Kamis, Juli 25, 2024

Creating liberating content

Garap Investasi, NTB Bakal...

Mataram, Limbahnews.com - Organisasi nirlaba Classroom of Hope bertemu Wakil Gubernur NTB Sitti...

Danone AQUA-Veolia Bangun Pabrik...

Dokumentasi pencanangan pabrik (Ist)Pasuruan, Limbahnews.com - Pabrik daur ulang botol PET (Polyethylene Terephthalate)...

Terkait Amdal dan Limbah,...

Jakarta, Limbahnews.com - PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) berkomitmen ikut berkontribusi mengurangi...

Daur Ulang 14,5 Juta...

Gideon W KetarenJakarta, Limbahnews.com – Aplikasi pengelolaan sampah, Mountrash.com, terus meningkatkan kinerjanya dalam...
BerandaLimbahJemaat Gereja di...

Jemaat Gereja di Pati Buat Pohon Natal dari Limbah Bambu

Seiring dengan meningkatkan kesadaran terhadap lingkungan, banyak orang mulai mencari alternatif Pohon Natal ramah lingkungan.

Pohon Natal merupakan salah satu simbol paling ikonik dalam perayaan Natal di seluruh dunia. Jenis pohon yang digunakan adalah cemara, tapi saat ini mulai digantikan dengan pohon berbahan plastik.

Tapi, baik itu pohon asli maupun plastik, keduanya menimbulkan efek negatif bagi lingkungan. Penebangan pohon untuk dijadikan pohon Natal dapat menyebabkan deforestasi, yang dapat mengakibatkan kehilangan habitat bagi banyak spesies tumbuhan dan hewan.

Sementara itu, produksi pohon Natal plastik menggunakan bahan-bahan kimia dan energi yang tinggi. Pohon berbahan plastik juga dapat mencemari lingkungan ketika dibuang dan memerlukan waktu bertahun-tahun untuk terurai. Faktanya, studi di Inggris menemukan bahwa 160.000 ton pohon Natal dibuang setiap Januari, menurut Businesswaste.co.uk.

Pohon Natal dari Limbah Bambu

Seiring dengan meningkatkan kesadaran terhadap lingkungan, banyak orang mulai mencari alternatif Pohon Natal ramah lingkungan. Salah satu contohnya, memanfaatkan bahan-bahan daur ulang.

Inilah yang dilakukan oleh seorang jemaat Gereja Injil di Tanah Jawa (GITJ) di Juwana, Pati, bernama Kusmanto. Pria berusia 60 tahun ini membuat pohon Natal dari limbah bambu bangunan.

Bambu tersebut dipotong-potong menjadi 45 bagian, kemudian disusun menyerupai pohon. Bagian bawahnya terlihat lebih lebar, dan semakin ke atas semakin mengerucut. Ada juga potongan bambu berbentuk bintang yang diletakkan di puncak pohon.

Pohon Natal tersebut berdiri setinggi tujuh meter. Ini juga dihias dengan berbagai dekorasi Natal, layaknya pohon Natal pada umumnya.

Foto: Radar Kudus

Dikutip dari Radar Kudus, Kusmanto mengaku mendapatkan ide unik tersebut ketika melihat ada banyak limbah bambu di sekitar gereja.

Dia menambahkan bahwa pohon Natal tersebut melambangkan kesederhanaan. Selain itu, ini sangat hemat biaya, karena dia tidak perlu mengeluarkan dana sama sekali.

Menariknya, dia tidak butuh waktu lama untuk menyusun struktur tersebut. ”Hanya sekitar satu minggu sudah jadi kerangkanya. Tapi ini belum selesai sepenuhnya, karena masih akan dipasangi ornamen dari tampah,” kata Kusmanto.

Sementara itu, Pendeta GITJ Juwana Ponco Hadi Prasetyo mengapresiasi ide dan karya Kusmanto. Dia mengatakan bahwa itu merupakan pohon Natal berbahan bambu pertama di lingkungan gereja. Pada tahun tahun sebelumnya, mereka hanya menggunakan Pohon berbahan plastik.

Dengan kehadiran pohon Natal ramah lingkungan tersebut, dia berharap agar jemaat gereja lainnya termotivasi untuk memanfaatkan limbah dan melestarikan lingkungan.

Continue reading

Cara Mudah Mengelola Sampah Organik Dengan Biopori

Sampah organik merupakan salah satu jenis sampah yang paling banyak dihasilkan oleh masyarakat di Indonesia. Sampah organik ini dapat berasal dari sisa makanan, daun-daunan, ranting-ranting, dan sebagainya.Menurut data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), dari 17 juta ton timbulan...

Kreatif dan Ramah Lingkungan: Jam Tangan Estetik ini Terbuat Limbah Kayu

Jika berada di tangan yang tepat, bahkan limbah yang biasanya berakhir di tempat sampah, bisa diubah menjadi sesuatu indah dan bernilai ekonomi.Itulah yang dilakukan oleh Ryssa Putri, wanita berusia 24 tahun asal Blitar. Dia menekuni usaha pembuatan jam tangan...

Masker Bedah Didaur Ulang untuk Hasilkan Gas Kaya Hidrogen

Masker bedah telah menjadi barang yang sangat umum dalam kehidupan sehari-hari kita selama pandemi COVID-19. Meskipun dunia telah berhasil melewati masa kritis ini, limbah masker medis ini masih menjadi masalah bagi lingkungan.Namun, peneliti dari Kaunas University of Technology (KTU)...