Rabu, Juli 24, 2024

Creating liberating content

Ramadan Dongkrak Penjualan AMDK,...

Jakarta, Limbahnews.com - Industri Air Minum dalam Kemasan (AMDK) di Indonesia mulai bergerak...

Waspadai Harga Plastik di...

Kapal khusus memuat limbah plastik dari lautan. (Ist)Jakarta, Limbahnews.com - Ada sedikit cahaya...

Angkasa Pura Properti dan...

Medan, Limbahnews.com - PT Angkasa Pura Properti, salah satu anak perusahaan PT Angkasa...

Imbas Corona, Industri Daur...

Ilustrasi sampah plastik impor (Artalab.id)Jakarta, Limbahnews.com - Pengusaha Jawa Timur (Jatim) mulai...
BerandaWorldPerubahan Iklim Sebabkan...

Perubahan Iklim Sebabkan Banjir Dahsyat di New York

Banjir ini bahkan yang terburuk sepanjang kota New York Ada.

Pada akhir September lalu, salah satu kota terbesar dan tersibuk di dunia dan Amerika Serikat mengalami bencana banjir terparah dalam sejarah berdirinya kota. Hujan dengan intensitas tinggi telah mengakibatkan banjir parah di kota tersebut.

Tak hanya hujan, badai besar juga menghantam kota New York, New Jersey, dan Connecticut. Gubernur New York Kathy Hochul mengumumkan keadaan darurat mengingat jalan raya terendam air, sistem kereta bawah tanah terhenti, terminal di LaGuardia kebanjiran, dan penduduk bersusah payah mengarungi jalan dalam kondisi air setinggi lutut.

Sementara itu, Wali Kota Eric Adams mendesak warga New York untuk tinggal di rumah atau mencari tempat berlindung jika mereka terpaksa pergi bekerja atau sekolah. Dia memperingatkan bahwa kota itu mungkin akan diguyur hujan setinggi 20 cm sebelum badai berlalu.

National Weather Services (NWS) mengatakan hujan setinggi 7 hingga 15 cm telah meremdam kota sepanjang hari. Banjir bahkan diprediksi yang terparah sepanjang sejarah.

“Ini adalah akibat dari perubahan iklim. Iklim kita berubah lebih cepat daripada yang dapat direspon oleh infrastruktur kita,” kata Rohit Aggarwala, Komisaris Departemen Perlindungan Lingkungan New York, dikutip dari The Independent.

Dunia mengalami musim panas terpanas yang pernah tercatat pada tahun 2023, termasuk suhu panas laut yang memecahkan rekor. Temperatur yang lebih tinggi ini, yang sebagian besar disebabkan oleh emisi dari pembakaran bahan bakar fosil, telah membuat suhu permukaan laut rata-rata global hampir 1 derajat lebih panas dibandingkan 100 tahun yang lalu.

Lebih banyak panas di lautan meningkatkan badai, menyebabkan badai berlangsung lebih lama dan menghasilkan curah hujan yang lebih tinggi, kata para ilmuwan.

Laporan terbaru dari panel ilmu iklim PBB menemukan bahwa frekuensi kejadian curah hujan ekstrem ‘1 dalam 10 tahun’ telah meningkat 30% secara global.

Selain itu, perubahan iklim menyebabkan kenaikan permukaan air laut yang menambah bahaya gelombang badai.

“Gelombang badai akan menghasilkan genangan yang lebih besar karena latar belakang permukaan laut lebih tinggi secara sistematis di hampir seluruh wilayah dunia karena pemanasan global,” kata Dr Tom Knutson, ilmuwan senior di Laboratorium Dinamika Fluida Geofisika NOAA.

Kathy Hochul pun mengumumkan keadaan darurat di seluruh Kota New York, Long Island, dan Hudson Valley.

Continue reading

Cara Mudah Mengelola Sampah Organik Dengan Biopori

Sampah organik merupakan salah satu jenis sampah yang paling banyak dihasilkan oleh masyarakat di Indonesia. Sampah organik ini dapat berasal dari sisa makanan, daun-daunan, ranting-ranting, dan sebagainya.Menurut data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), dari 17 juta ton timbulan...

Kreatif dan Ramah Lingkungan: Jam Tangan Estetik ini Terbuat Limbah Kayu

Jika berada di tangan yang tepat, bahkan limbah yang biasanya berakhir di tempat sampah, bisa diubah menjadi sesuatu indah dan bernilai ekonomi.Itulah yang dilakukan oleh Ryssa Putri, wanita berusia 24 tahun asal Blitar. Dia menekuni usaha pembuatan jam tangan...

Masker Bedah Didaur Ulang untuk Hasilkan Gas Kaya Hidrogen

Masker bedah telah menjadi barang yang sangat umum dalam kehidupan sehari-hari kita selama pandemi COVID-19. Meskipun dunia telah berhasil melewati masa kritis ini, limbah masker medis ini masih menjadi masalah bagi lingkungan.Namun, peneliti dari Kaunas University of Technology (KTU)...