Minggu, Juli 21, 2024

Creating liberating content

DKI Jakarta Larang Kantong...

Ilustrasi sampah plastik di TPS Sunter Koja, Jakarta. (Ist)Jakarta, Limbahnews – Bebeharapa hari...

Waspadai Harga Plastik di...

Kapal khusus memuat limbah plastik dari lautan. (Ist)Jakarta, Limbahnews.com - Ada sedikit cahaya...

Bank Dunia Soal Daur...

Jakarta. Limbahnews.com - Negara-negara Asia Tenggara merugi sebanyak US$ 6 miliar atau Rp...

Ramadan Dongkrak Penjualan AMDK,...

Jakarta, Limbahnews.com - Industri Air Minum dalam Kemasan (AMDK) di Indonesia mulai bergerak...
BerandaWorldLumba-lumba Mati Massal...

Lumba-lumba Mati Massal di Sungai Amazon, Efek Perubahan Iklim

Padahal Lumba-lumba jadi indikator kesehatan sungai, hal ini mengkhawatirkan akan perubahan iklim yang terjadi

Pada awal bulan ini, sebuah fenomena terjadi di sungai Amazon yang dikenal sebagai salah satu sungai terpanjang di dunia, sebabnya adalah sekitar seatusan lumba-lumba dan ribuan ikan tiba-tiba mati.

Kuat dugaan, lumba-lumba ini mati lantaran peningkatan suhu panas global yang melampaui ambang batas toleransi spesies di kawasan sungai Amazon. Suhu di Danau Tefe, Amzonaz, Brasil saat ini bak seperti pemandian air panas, padahal suhu di danau tersebut cenderung dingin dihari-hari biasa.

Sebulan terakhir di Tefé tampak seperti skenario perubahan iklim di film-film fiksi ilmiah,” kata Daniel Tregidgo, peneliti Inggris yang tinggal di daerah tersebut, dikutip dari The Guardian.

“Penampakan rutin lumba-lumba sungai merah muda adalah salah satu keistimewaan hidup di jantung Amazon. Hampir setiap kali saya jalan-jalan pagi untuk sarapan, saya melihat mereka muncul ke permukaan dan itu mengingatkan saya mengapa saya tinggal di sini,” ujarnya.

“Mengetahui bahwa mereka mati memang menyedihkan. Tetapi melihat tumpukan bangkai, mengetahui bahwa kekeringan ini telah menewaskan lebih dari 100 orang, adalah sebuah tragedi,” tuturnya.

Peneliti geosains di Mamirauá Institute, mengatakan beberapa kemungkinan penyebabnya sedang diselidiki, termasuk penyakit dan kontaminasi limbah. Namun dia mengatakan kedalaman air dan suhu tentu saja merupakan komponen utama dari kematian massal tersebut.

“Pada jam 6 sore kemarin, di Danau Tefé kami mengukur suhu lebih dari 39 derjat Celcius. Ini sangat panas, mengerikan. Suhu 37 derajat Celcius saja akan dianggap sebagai pemandian air panas bagi manusia,” ujarnya.

Seperti di belahan dunia lainnya, Brasil mengalami cuaca ekstrem yang luar biasa dalam beberapa bulan terakhir sebagai akibat dari gangguan iklim yang disebabkan oleh manusia dan El Niño.

Sebagian wilayah di bagian selatan negara ini terendam banjir akibat hujan badai yang deras, sementara wilayah utara mengalami kekeringan akibat musim kemarau yang luar biasa dahsyatnya.

Ketinggian air di Amazon, sungai terbesar di dunia, telah turun 30 cm setiap hari selama dua minggu terakhir. Saat ini, kedalaman rata-rata di Manaus lebih rendah 4,4 meter dari puncak musim hujannya. Tahun ini, kekeringan sudah mencapai 7,4 meter, yang oleh para ahli biologi setempat digambarkan sebagai hal yang tidak masuk akal.

Tregidgo memperingatkan dampak sosial karena hampir semua pasokan makanan dan bahan bakar diangkut dengan perahu di sepanjang Sungai Solimões dari Manaus, yang berjarak 550 km. Jalur air tersebut sekarang tidak bisa dilewati, sehingga akan menaikkan harga dan menyebabkan kerawanan pangan.

Tefé adalah salah satu daerah yang paling parah terkena dampak kekeringan. Badan meteorologi nasional setempat mengatakan, curah hujan di sana pada bulan September hanya sepertiga dari rata-rata historis. Banyak saluran yang mengering. Perjalanan perahu sungai yang biasanya memakan waktu tiga jam kini memakan waktu satu hari penuh karena kano harus melewati lumpur dan air.

Nah, lumba-lumba sendiri sering dianggap indikator kesehatan sungai. Keberadaan lumba-lumba sangat penting bagi mereka yang tinggal di sepanjang tepi sungai. Mereka dikenal sebagai boto di Amazon, memakan piranha, dan berwarna merah muda atau abu-abu. Mereka juga memiliki status semi-mitologis dalam budaya tradisional, di mana mereka kadang-kadang dikatakan berwujud manusia dan menghamili perempuan.

International Union for the Conservation of Nature (IUCN) mengklasifikasikan boto sebagai hewan terancam punah. Mereka adalah salah satu dari enam spesies lumba-lumba air tawar yang tersisa di dunia, meskipun dulunya mereka sangat beragam dan melimpah.

Salah satunya adalah lumba-lumba Sungai Yangtze, yang dikenal sebagai baiji di China. Spesies ini praktis punah karena polusi, lalu lintas sungai, bendungan, dan penangkapan ikan yang berlebihan. Mereka telah ada di Bumi selama 20 juta tahun, namun belum terlihat lagi sejak tahun 2002.

Continue reading

Cara Mudah Mengelola Sampah Organik Dengan Biopori

Sampah organik merupakan salah satu jenis sampah yang paling banyak dihasilkan oleh masyarakat di Indonesia. Sampah organik ini dapat berasal dari sisa makanan, daun-daunan, ranting-ranting, dan sebagainya.Menurut data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), dari 17 juta ton timbulan...

Kreatif dan Ramah Lingkungan: Jam Tangan Estetik ini Terbuat Limbah Kayu

Jika berada di tangan yang tepat, bahkan limbah yang biasanya berakhir di tempat sampah, bisa diubah menjadi sesuatu indah dan bernilai ekonomi.Itulah yang dilakukan oleh Ryssa Putri, wanita berusia 24 tahun asal Blitar. Dia menekuni usaha pembuatan jam tangan...

Masker Bedah Didaur Ulang untuk Hasilkan Gas Kaya Hidrogen

Masker bedah telah menjadi barang yang sangat umum dalam kehidupan sehari-hari kita selama pandemi COVID-19. Meskipun dunia telah berhasil melewati masa kritis ini, limbah masker medis ini masih menjadi masalah bagi lingkungan.Namun, peneliti dari Kaunas University of Technology (KTU)...