Jumat, Juli 12, 2024

Creating liberating content

Mountrash Punya ATM Sampah,...

Jakarta, Limbahnews.com - Kreativitas dan upaya mencari solusi atas sampah terus berkembang. Bank...

Limbah Sawit PTPN II...

Jakarta, Limbahnews.com - PT Perkebunan Nusantara (PTPN) II, anak perusahaan PT Perkebunan Nusantara...

Setelah Covid-19, Ekonomi Indonesia...

Limbahnews.com - Kita semua sedang dilanda kecemasan atas wabah Coronavirus of Disease 2019...

Tipping Fee Bantargebang Rp...

Bekasi, Limbahnews.com - Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi bakal menerima uang sebesar Rp 379...
BerandaWorldPemanasan Global Sebabkan...

Pemanasan Global Sebabkan Sungai Amazon Mengering

Kekeringan ini membuat juga disebut yang terparah dalam sejarah

Sungai Amazon yang jadi ikon beberapa negara di Amerika Selatan kini jadi sorotan pasca sungai ini terpantau kering. debit air di sungai terpanjang kedua di dunia ini menurun drastis akibat fenomena El Nino jangka panjang.

Ketinggian air kini hanya berkisar kurang lebih 14 meter di bagian tengah sungai. Dibanding tahun lalu angka ini jauh lebih rendah yaitu 17,60 meter. Kekeringan ini juga disebut yang terparah sejak dicatat pertama kali tahun 1902.

Brazil salah satu negara yang dialiri sungai Amazon dan paling terdampak dari kekeringan ini.Kementerian Ilmu Pengetahuan Brazil menyalahkan kekeringan sebagai penyebab timbulnya fenomena iklim El Niño tahun ini, yang mendorong pola cuaca ekstrem secara global.

Kondisi sungai yang mengering pun dengan cepat telah menyebabkan perahu-perahu terdampar dan memutus pasokan makanan dan air ke desa-desa terpencil. Selain itu, suhu air yang tinggi diduga telah membunuh lebih dari 100 lumba-lumba sungai yang terancam punah.

“Kekeringan telah berdampak pada 481.000 orang pada hari Senin,” menurut badan pertahanan sipil di Amazonas.

Salah satu wilayah yang mendapatkan banduan adalah Santa Helena do Ingles. Tokoh masyarakat setempat, Nelson Mendonca mengatakan sebenarnya beberapa daerah masih dapat dijangkau dengan kano.

Namun banyak perahu yang belum mampu membawa perbekalan melalui sungai. Ini membuat akhirnya sebagian besar barang tiba dengan traktor atau berjalan kaki.

“Kami sudah tiga bulan tidak mendapat hujan di komunitas kami. Ini jauh lebih panas dibandingkan kekeringan sebelumnya,” kata Mendonca.

Luciana Valentin, yang juga tinggal di Santa Helena do Ingles, mengatakan ia prihatin dengan kebersihan pasokan air setempat setelah kekeringan mengurangi ketinggian air.

“Anak-anak kami diare, muntah-muntah, dan sering demam karena air,” ujarnya.

Kekeringan ini juga membuat sejumlah bangunan kuno dan lukisan kuno yang berumur ribuan tahun bermunculan di sungai Amazon.

Continue reading

Cara Mudah Mengelola Sampah Organik Dengan Biopori

Sampah organik merupakan salah satu jenis sampah yang paling banyak dihasilkan oleh masyarakat di Indonesia. Sampah organik ini dapat berasal dari sisa makanan, daun-daunan, ranting-ranting, dan sebagainya.Menurut data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), dari 17 juta ton timbulan...

Kreatif dan Ramah Lingkungan: Jam Tangan Estetik ini Terbuat Limbah Kayu

Jika berada di tangan yang tepat, bahkan limbah yang biasanya berakhir di tempat sampah, bisa diubah menjadi sesuatu indah dan bernilai ekonomi.Itulah yang dilakukan oleh Ryssa Putri, wanita berusia 24 tahun asal Blitar. Dia menekuni usaha pembuatan jam tangan...

Masker Bedah Didaur Ulang untuk Hasilkan Gas Kaya Hidrogen

Masker bedah telah menjadi barang yang sangat umum dalam kehidupan sehari-hari kita selama pandemi COVID-19. Meskipun dunia telah berhasil melewati masa kritis ini, limbah masker medis ini masih menjadi masalah bagi lingkungan.Namun, peneliti dari Kaunas University of Technology (KTU)...