Kamis, Juli 25, 2024

Creating liberating content

Botol PET Wajib Pakai...

Jakarta, Limbahnews.com - Asosiasi Industri Air Minum Dalam Kemasan (Aspadin) menyatakan kewajiban menggunakan...

Ancaman Investasi Kabur Usai...

Jakarta, Limbahnews.com -- Sejumlah pengamat melihat ancaman hambatan investasi masuk ke Indonesia melalui...

Imbas Corona, Industri Daur...

Ilustrasi sampah plastik impor (Artalab.id)Jakarta, Limbahnews.com - Pengusaha Jawa Timur (Jatim) mulai...

DKI Jakarta Larang Kantong...

Ilustrasi sampah plastik di TPS Sunter Koja, Jakarta. (Ist)Jakarta, Limbahnews – Bebeharapa hari...
BerandaTeknologiApakah AI Dapat...

Apakah AI Dapat Membantu Mengatasi Krisis Iklim?

AI dapat membantu kita memahami perubahan iklim dan dampaknya terhadap ekosistem bumi

Kecerdasan Buatan (AI) telah dimanfaatkan dalam berbagai sektor, mulai dari teknologi, kesehatan, keuangan, pendidikan, hingga manufaktur dan otomotif. Tapi, apakah inovasi baru ini juga bisa membantu mengatasi masalah iklim? Jawabannya tentu saja bisa.

“AI dapat membantu kita memahami perubahan iklim dan dampaknya terhadap ekosistem bumi,” kata Pimpinan Aksi Iklim DeepMind, Sims Witherspoon dalam konferensi Wired Impact Conference di London, yang berfokus pada keberlanjutan dan tata kelola lingkungan, sosial, dan perusahaan (ESG). DeepMind adalah perusahaan kecerdasan buatan milik Google. 

“Saya memandang perubahan iklim sebagai tantangan ilmiah,” tambah Witherspoon, dikutip dari Decrypt.co.

Witherspoon mengusulkan rencana tiga langkah untuk mengatasi perubahan iklim menggunakan AI, dengan kerangka kerja “Memahami, Optimalkan, Mempercepat.”

Ini melibatkan berbicaralah dengan pihak-pihak yang mengalami masalah ini, dalam hal ini, perubahan iklim. Selanjutnya, tentukan apakah AI dapat diterapkan pada masalah tersebut dan, jika ya, temukan solusi AI. Terakhir, fokus pada jalur menuju penerapan dan dampak.

Lebih lanjut, Witherspoon mengatakan bahwa AI  dapat membantu kita dengan terobosan ilmu pengetahuan dan teknologi yang kita perlukan untuk masa depan yang lebih berkelanjutan.

Meski demikian, Witherspoon menekankan perlunya upaya kolektif, dari akademisi, kelompok regulator, perusahaan, organisasi non-pemerintah (LSM), dan masyarakat yang terkena dampak.

AI Bukan Obat Mujarab

Meskipun Witherspoon mengatakan bahwa AI dapat berperan dalam mengatasi perubahan iklim, ia juga memperingatkan bahwam

“AI bukanlah obat mujarab,” katanya. “Penting untuk dikatakan bahwa AI tidak akan menyelesaikan semua tantangan yang mendorong krisis iklim, ini bahkan bukan alat yang tepat untuk mengatasi banyak tantangan yang kita hadapi,” tambahnya.

“AI juga perlu diterapkan dengan aman dan bertanggung jawab,” lanjutnya. “Belum lagi, sampai jaringan listrik kita dijalankan dengan energi bebas karbon, setiap teknologi intensif energi akan membawa jejak karbon, dan itu termasuk kecerdasan buatan.”

“Terkadang solusi yang lebih sederhana lebih baik daripada solusi berteknologi tinggi,” papar Witherspoon.

Continue reading

Cara Mudah Mengelola Sampah Organik Dengan Biopori

Sampah organik merupakan salah satu jenis sampah yang paling banyak dihasilkan oleh masyarakat di Indonesia. Sampah organik ini dapat berasal dari sisa makanan, daun-daunan, ranting-ranting, dan sebagainya.Menurut data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), dari 17 juta ton timbulan...

Kreatif dan Ramah Lingkungan: Jam Tangan Estetik ini Terbuat Limbah Kayu

Jika berada di tangan yang tepat, bahkan limbah yang biasanya berakhir di tempat sampah, bisa diubah menjadi sesuatu indah dan bernilai ekonomi.Itulah yang dilakukan oleh Ryssa Putri, wanita berusia 24 tahun asal Blitar. Dia menekuni usaha pembuatan jam tangan...

Masker Bedah Didaur Ulang untuk Hasilkan Gas Kaya Hidrogen

Masker bedah telah menjadi barang yang sangat umum dalam kehidupan sehari-hari kita selama pandemi COVID-19. Meskipun dunia telah berhasil melewati masa kritis ini, limbah masker medis ini masih menjadi masalah bagi lingkungan.Namun, peneliti dari Kaunas University of Technology (KTU)...