Minggu, Juli 21, 2024

Creating liberating content

DKI Jakarta Larang Kantong...

Ilustrasi sampah plastik di TPS Sunter Koja, Jakarta. (Ist)Jakarta, Limbahnews – Bebeharapa hari...

Terkait Amdal dan Limbah,...

Jakarta, Limbahnews.com - PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) berkomitmen ikut berkontribusi mengurangi...

Indonesia Luncurkan Bursa Karbon,...

Pemerintah Indonesia secara resmi meluncurkan Bursa Karbon pada hari Selasa lalu (26/9/23) ....

Tangani Limbah Corona, PT...

Jakarta, Limbahnews.com - Penanganan limbah medis terkait wabah corona (Covid-19) oleh PT Jasa...
BerandaLimbahMelihat Cara Jepang...

Melihat Cara Jepang Menangani TPA yang Overload

Berbeda dengan Indonesia yang masih punya masalah TPA diberbagai titik.

Pemberitaan tentang Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPA) sering menghiasi media sosial Indonesia beberapa hari belakangan. Termasuk kejadian TPA yang overload di Yogyakarta yang membuat sampah di rumah tangga, perkantoran, dan perusahaan menumpuk.

Melansir data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), jumlah TPA di Indonesia mencapai 526 unit. Dan dari data Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) tentang Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Tahun 2021 menunjukkan jika masih banyak provinsi-provinsi yang mengalami TPA overload.

Dari 34 provinsi, ada 10 provinsi yang mengalami TPA overload. Provinsi Bali, Kepulauan Riau, Jawa Barat dan Banten, menduduki posisi teratas untuk perbandingan kapasitas TPA dengan sampah yang masuk ke TPA. Kondisi ini tentu mengkhawatirkan karena dapat berdampak buruk bagi lingkungan dan kesehatan manusia.

Soal TPA, Indonesia perlu belajar dari Jepang yang memiliki aturan persampahan yang ketat hingga dikenal sebagai negara yang berhasil mengolah sampah selain Korea Selatan. Sampah dari rumah tangga, sampah harus dipilah terlebih dahulu sebelum dibuang ke tempat pembuangan. Bahkan, ada jadwal pembuangan di hari tertentu, dan diatur melalui peraturan pemerintah yang ketat. Dibuangnya pun dengan cara terpilah setiap jenisnya.

Tata pengelolaan sampah yang demikian, membuat sampah-sampah terkelola dengan baik. Bahkan, hampir tidak ada sampah yang diangkut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA), kecuali sampah ukuran besar dan sulit terurai seperti limbah bahan beracun dan berbahaya (B3). Jadi, di Jepang hampir tidak ada permasalahan TPA overload, seperti yang terjadi di Indonesia.

Di setiap lingkungan tempat tinggal, terdapat insinerator untuk mengolah sampah. Jadi, orang yang tinggal di Jepang bisa mengelola sampahnya sendiri. Mereka juga ketat dalam pemilahan sampah. Negara ini menganut konsep 3R (Reduce, Reuse dan Recycle), dan menerapkannya dengan sangat baik.

Sistem pengelolaan sampah di Jepang sangat tertata. Untuk sampah sisa makanan dan sampah organik akan dikelola di insinerator yang ada hampir di setiap kota. Lalu untuk sampah yang sulit terurai seperti besi dan kaca, akan dibawa ke tempat pengelolaan khusus dan didaur ulang, begitu pula untuk sampah berukuran besar.

Dari tata pengelolaan tersebut, 80 persen sampah langsung dibakar dengan insinerator, 14 persen masuk ke fasilitas menengah untuk daur ulang, 5 persen didaur ulang, dan hanya tersisa 1 persen dibuang di TPA (Waste Report 23 2020, Clean Authority of Tokyo, 2019). 

Itulah mengapa tidak ada TPA overload di Jepang. Walau begitu, bukan berarti tidak ada TPA di Jepang. Di sana, juga ada TPA yang memiliki fungsi tak jauh berbeda dari TPA yang ada di Indonesia. Bedanya, teknologi dan sistem pengolahan sampah di TPA di Jepang canggih, struktural dan terawat.

Ada tiga kategori TPA di Jepang, controlled landfill, inert landfill dan isolated landfill, yang memiliki fungsinya masing-masing. Sistem pengelolaan sampah seperti itu membuat sampah yang berakhir di TPA bisa diproses maksimal dan tidak menyebabkan TPA overload.

Ditambah dengan kesadaran masyarakat dibarengi dengan aturan pemilahan dan pengolahan sampah dari sumber, membuat Jepang menjadi salah satu negara dengan sistsem pengelolaan sampah terbaik di dunia.

Continue reading

Cara Mudah Mengelola Sampah Organik Dengan Biopori

Sampah organik merupakan salah satu jenis sampah yang paling banyak dihasilkan oleh masyarakat di Indonesia. Sampah organik ini dapat berasal dari sisa makanan, daun-daunan, ranting-ranting, dan sebagainya.Menurut data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), dari 17 juta ton timbulan...

Kreatif dan Ramah Lingkungan: Jam Tangan Estetik ini Terbuat Limbah Kayu

Jika berada di tangan yang tepat, bahkan limbah yang biasanya berakhir di tempat sampah, bisa diubah menjadi sesuatu indah dan bernilai ekonomi.Itulah yang dilakukan oleh Ryssa Putri, wanita berusia 24 tahun asal Blitar. Dia menekuni usaha pembuatan jam tangan...

Masker Bedah Didaur Ulang untuk Hasilkan Gas Kaya Hidrogen

Masker bedah telah menjadi barang yang sangat umum dalam kehidupan sehari-hari kita selama pandemi COVID-19. Meskipun dunia telah berhasil melewati masa kritis ini, limbah masker medis ini masih menjadi masalah bagi lingkungan.Namun, peneliti dari Kaunas University of Technology (KTU)...