Jumat, Juli 12, 2024

Creating liberating content

Adhi Karya Bidik Pendapatan...

Jakarta, Limbahnews.com - PT Adhi Karya Tbk (ADHI) mengincar pendapatan berulang atau recurring...

Raksasa Rebutan Bahan Baku...

Jakarta, Limbahnews.com – Upaya mengolah sampah plastik terus berkembang. Produsen air minum dalam...

Daur Ulang 14,5 Juta...

Gideon W KetarenJakarta, Limbahnews.com – Aplikasi pengelolaan sampah, Mountrash.com, terus meningkatkan kinerjanya dalam...

DKI Jakarta Larang Kantong...

Ilustrasi sampah plastik di TPS Sunter Koja, Jakarta. (Ist)Jakarta, Limbahnews – Bebeharapa hari...
BerandaLimbahApakah Membakar Daun...

Apakah Membakar Daun Kering Buruk Bagi Lingkungan?

Membakar daun dapat menimbulkan efek negatif bagi lingkungan, karena menyebabkan polusi udara

Siapa pun yang memiliki tanaman di pekarangan rumah, pasti menyadari betapa merepotkannya dedaunan yang berguguran setiap hari. Untuk membereskan masalah ini, beberapa orang mungkin memilih untuk membakarnya. Tapi, apakah langkah ini sudah tepat? Sayangnya tidak.

Efek Negatif Membakar Daun

Membakar daun dapat menimbulkan efek negatif bagi lingkungan, karena menyebabkan polusi udara. Proses ini akan menghasilkan gas-gas beracun seperti karbon monoksida, nitrogen oksida, sulfur dioksida, dan senyawa organik volatil. Dikutip dari Conserve-energy-future.com, asap dari pembakaran daun bisa sama berbahayanya dengan asap rokok.

Polusi udara yang ditimbulkan oleh pembakaran daun dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan seperti gangguan pernapasan, bahkan kanker paru-paru.

Selain itu, membakar daun akan mengiritasi mata, hidung dan tenggorokan. Ini bahkan lebih berbahaya bagi anak-anak, orang tua dan penderita asma atau penyakit paru-paru lainnya.

Membakar daun juga dapat berkontribusi pada polusi tanah. Abu hasil pembakaran daun mengandung berbagai zat kimia yang dapat mencemari tanah. Selain itu, membakar daun kering di atas tanah dapat menyebabkan perubahan struktur mineral tanah karena suhu api yang tinggi.

Ketika struktur tanah rusak oleh api, itu akan menyebabkan ketergantungan pada pupuk kimia, yang selanjutnya akan mencemari tanah dan badan air di sekitarnya. 

Selain polusi udara dan tanah, membakar daun juga bisa menimbulkan ancaman bagi tanaman. Api yang berkobar dari pembakaran daun bisa melukai bagian tanaman atau seluruh tanaman. 

Dalam skenario terburuk, api bisa menyebar dan menyebabkan kebakaran rumah dan hutan, yang bisa menimbulkan kerugian signifikan. kebakaran bisa mengganggu transportasi, layanan listrik, dan pasokan air. Ini juga akan menyebabkan penurunan kualitas udara, dan hilangnya harta benda, tanaman, sumber daya, hewan, dan bahkan nyawa manusia.

Selain itu, kebakaran juga melepaskan banyak karbon dioksida, karbon monoksida dan partikel halus ke atmosfer, sehingga bisa menyebabkan masalah cuaca dan iklim, melalui perubahan iklim.

Alternatif Membakar Daun

Cara terbaik untuk menangani sampah daun adalah dengan memasukkannya ke dalam kompos. Proses ini tidak menghasilkan polusi udara, air atau tanah seperti pembakaran. Dan yang lebih penting, pengomposan akan menghasilkan pupuk alami yang kaya akan nutrisi, sehingga bisa meningkatkan kesuburan tanah, dan mendukung pertumbuhan tanaman.

Selain itu, kamu juga bisa memanfaatkan daun sebagai mulsa alami di kebun. Karena daun merupakan bahan organik, maka mereka akan membusuk secara alami dan memperbaiki struktur tanah. Dianjurkan untuk mencabik-cabik daun terlebih dahulu jika kamu berencana menggunakannya untuk mulsa.

Continue reading

Cara Mudah Mengelola Sampah Organik Dengan Biopori

Sampah organik merupakan salah satu jenis sampah yang paling banyak dihasilkan oleh masyarakat di Indonesia. Sampah organik ini dapat berasal dari sisa makanan, daun-daunan, ranting-ranting, dan sebagainya.Menurut data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), dari 17 juta ton timbulan...

Kreatif dan Ramah Lingkungan: Jam Tangan Estetik ini Terbuat Limbah Kayu

Jika berada di tangan yang tepat, bahkan limbah yang biasanya berakhir di tempat sampah, bisa diubah menjadi sesuatu indah dan bernilai ekonomi.Itulah yang dilakukan oleh Ryssa Putri, wanita berusia 24 tahun asal Blitar. Dia menekuni usaha pembuatan jam tangan...

Masker Bedah Didaur Ulang untuk Hasilkan Gas Kaya Hidrogen

Masker bedah telah menjadi barang yang sangat umum dalam kehidupan sehari-hari kita selama pandemi COVID-19. Meskipun dunia telah berhasil melewati masa kritis ini, limbah masker medis ini masih menjadi masalah bagi lingkungan.Namun, peneliti dari Kaunas University of Technology (KTU)...