Kamis, Juli 11, 2024

Creating liberating content

Omset Emiten Daur Ulang...

Jakarta, Limbahnews.com - PT Inocycle Technology Group Tbk (INOV), produsen staple buatan/Recycled Polyester...

Sektor Makanan dan Minuman...

Jakarta, Limbahnews.com - Sejumlah tantangan harus dihadapi industri plastik hilir. Sebut saja terimbas...

Naksir Pengolahan Limbah Tambang,...

Ilustrasi pemulihan lahan bekas tambang (Mikrobios.id)Jakarta, Limbahnews.com - PT PP Presisi Tbk (PPRE)...

Investasi Plastik Ramah Lingkungan,...

Jakarta, Limbahnews.com - PT Cheil Jedang Indonesia (PT CJ Indonesia) kembali mengembangkan investasi...
BerandaUncategorizedHabitat Elang dan...

Habitat Elang dan Edelweiss Terganggu Akibat Kebakaran Gunung Bromo

Kebakaran ini menyebabkan 274 hektare lahan hangus sejauh ini.

Kebakaran yang terjadi di Gunung Bromo Provinsi Jawa Timur yang terjadi pada Rabu lalu hingga kini telah menyebabkan dampak serius terhadap ekosistem di sekitar Gunung Bromo. Masyarakat pun merasakan dampak langsung dari kebakaran yang bermula dari di Bukit Teletubbies itu.

Kebakaran yang disebabkan oleh flare dari aktivitas foto pre-wedding di Bukit Teletubbies Bromo tersebut memang menimbulkan banyak masalah. Salah satu diantaranya yaitu dampak ekologis kebakaran padang savana Bromo cukup parah.

“Seperti rumput malelo dan bunga edelweiss yang dari pantauan kami sudah terbakar. Kalau untuk satwa langka, seperti elang Jawa dan lutung Jawa, yang memang di lokasi terbakar merupakan habitatnya. Kalau habitatnya rusak, elang ini akan pergi. Syukur-syukur tidak ikut terbakar,” kata Kepala Seksi TNBTS 1 Didid Sulistyo.

Dampak ekosistem tersebut cukup parah. Lahan yang terdapat bunga edelweiss terbakar dan elang Jawa serta lutung Jawa pergi. Tentu butuh waktu lama untuk mengembalikannya seperti semula.

Selain dampak pada ekosistem alam di Gunung Bromo, kebakaran akibat flare tersebut juga berpotensi menimbulkan masalah bagi warga, termasuk masalah kesehatan. Polusi udara akibat kebakaran tersebut bisa memicu penyakit pernapasan bagi warga sekitar.

“Polusi udara dan emisi karbon dipicu kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Di samping itu, juga berisiko mengakibatkan ISPA,” jelas Didid.

Selain itu, warga sekitar juga menderita kerugian secara ekonomi. Banyak wisatawan yang membatalkan perjalanan mereka ke Gunung Bromo. Hal tersebut tentu berdampak pada ekonomi warga sekitar.

Hingga saat ini upaya pemadaman terus dilakukan. Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB-TNBTS) menyatakan setidaknya ada 7 titik api yang ditemukan. Hari ini, Kepala BB TNBTS Hendro Wijanarko memastikan tersisa 1 titik api saja.

Kebakaran hutan dan lahan di Bromo ini juga menjadi perhatian Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa yang meminta adanya tambahan helikopter waterboming.

Kemarin, Sabtu (9/9), Khofifah meminta Balai Besar TNBTS untuk melayangkan surat bantuan helikopter waterboming tambahan ke BNPB agar titik api yang tidak terjangkau bisa padam.

“Posisi helikopter sekarang ada di Kaliandra, jadi kalau sudah TNBTS berkirim surat, Helikopter bisa bergerak ke sini (Gunung Bromo). insyaallah kalau sudah ada permintaan melalui surat, helikopter besok sudah bisa bergerak ke Bromo,” katanya.

Continue reading

Cara Mudah Mengelola Sampah Organik Dengan Biopori

Sampah organik merupakan salah satu jenis sampah yang paling banyak dihasilkan oleh masyarakat di Indonesia. Sampah organik ini dapat berasal dari sisa makanan, daun-daunan, ranting-ranting, dan sebagainya.Menurut data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), dari 17 juta ton timbulan...

Kreatif dan Ramah Lingkungan: Jam Tangan Estetik ini Terbuat Limbah Kayu

Jika berada di tangan yang tepat, bahkan limbah yang biasanya berakhir di tempat sampah, bisa diubah menjadi sesuatu indah dan bernilai ekonomi.Itulah yang dilakukan oleh Ryssa Putri, wanita berusia 24 tahun asal Blitar. Dia menekuni usaha pembuatan jam tangan...

Masker Bedah Didaur Ulang untuk Hasilkan Gas Kaya Hidrogen

Masker bedah telah menjadi barang yang sangat umum dalam kehidupan sehari-hari kita selama pandemi COVID-19. Meskipun dunia telah berhasil melewati masa kritis ini, limbah masker medis ini masih menjadi masalah bagi lingkungan.Namun, peneliti dari Kaunas University of Technology (KTU)...