Kamis, Juli 11, 2024

Creating liberating content

Coca-Cola Bangun Pabrik Daur...

Jakarta, Limbahnews.com - Coca-Cola Amatil Indonesia (Amatil Indonesia) dan Dynapack Asia melakukan pembangunan...

Indonesia Luncurkan Bursa Karbon,...

Pemerintah Indonesia secara resmi meluncurkan Bursa Karbon pada hari Selasa lalu (26/9/23) ....

Tangani Limbah Corona, PT...

Jakarta, Limbahnews.com - Penanganan limbah medis terkait wabah corona (Covid-19) oleh PT Jasa...

Bank Dunia Soal Daur...

Jakarta. Limbahnews.com - Negara-negara Asia Tenggara merugi sebanyak US$ 6 miliar atau Rp...
BerandaWorldPentingnya Carbon Sinks...

Pentingnya Carbon Sinks Dalam Mengendalikan Perubahan Iklim Global

Tanah, laut, dan hutan tropis adalah contoh carbon sinks yang secara alamiah mengatur kadar CO2 di atmosfer.

Perubahan iklim global menjadi ancaman nyata bagi kelangsungan hidup planet kita. Faktanya, saat ini terdapat lebih banyak karbon dioksida di atmosfer dibandingkan masa-masa sebelumnya.

Pada tahun 2022, konsentrasi karbon dioksida (CO2) di seluruh dunia mencapai sekitar 417,06 ppm. Ini lebih tinggi dari tingkat awal sebelum banyak pabrik dan mesin diciptakan, yang hanya sekitar 278 ppm. Ini berarti bahwa konsentrasi CO2 di atmosfer telah meningkat hampir dua kali lipat dibandingkan periode antara tahun 1750-1800.

Salah satu elemen kunci dalam menjaga keseimbangan iklim adalah carbon sinks atau penyerapan karbon alami.

Carbon Sinks: Penyaring Karbon di Atmosfer

Carbon sinks adalah ekosistem atau formasi geologi yang memiliki kapasitas besar untuk menyerap dan menyimpan karbon dioksida (CO2) dari atmosfer. Tanah, laut, dan hutan tropis adalah contoh carbon sinks yang secara alamiah mengatur kadar CO2 di atmosfer.

Tanah

Dikutip dari conserve-energy-future.com, tanah merupakan penyimpan utama karbon jangka pendek hingga jangka panjang dibandingkan dengan seluruh hutan Amazon dan atmosfer. Tanah dapat menyimpan karbon selama berabad-abad, sedangkan ketika tanaman mati, karbon yang tersimpan di dalamnya akan dilepaskan kembali.

Proses penyerapan CO2 oleh tanah terjadi terjadi melalui berbagai mekanisme dan interaksi antara tanah, tanaman, dan mikroorganisme tanah. 

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO), penyerapan karbon tanah adalah salah satu strategi yang paling menguntungkan secara ekonomi untuk menurunkan tingkat CO2 di atmosfer.

Laut

Penyerap karbon terbesar di dunia adalah lautan. Laut mengambil lebih dari 25 persen karbon dioksida yang dilepaskan manusia ke atmosfer. Penyerap CO2 di laut adalah fitoplankton, lamun dan ganggang, serta proses pembentukan cangkang dan kerangka oleh organisme laut, seperti terumbu karang dan moluska.

Hutan

Selain menjadi harta karun alam dengan keanekaragaman hayati yang luar biasa, hutan juga berfungsi sebagai carbon sinks yang memiliki dampak besar dalam menjaga keseimbangan karbon di atmosfer.

Proses ini terjadi melalui beberapa mekanisme utama dalam ekosistem hutan. Pertama, pohon dan tumbuhan di hutan melakukan fotosintesis, yaitu mengubah karbon dioksida (CO2) dari udara menjadi karbohidrat dan senyawa organik lainnya, sementara oksigen dilepaskan ke atmosfer. Karbon yang dihasilkan dari fotosintesis disimpan dalam kayu, daun, dan akar tanaman.

Selanjutnya, hutan juga berperan dalam siklus karbon yang melibatkan proses pelapukan dan dekomposisi bahan organik. Saat dedaunan dan ranting yang mati jatuh ke tanah, mikroorganisme di tanah memecah bahan organik tersebut, melepaskan karbon dioksida dan nutrien ke dalam tanah. Sebagian karbon dioksida yang dihasilkan selama proses dekomposisi tetap terperangkap dalam tanah dalam bentuk bahan organik atau humus.

Hutan hujan tropis, yang memiliki produktivitas fotosintesis tinggi, dapat menyimpan jumlah karbon yang sangat besar.

Bagaimana Penyerapan Karbon Memengaruhi Iklim?

Proses penyerapan karbon, terutama oleh tumbuhan melalui fotosintesis, membantu mengurangi konsentrasi karbon dioksida (CO2) di atmosfer. CO2 adalah salah satu gas rumah kaca utama yang menyebabkan pemanasan global.

Dengan mengurangi jumlah CO2 di atmosfer, penyerapan karbon berkontribusi secara langsung pada mitigasi perubahan iklim. Selain itu, proses fotosintesis tidak hanya mengurangi kadar CO2, tetapi juga menghasilkan oksigen.

Continue reading

Cara Mudah Mengelola Sampah Organik Dengan Biopori

Sampah organik merupakan salah satu jenis sampah yang paling banyak dihasilkan oleh masyarakat di Indonesia. Sampah organik ini dapat berasal dari sisa makanan, daun-daunan, ranting-ranting, dan sebagainya.Menurut data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), dari 17 juta ton timbulan...

Kreatif dan Ramah Lingkungan: Jam Tangan Estetik ini Terbuat Limbah Kayu

Jika berada di tangan yang tepat, bahkan limbah yang biasanya berakhir di tempat sampah, bisa diubah menjadi sesuatu indah dan bernilai ekonomi.Itulah yang dilakukan oleh Ryssa Putri, wanita berusia 24 tahun asal Blitar. Dia menekuni usaha pembuatan jam tangan...

Masker Bedah Didaur Ulang untuk Hasilkan Gas Kaya Hidrogen

Masker bedah telah menjadi barang yang sangat umum dalam kehidupan sehari-hari kita selama pandemi COVID-19. Meskipun dunia telah berhasil melewati masa kritis ini, limbah masker medis ini masih menjadi masalah bagi lingkungan.Namun, peneliti dari Kaunas University of Technology (KTU)...