bahan baku nano aerosol karbon.

Nano aerosol karbon adalah partikel karbon yang sangat kecil, diukur dalam skala nanometer. Aerosol sendiri merujuk pada partikel-partikel yang terdispersi dalam medium gas, seperti udara.

Partikel karbon ini seringkali diberi tanda radioaktif seperti 99mTc agar dapat dilacak dalam proses pencitraan medis. Penggunaan nano aerosol karbon bertanda 99mTc membantu dalam mendapatkan gambaran yang jelas tentang ventilasi paru-paru, memungkinkan diagnosis dan pemantauan kondisi pernapasan dengan lebih akurat.

“Penegakan diagnosa yang tepat sangat penting bagi pasien yang diduga mengalami emboli paru, sehingga dapat dilakukan stratifikasi risiko dan pengobatan yang tepat pada pasien,” kata Indra Saptiama, Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Teknologi Radioisotop, Radiofarmaka, dan Biodosimetri BRIN, dikutip dari Brin.go.id.

Dalam studinya, peneliti telah melakukan serangkaian tahapan, mulai dari pembuatan nanopartikel sawit, formulasi serbuk pembawa nanopartikel karbon, penandaan Tc-99m pada nanopartikel karbon, dan uji cellular uptake pada sel kanker dan normal paru-paru. Dari semua tahapan ini ditemukan bahwa pada sel kanker terjadi lebih banyak ikatan dengan karbon dibandingkan dengan sel normal.

Indra menjelaskan bahwa hal ini disebabkan oleh komposisi lipid yang lebih besar pada sel kanker. Selain itu, penandaan nanopartikel karbon dengan 99mTc juga berhasil dengan sangat baik, mencapai persentase penandaan sebesar 96,69 persen, dengan kemurnian radiokimia di atas 99 persen.

Di masa depan, Indra berencana untuk melakukan optimasi lebih lanjut guna meningkatkan ukuran partikel karbon dari limbah kelapa sawit. Salah satu metodenya adalah dengan mengoptimalkan parameter pada proses spray-dry.

Selain itu, pihaknya juga akan melakukan pengujian sitotoksisitas in vitro untuk menguji keamanan nanopartikel karbon lebih lanjut untuk dilakukan pengujian pada hewan coba.

Emboli paru merupakan kondisi ketika Emboli atau gumpalan darah menyumbat pembuluh darah di paru-paru. Hal ini dapat mengganggu aliran darah dan oksigen, sehingga menyebabkan gejala serius seperti sesak napas, nyeri dada, atau bahkan kegagalan pernapasan.

Dengan memanfaatkan limbah kelapa sawit sebagai sumber bahan dalam mendeteksi emboli paru, metode ini tidak hanya mencapai pencapaian di bidang kesehatan tetapi juga menciptakan solusi yang ramah lingkungan.

Continue reading

Cara Mudah Mengelola Sampah Organik Dengan Biopori

Sampah organik merupakan salah satu jenis sampah yang paling banyak dihasilkan oleh masyarakat di Indonesia. Sampah organik ini dapat berasal dari sisa makanan, daun-daunan, ranting-ranting, dan sebagainya.Menurut data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), dari 17 juta ton timbulan...

Kreatif dan Ramah Lingkungan: Jam Tangan Estetik ini Terbuat Limbah Kayu

Jika berada di tangan yang tepat, bahkan limbah yang biasanya berakhir di tempat sampah, bisa diubah menjadi sesuatu indah dan bernilai ekonomi.Itulah yang dilakukan oleh Ryssa Putri, wanita berusia 24 tahun asal Blitar. Dia menekuni usaha pembuatan jam tangan...

Masker Bedah Didaur Ulang untuk Hasilkan Gas Kaya Hidrogen

Masker bedah telah menjadi barang yang sangat umum dalam kehidupan sehari-hari kita selama pandemi COVID-19. Meskipun dunia telah berhasil melewati masa kritis ini, limbah masker medis ini masih menjadi masalah bagi lingkungan.Namun, peneliti dari Kaunas University of Technology (KTU)...