Jumat, Juli 12, 2024

Creating liberating content

Investor Surabaya Segera Bangun...

Ambon, Limbahnews.com - Pabrik plastik akan segera dibangun di Toisapu, Kecamatan Leitimur Selatan,...

Danone AQUA-Veolia Bangun Pabrik...

Dokumentasi pencanangan pabrik (Ist)Pasuruan, Limbahnews.com - Pabrik daur ulang botol PET (Polyethylene Terephthalate)...

Angkasa Pura Properti dan...

Medan, Limbahnews.com - PT Angkasa Pura Properti, salah satu anak perusahaan PT Angkasa...

Jepang Ingin Impor Limbah...

Ilustrasi pengolahan limbah sawit (Mikrobios.id)Medan, Limbahnews.com - Jepang tertarik mengimpor limbah dari kelapa...
BerandaLimbahIlmuwan Temukan Cara...

Ilmuwan Temukan Cara Mudah Mengolah Minyak Jelantah Jadi Biofuel

Metode ini memisahkan minyak nabati dan lemak hewan menjadi biofuel dan gliserol

Mengolah minyak jelantah menjadi biofuel telah muncul sebagai solusi untuk mengurangi limbah minyak. Sayangnya, meskipun memiliki potensi besar untuk keberlanjutan, metode pengolahan saat ini cukup rumit dan harus melalui tahapan panjang.

Untuk mengatasi tantangan ini, para peneliti di De Montfort University Leicester (DMU), Inggris, berhasil menemukan cara inovatif untuk mengolah minyak jelantah menjadi biofuel dengan lebih mudah dan cepat.

Caranya adalah dengan menciptakan katalis berbasis jaringan serat baru untuk memisahkan minyak nabati dan lemak hewan menjadi dua komponen utama, yaitu biofuel dan gliserol.

Metode baru ini diklaim memiliki keunggulan dalam mengatasi beberapa masalah yang umumnya muncul dalam metode tradisional.

Dalam produksi tradisional, penggunaan katalis natrium hidroksida dan kalium hidroksida, meskipun murah dan mudah didapatkan, dapat menimbulkan masalah karena keduanya bereaksi dengan asam lemak bebas dalam minyak. Hal ini membentuk sabun yang kemudian mengendap dalam gliserol. Oleh karena itu, ini memerlukan tahapan ekstra untuk menghilangkan sabun tersebut.

Selain itu, katalis oksida logam yang digunakan dalam beberapa metode tradisional berbentuk bubuk dan sulit ditangani. Proses penanganannya melibatkan penyaringan pada akhir proses produksi untuk menghilangkan katalis tersebut dari hasil akhir.

Di lain sisi, katalis berserat, tanpa natrium, yang dikembangkan oleh peneliti di DMU tidak menghasilkan sabun. Ini memiliki luas permukaan yang besar, dapat bekerja terus menerus, dan dapat diregenerasi untuk penggunaan berulang.

Metode ini membuat waktu produksi cepat dan dapat digunakan pada suhu yang lebih rendah, sehingga prosesnya lebih hemat energi.

Ini berarti bahwa biofuel dari minyak jelantah dapat diproduksi dalam jumlah yang lebih besar, dengan potensi penerapan langsung di banyak industri. Selain itu, gliserol juga dapat digunakan untuk berbagai tujuan dalam industri makanan, obat-obatan, kosmetik, dan bahan kemasan.

Penelitian ini diterbitkan di jurnal Energy Advances.

Continue reading

Cara Mudah Mengelola Sampah Organik Dengan Biopori

Sampah organik merupakan salah satu jenis sampah yang paling banyak dihasilkan oleh masyarakat di Indonesia. Sampah organik ini dapat berasal dari sisa makanan, daun-daunan, ranting-ranting, dan sebagainya.Menurut data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), dari 17 juta ton timbulan...

Kreatif dan Ramah Lingkungan: Jam Tangan Estetik ini Terbuat Limbah Kayu

Jika berada di tangan yang tepat, bahkan limbah yang biasanya berakhir di tempat sampah, bisa diubah menjadi sesuatu indah dan bernilai ekonomi.Itulah yang dilakukan oleh Ryssa Putri, wanita berusia 24 tahun asal Blitar. Dia menekuni usaha pembuatan jam tangan...

Masker Bedah Didaur Ulang untuk Hasilkan Gas Kaya Hidrogen

Masker bedah telah menjadi barang yang sangat umum dalam kehidupan sehari-hari kita selama pandemi COVID-19. Meskipun dunia telah berhasil melewati masa kritis ini, limbah masker medis ini masih menjadi masalah bagi lingkungan.Namun, peneliti dari Kaunas University of Technology (KTU)...