Minggu, Juli 21, 2024

Creating liberating content

Setelah Covid-19, Ekonomi Indonesia...

Limbahnews.com - Kita semua sedang dilanda kecemasan atas wabah Coronavirus of Disease 2019...

Naksir Pengolahan Limbah Tambang,...

Ilustrasi pemulihan lahan bekas tambang (Mikrobios.id)Jakarta, Limbahnews.com - PT PP Presisi Tbk (PPRE)...

Circulate Capital Luncurkan Pendanaan...

Mountrash membangun kemitraan dalam pengelolaan sampah plastik di Indonesia.Jakarta, Limbahnews.com - Circulate Capital...

Waspadai Harga Plastik di...

Kapal khusus memuat limbah plastik dari lautan. (Ist)Jakarta, Limbahnews.com - Ada sedikit cahaya...
BerandaMake-up7 Bahan Skincare...

7 Bahan Skincare yang Berbahaya bagi Lingkungan

Beberapa bahan-bahan dalam produk kecantikan dapat berdampak buruk terhadap lingkungan

Skincare sudah menjadi kebutuh penting oleh sebagian orang, terutama wanita. Ini sangat penting untuk menjaga kesehatan dan kecantikan kulit. Namun, di balik manfaat ini, tersembunyi sisi negatif, yaitu beberapa bahan-bahan dalam produk kecantikan dapat berdampak buruk terhadap lingkungan. Efeknya termasuk merusak pada terumbu, berbahaya bagi ganggang dan mamalia laut, bahkan dapat menyebabkan kepunuhan spesies.

Untuk lebih jelasnya, mari kita lihat bahan skincare apa saja yang dapat menimbulkan dampak buruk bagi lingkungan:

Polyethylene

Banyak produk exfoliating menggunakan bahan plastik polyethylene. Bahan ini dapat mencemari sungai dan danau. Selain untuk produk pembersih tubuh dan wajah, bahan ini juga dapat ditemukan di pasta gigi, tabir surya, lip gloss, eyeliner, sampo, deodoran, dan sabun.

BHA dan BHT

Ini adalah bahan pengawet yang sering digunakan dalam pelembab dan riasan. Menurut Cvskinlabs.com, kedua bahan ini telah dikaitkan dengan potensi kerusakan lingkungan. BHA terdaftar sebagai bahan kimia yang berpotensi menimbulkan kekhawatiran oleh Konvensi Perlindungan Lingkungan Laut Atlantik Timur Laut, karena kecenderungannya untuk terakumulasi secara biologis dan karena beracun bagi organisme akuatik.

Selain itu, penelitian telah menemukan bahwa BHA dapat menyebabkan mutasi genetik pada amfibi. BHT juga memiliki potensi bioakumulasi sedang hingga tinggi pada spesies perairan.

Dibutyl Phthalate (DBP)

DBP sering ditemukan pada cat kuku agar tidak mudah rapuh. Bahan ini juga sangat beracun bagi kehidupan akuatik. Ini terakumulasi di lingkungan dan telah dikaitkan dengan masalah pada ikan, termasuk perubahan perilaku, genetika, pertumbuhan dan perkembangan.

Triclosan

Triclosan digunakan pada sebagian besar produk antibakteri seperti pembersih tangan, deodoran, dan deterjen. Ini dapat menyebabkan organisme resisten terhadap antibiotik, yang meningkatkan risiko infeksi mematikan.

Selain itu, bahan ini tidak cepat terurai, cenderung terakumulasi di lingkungan, dan bereaksi dengan bahan kimia lain di saluran air sehingga membentuk dioksin yang bersifat racun.

Uni Eropa menyatakan bahwa bahan ini berpotensi menimbulkan dampak buruk jangka panjang terhadap lingkungan perairan. 

Wewangian Sintetis

Wewangian sintetis biasanya ditambahkan ke parfum, sampo, sabun, pembersih, krim, pelembab, tabir surya, dan banyak lagi. Menurut sebuah penelitian tahun 2005, bahan-bahan ini terbukti berbahaya bagi lingkungan laut.

National Geographic melaporkan bahwa bahan ini mengganggu mekanisme pertahanan sel yang biasanya mencegah racun memasuki sel. Artinya, meskipun bahan-bahan tersebut tidak membahayakan organisme, bahan-bahan tersebut dapat mengurangi kemampuan organisme untuk melindungi dirinya dari racun lain.

Oxybenzone 

Penelitian telah melaporkan bahwa tabir surya kimia seperti oxybenzone beracun bagi karang dan berkontribusi terhadap penurunan terumbu karang di seluruh dunia.

Siloxanes (Silikon)

Siloxanes, yang digunakan dalam produk anti-penuaan, krim, losion, riasan, dan produk perawatan rambut, dapat meresap ke dalam lingkungan kita. Pada tahun 2005, Institut Penelitian Udara Norwegia dan Institut Penelitian Lingkungan Swedia melaporkan bahwa siloksan tingkat tinggi ditemukan dalam sampel yang diambil dari beberapa lokasi di negara-negara Nordik. Kadar yang terdeteksi juga ditemukan pada ikan, sehingga meningkatkan kekhawatiran mengenai bioakumulasi bahan kimia ini.

Continue reading

Cara Mudah Mengelola Sampah Organik Dengan Biopori

Sampah organik merupakan salah satu jenis sampah yang paling banyak dihasilkan oleh masyarakat di Indonesia. Sampah organik ini dapat berasal dari sisa makanan, daun-daunan, ranting-ranting, dan sebagainya.Menurut data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), dari 17 juta ton timbulan...

Kreatif dan Ramah Lingkungan: Jam Tangan Estetik ini Terbuat Limbah Kayu

Jika berada di tangan yang tepat, bahkan limbah yang biasanya berakhir di tempat sampah, bisa diubah menjadi sesuatu indah dan bernilai ekonomi.Itulah yang dilakukan oleh Ryssa Putri, wanita berusia 24 tahun asal Blitar. Dia menekuni usaha pembuatan jam tangan...

Masker Bedah Didaur Ulang untuk Hasilkan Gas Kaya Hidrogen

Masker bedah telah menjadi barang yang sangat umum dalam kehidupan sehari-hari kita selama pandemi COVID-19. Meskipun dunia telah berhasil melewati masa kritis ini, limbah masker medis ini masih menjadi masalah bagi lingkungan.Namun, peneliti dari Kaunas University of Technology (KTU)...