Kamis, Juli 11, 2024

Creating liberating content

Indonesia Buang Makanan Rp...

Bogor, Limbahnews.com - Konsumsi makanan yang melebihi angka produksi memunculkan banyak permasalahan, mulai...

Indonesia Luncurkan Bursa Karbon,...

Pemerintah Indonesia secara resmi meluncurkan Bursa Karbon pada hari Selasa lalu (26/9/23) ....

Jepang Ingin Impor Limbah...

Ilustrasi pengolahan limbah sawit (Mikrobios.id)Medan, Limbahnews.com - Jepang tertarik mengimpor limbah dari kelapa...

PD PAL Minta Dana...

Jakarta, Limbahnews.com - Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta Abdurrahman Suhaimi mengkritisi permintaan anggaran...
BerandaWorldTembok Besar Tiongkok...

Tembok Besar Tiongkok Ternyata Terlindungi dari Erosi Berkat Lapisan Lumut

Bahan-bahan alami yang digunakan untuk membangun Tembok Besar, menumbuhkan "plesteran alami" yang melindunginya dari erosi.

Sebuah penelitian baru menemukan mengapa sebagian besar Tembok Besar Tiongkok, yang sudah berusia lebih 2.000 tahun, masih terpelihara dengan baik.

Para peneliti dari China Agricultural University di Beijing menemukan bahwa bahan-bahan alami yang digunakan untuk membangun Tembok Besar, menumbuhkan “plesteran alami” yang melindunginya dari erosi. Plesteran yang dimaksud adalah biocrusts, yaitu lapisan lumut, cyanobacteria (mikroorganisme yang mampu melakukan fotosintesis), dan organisme lain yang tumbuh di permukaan tanah.

Ketika tembok wilayah Ming dibangun antara tahun 1368 SM hingga 1644 SM, para pekerja menggunakan bahan bahan alami seperti tanah yang dipadatkan dan kerikil. Meskipun bahan-bahan ini mungkin lebih rentan terhadap erosi dibandingkan bahan lain, namun, bahan-bahan ini membantu mendorong pertumbuhan biocrusts.

“Para pembangun zaman dahulu tahu bahan mana yang bisa membuat struktur lebih stabil,” kata peneliti, profesor Bo Xiao, dikutip dari Live Science.

Untuk mencapai kesimpulan ini, para peneliti mengambil sampel dari delapan bagian dinding Tembok Besar yang dibangun pada masa Dinasti Ming dan menemukan bahwa 67 persennya mengandung biocrust

Mereka kemudian membandingkan kekuatan mekanik dan stabilitas tanah dari sampel biocrust dengan sampel yang hanya berupa tanah biasa.

Hasilnya, peneliti menemukan bahwa sampel biocrust kadang-kadang tiga kali lebih kuat dibandingkan sampel tanah biasa. Itu karena cyanobacteria dan organisme lain di dalam biocrust mengeluarkan zat, seperti polimer, yang akan mengikat partikel-partikel tanah dengan erat, sehingga membantu memperkuat stabilitas struktural tembok. Pada dasarnya, biocrust menciptakan perekat seperti semen, yang membantu menahan dampak iklim, seperti angin, hujan, dan perubahan suhu.

“Dibandingkan dengan tanah biasa, bagian yang ditutupi kerak bio menunjukkan penurunan porositas, kapasitas menahan air, erodibilitas, dan salinitas sebesar 2 hingga 48%, sekaligus meningkatkan kekuatan tekan, ketahanan penetrasi, kekuatan geser, dan stabilitas agregat sebesar 37 hingga 321%,” tulis peneliti dalam makalahnya.

Namun, peneliti menemukan bahwa hasil tersebut bergantung pada komposisi biocrust dan iklim di wilayah tempat sampel diambil. Di daerah kering, misalnya, cyanobacteria merupakan kelompok dominan dalam biocrust, sedangkan lumut cenderung tumbuh paling subur di lingkungan basah dan semi-kering.

Para peneliti menemukan bahwa kerak yang didominasi lumut lah yang paling meningkatkan kekuatan dan stabilitas dinding, serta mengurangi erosibilitasnya.

Pada akhirnya, peneliti menyimpulkan bahwa “Biocrust berfungsi sebagai stabilisator, konsolidator, lapisan pelindung, dan atap drainase, menggabungkan fungsi perlindungan dari beberapa tindakan konvensional menjadi satu pendekatan ramah lingkungan.”

Hasil temuan ini diterbitkan di jurnal Science Advances pada 8 Desember.

Continue reading

Cara Mudah Mengelola Sampah Organik Dengan Biopori

Sampah organik merupakan salah satu jenis sampah yang paling banyak dihasilkan oleh masyarakat di Indonesia. Sampah organik ini dapat berasal dari sisa makanan, daun-daunan, ranting-ranting, dan sebagainya.Menurut data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), dari 17 juta ton timbulan...

Kreatif dan Ramah Lingkungan: Jam Tangan Estetik ini Terbuat Limbah Kayu

Jika berada di tangan yang tepat, bahkan limbah yang biasanya berakhir di tempat sampah, bisa diubah menjadi sesuatu indah dan bernilai ekonomi.Itulah yang dilakukan oleh Ryssa Putri, wanita berusia 24 tahun asal Blitar. Dia menekuni usaha pembuatan jam tangan...

Masker Bedah Didaur Ulang untuk Hasilkan Gas Kaya Hidrogen

Masker bedah telah menjadi barang yang sangat umum dalam kehidupan sehari-hari kita selama pandemi COVID-19. Meskipun dunia telah berhasil melewati masa kritis ini, limbah masker medis ini masih menjadi masalah bagi lingkungan.Namun, peneliti dari Kaunas University of Technology (KTU)...