Kamis, Juli 25, 2024

Creating liberating content

Investor Surabaya Segera Bangun...

Ambon, Limbahnews.com - Pabrik plastik akan segera dibangun di Toisapu, Kecamatan Leitimur Selatan,...

Terkait Amdal dan Limbah,...

Jakarta, Limbahnews.com - PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) berkomitmen ikut berkontribusi mengurangi...

Omset Emiten Daur Ulang...

Jakarta, Limbahnews.com - PT Inocycle Technology Group Tbk (INOV), produsen staple buatan/Recycled Polyester...

Pelaku Industri Kimia dan...

Jakarta, Limbahnews.com - Pelaku industri plastik yang tergabung dalam Asosiasi Industri Olefin, Aromatik...
BerandaTeknologiPurwarupa, Alat Pendeteksi...

Purwarupa, Alat Pendeteksi Udara Karya Mahasiswa ITS

Berkat alat ini juga, Muhammad Zanuar meraih banyak penghargaan dan memenangkan lomba.

Berawal dari keresahan melihat tingkat polusi yang tinggi di daerah tempat iya mengabdi yaitu Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, Muhammad Zanuar, mahasiswa Departemen Teknik Instrumentasi, Fakultas Vokasi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya terinspirasi membuat alat pendeteksi udara.

Lewat kerjas kerasnya bersama dengan sembilan temannya, Zanuar berhasil membuat alat yang mampu memonitor serta menyaring udara dengan sensor yang canggih, sehingga dapat mengurangi penyakit pernapasan. Sebut saja Muhammad Zanuar, ia sosok di balik penggagas alat tersebut. Alat ini diberi nama Purwarupa, karya Zanuar dan tim bahkan meraih penghargaan dan sering memenangkan lomba.

Cara kerja alat  purwarupa sendiri  akan menyala jika sensor mendeteksi konsentrasi partikel dan kandungan gas di udara. Kemudian diproses oleh alat kontrol dengan ditampilkan melalui display dan diunggah ke cloud situs web.

“Ketika pembacaan konsentrasi partikel udara dalam ruangan tinggi, maka filtrasi udara akan aktif”, tuturnya.

Zanuar juga menjelaskan, apabila emisi gas dibuang melalui cerobong udara oleh industri dan berlanjut secara terus menerus, maka dapat menyebabkan tingkat penyakit Infeksi Saluran pernapasan Akut (ISPA).

“Sangat disayangkan jika tidak adanya instrumen alat ukur dan ketegasan kebijakan dari pemerintah untuk mengatasi isu lingkungan dan kesehatan,” imbuhnya.

Ia menambahkan kondisi udara dapat berubah-ubah setiap waktu. Sehingga alat penyaring udara tersebut dapat menjadi solusi dari masalah polusi.

“Menyesuaikan nilai konsentrasi udaranya, nanti disarankan tidak beraktivitas di luar ruangan hingga memakai masker saat keluar rumah,” paparnya.

Hasil laporan dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLHK), Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) dibagi menjadi lima kategori. Yaitu kategori rendah dengan nilai 1-50, kategori sedang dengan nilai 51-100, kategori tidak sehat dengan nilai 101-200, kategori sangat tidak sehat bernilai 201-300, dan kategori berbahaya bernilai 300 ke atas. Berdasarkan laporan tersebut, kondisi udara di Manyar masuk ke dalam kategori tidak sehat dengan nilai ISPU 144.

Continue reading

Cara Mudah Mengelola Sampah Organik Dengan Biopori

Sampah organik merupakan salah satu jenis sampah yang paling banyak dihasilkan oleh masyarakat di Indonesia. Sampah organik ini dapat berasal dari sisa makanan, daun-daunan, ranting-ranting, dan sebagainya.Menurut data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), dari 17 juta ton timbulan...

Kreatif dan Ramah Lingkungan: Jam Tangan Estetik ini Terbuat Limbah Kayu

Jika berada di tangan yang tepat, bahkan limbah yang biasanya berakhir di tempat sampah, bisa diubah menjadi sesuatu indah dan bernilai ekonomi.Itulah yang dilakukan oleh Ryssa Putri, wanita berusia 24 tahun asal Blitar. Dia menekuni usaha pembuatan jam tangan...

Masker Bedah Didaur Ulang untuk Hasilkan Gas Kaya Hidrogen

Masker bedah telah menjadi barang yang sangat umum dalam kehidupan sehari-hari kita selama pandemi COVID-19. Meskipun dunia telah berhasil melewati masa kritis ini, limbah masker medis ini masih menjadi masalah bagi lingkungan.Namun, peneliti dari Kaunas University of Technology (KTU)...