Kamis, Juli 11, 2024

Creating liberating content

Pelaku Industri Kimia dan...

Jakarta, Limbahnews.com - Pelaku industri plastik yang tergabung dalam Asosiasi Industri Olefin, Aromatik...

Botol PET Wajib Pakai...

Jakarta, Limbahnews.com - Asosiasi Industri Air Minum Dalam Kemasan (Aspadin) menyatakan kewajiban menggunakan...

Bank Dunia Soal Daur...

Jakarta. Limbahnews.com - Negara-negara Asia Tenggara merugi sebanyak US$ 6 miliar atau Rp...

DKI Jakarta Larang Kantong...

Ilustrasi sampah plastik di TPS Sunter Koja, Jakarta. (Ist)Jakarta, Limbahnews – Bebeharapa hari...
BerandaRagamPolusi Udara Tahun...

Polusi Udara Tahun 2023 Diklaim Terburuk dalam Sejarah

Tingkat polusi udara dunia juga tahun ini akan memecahkan rekor dunia.

Tak dipungkiri tahun 2023 jadi tantangan umat manusia yang tinggal di bumi, pasalnya tahun ini bumi dihantam gelombang panas yang terburuk dalam sejarah. Suhu bumi naik sekitar 1 hingga 2 persen, tak hanya bumi, polusi udara tahun ini juga dianggap paling parah.

Beberapa kota di dunia, termasuk di Jakarta jadi kota dengan tingkat pencemaran polusi yang tinggi, bahkan udaranya tak layak hirup. Udara di Jakarta bila dihirup maka setara menghisap dengan belasan rokok.

Nah diprediksi para ahli, tingkat polusi karbon dioksida diperkirakan akan meningkat antara 0,5% hingga 1,5% dibanding tahun lalu yang hanya 0,9%. Tahun lalu, polusi karbon dioksida secara global mencapai 36,8 gigaton.

“Sangat kecil kemungkinannya terjadi penurunan emisi pada tahun 2023,” kata Glen Peters, direktur penelitian di lembaga penelitian iklim CICERO di Norwegia.

Peters menyebut perjanjian iklim di Paris tahun 2015 lalu telah ditetapkan agar negara di dunia konsen untuk mengatasi pemanasan global, terutama menjaga suhu bumi dibawah 1,5% dan tidak melebihi 2%. Namun menurut Peters hal itu sulit terwujud, lantaran semua negara tak serius menanggapi isu tersebut.

“Setiap tahun emisi yang terus meningkat membuat pencapaian target Paris semakin sulit dan membuat dunia semakin terkena dampak iklim,” ujarnya.

Data yang dijadikan dasar prediksi berasal dari Badan Energi Internasional (IEA). Laporan dari organisasi tersebut memberikan dampak positif dan negatif yang beragam pada tahun ini. Dengan meningkatnya energi terbarukan, bahan bakar fosil mungkin akan mencapai puncaknya pada dekade ini.

“Pemerintah perlu meningkatkan belanja dan mengambil tindakan kebijakan dengan cepat untuk memenuhi komitmen yang mereka buat di Paris pada tahun 2015, termasuk penyediaan pembiayaan penting oleh negara-negara maju ke negara maju,” kata Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol.

Continue reading

Cara Mudah Mengelola Sampah Organik Dengan Biopori

Sampah organik merupakan salah satu jenis sampah yang paling banyak dihasilkan oleh masyarakat di Indonesia. Sampah organik ini dapat berasal dari sisa makanan, daun-daunan, ranting-ranting, dan sebagainya.Menurut data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), dari 17 juta ton timbulan...

Kreatif dan Ramah Lingkungan: Jam Tangan Estetik ini Terbuat Limbah Kayu

Jika berada di tangan yang tepat, bahkan limbah yang biasanya berakhir di tempat sampah, bisa diubah menjadi sesuatu indah dan bernilai ekonomi.Itulah yang dilakukan oleh Ryssa Putri, wanita berusia 24 tahun asal Blitar. Dia menekuni usaha pembuatan jam tangan...

Masker Bedah Didaur Ulang untuk Hasilkan Gas Kaya Hidrogen

Masker bedah telah menjadi barang yang sangat umum dalam kehidupan sehari-hari kita selama pandemi COVID-19. Meskipun dunia telah berhasil melewati masa kritis ini, limbah masker medis ini masih menjadi masalah bagi lingkungan.Namun, peneliti dari Kaunas University of Technology (KTU)...