Kamis, Juli 11, 2024

Creating liberating content

Botol PET Wajib Pakai...

Jakarta, Limbahnews.com - Asosiasi Industri Air Minum Dalam Kemasan (Aspadin) menyatakan kewajiban menggunakan...

Waspadai Harga Plastik di...

Kapal khusus memuat limbah plastik dari lautan. (Ist)Jakarta, Limbahnews.com - Ada sedikit cahaya...

Potensi Pasar Masih Besar,...

German - Indonesian Forum on Potential Cooperation in Indonesia's Recycling Sector (Econid)Jakarta, Limbahnews.com...

Imbas Corona, Industri Daur...

Ilustrasi sampah plastik impor (Artalab.id)Jakarta, Limbahnews.com - Pengusaha Jawa Timur (Jatim) mulai...
BerandaLimbahRumah Anti Gempa...

Rumah Anti Gempa ini Dibuat dari Limbah Pembakaran Batu Bara PLTU

Rumah anti gempa dari bahan FABA, dijuluki Rumah Bangunan Instan Modular Sederhana (Bima)

Limbah fly ash dan bottom ash (FABA) dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) ternyata bisa dimanfaatkan untuk membangun rumah anti gempa yang ramah lingkungan.

FABA adalah partikel halus (debu) yang dihasilkan dari pembakaran batu bara di PLTU. Fly Ash merupakan debu yang naik dan terbang, sementara bottom ash adalah abu yang jatuh ke dasar tungku pembakaran.

Berdasarkan peraturan Pemerintah (PP) Nomor 22 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, FABA tidak termasuk limbah B3 (beracun), melainkan non-B3.

Meski demikian, FABA bisa menyebabkan pencemaran tanah dan air jika tidak dikelola dengan baik. Selain itu, manusia yang terpapar partikel halus fly ash bisa menyebabkan masalah kesehatan, terutama pada saluran pernapasan.

Rumah Anti Gempa dari FABA

Salah satu cara mengelola FABA adalah menggunakannya sebagai bahan bagunan. Itulah yang dilakukan oleh ahli dari Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya (PPNS) dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).

Mereka berkolaborasi untuk menciptakan inovasi rumah anti gempa, yang mereka juluki Rumah Bangunan Instan Modular Sederhana (Bima). Rumah ini berdiri kokoh di Desa Sumberejo, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur.

Wiwik Dwi Pratiwi, seorang Dosen S2 Teknik Keselamatan dan Risiko di PPNS, menjelaskan bahwa FABA memiliki potensi untuk berperan sebagai pengganti semen dan pasir. Sebagai contoh, dalam pembangunan dinding bangunan, sebagian besar bahan yang digunakan adalah fly ash.

“Penggunaan FABA ini secara tidak langsung juga lebih ramah lingkungan,” kata Wiwik, seperti dikutip dari situs web Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi.

Wiwik menambahkan bahwa inovasi ini tidak hanya menyelesaikan masalah lingkungan, tapi juga menguntungkan dari segi ekonomi. Itu karena bahan ini bisa menghemat biaya hingga 50%.

Selain itu, beton dan modul dinding yang terbuat dari FABA sudah memenuhi persyaratan Standar Nasional Indonesia (SNI). Bahkan, rumah tahan gempa ini telah melalui berbagai uji kelayakan sesuai dengan ketentuan SNI.

Fenny Nurhayati, Vice President Corporate Communication and CSR PLN Nusantara Power, memuji pengembangan produk olahan dari FABA ini. Ia mengatakan bahwa itu bisa membuka peluang pendapatan baru bagi masyarakat secara ekonomi. Selain itu, upaya tersebut telah disertai dengan pelatihan bisnis, praktik, pengolahan, dan pelatihan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3).

Continue reading

Cara Mudah Mengelola Sampah Organik Dengan Biopori

Sampah organik merupakan salah satu jenis sampah yang paling banyak dihasilkan oleh masyarakat di Indonesia. Sampah organik ini dapat berasal dari sisa makanan, daun-daunan, ranting-ranting, dan sebagainya.Menurut data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), dari 17 juta ton timbulan...

Kreatif dan Ramah Lingkungan: Jam Tangan Estetik ini Terbuat Limbah Kayu

Jika berada di tangan yang tepat, bahkan limbah yang biasanya berakhir di tempat sampah, bisa diubah menjadi sesuatu indah dan bernilai ekonomi.Itulah yang dilakukan oleh Ryssa Putri, wanita berusia 24 tahun asal Blitar. Dia menekuni usaha pembuatan jam tangan...

Masker Bedah Didaur Ulang untuk Hasilkan Gas Kaya Hidrogen

Masker bedah telah menjadi barang yang sangat umum dalam kehidupan sehari-hari kita selama pandemi COVID-19. Meskipun dunia telah berhasil melewati masa kritis ini, limbah masker medis ini masih menjadi masalah bagi lingkungan.Namun, peneliti dari Kaunas University of Technology (KTU)...