Minggu, Juli 21, 2024

Creating liberating content

Tipping Fee Bantargebang Rp...

Bekasi, Limbahnews.com - Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi bakal menerima uang sebesar Rp 379...

Jepang Ingin Impor Limbah...

Ilustrasi pengolahan limbah sawit (Mikrobios.id)Medan, Limbahnews.com - Jepang tertarik mengimpor limbah dari kelapa...

Indonesia Luncurkan Bursa Karbon,...

Pemerintah Indonesia secara resmi meluncurkan Bursa Karbon pada hari Selasa lalu (26/9/23) ....

Raksasa Rebutan Bahan Baku...

Jakarta, Limbahnews.com – Upaya mengolah sampah plastik terus berkembang. Produsen air minum dalam...
BerandaTeknologiMengenal Apa itu...

Mengenal Apa itu Modifikasi Cuaca dan Dampaknya

Modifikasi cuaca sudah sejak lama dikenal dan kini tengah tren digunakan di sejumlah negara, termasuk Indonesia.

Perubahan iklim yang drastis tahun ini mengakibatkan sebagian besar negara di dunia dilanda kemarau panjang dan gelombang panas. Hal ini menimbulkan dampak lain seperti meningkatnya polusi udara dibeberapa kota di dunia termasuk di Indonesia.

Misalnya di Jakarta, dalam kurun satu bulan terakhir, kondisi cuaca dilangit Ibukota jadi perhatian dunia lantaran tercemar polusi udara yang parah. Kejadian in pula memaksa Presiden Joko Widodo turun gunung mengatasi masalah ini.

Beberapa upaya sudah dilakukan pemerintah salah satunya modifikasi cuaca. Lantas apa itu modifikasi cuaca. Menurut Dosen Program Studi Biologi Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga (Unair), Dwi Ratri M Isnadina, ST, MT modifikasi cuaca adalah suatu rekayasa manusia untuk mengontrol sumber daya air di atmosfer atau awan pembawa hujan.

Modifikasi cuaca bertujuan menekan risiko bencana alam akibat cuaca di suatu daerah. Peneliti pengendalian dan teknologi polusi udara itu mengatakan, apabila ada daerah yang mengalami kebakaran atau kekeringan, maka modifikasi cuaca dilakukan agar di daerah tersebut segera turun hujan.

Sebaliknya, apabila ada daerah yang banjir, maka modifikasi cuaca dilakukan agar di kawasan tersebut tidak turun hujan.

Dwi Ratri menjelaskan, modifikasi cuaca berkorelasi erat dengan aktivitas presipitasi air menjadi awan. Pada umumnya, bentuknya adalah cloud seeding atau penyemaian awan, dengan cara menyebarkan serbuk Agl atau perak iodida di atas awan yang berpotensi menjadi pembawa hujan. Penyebaran serbuk Agl sendiri akan dibantu pesawat atau drone.

Ia juga menjelaskan modifikasi cuaca efektif mengurangi polusi udara karena menghasilkan deposisi basah akibat hujan. Dia menjelaskan, sebuah penelitian di Inggris pun menyimpulkan bahwa semakin sering hujan turun pada hari kerja ketimbang hari libur, maka dampak polusi kegiatan industri juga akan menurun.

Namun yang lebih baik adalah mengurangi polusi dari sumber, seperti halnya lebih baik mencegah daripada mengobati,” kata Dwi Ratri, seperti dikutip dari rilis dalam laman Unair (4/9/2023).

Dwi Ratri menegaskan modifikasi hujan sudah pasti mempunyai dampak positif dan negatif. Negara yang menerapkannya memang dapat memperoleh cuaca yang diharapkan. Kendati begitu, pemakaian kristal garam Agl yang berlebih bisa berdampak pada ekosistem tanah dan air.

“Jika rekayasa ini sering terjadi juga akan mungkin ada dampak terhadap iklim ke depannya,” ujarnya.

Mengenal Apa itu Modifikasi Cuaca dan Dampaknya

Modifikasi cuaca sudah sejak lama dikenal dan kini tengah tren digunakan di sejumlah negara, termasuk Indonesia.

Perubahan iklim yang drastis tahun ini mengakibatkan sebagian besar negara di dunia dilanda kemarau panjang dan gelombang panas. Hal ini menimbulkan dampak lain seperti meningkatnya polusi udara dibeberapa kota di dunia termasuk di Indonesia.

Misalnya di Jakarta, dalam kurun satu bulan terakhir, kondisi cuaca dilangit Ibukota jadi perhatian dunia lantaran tercemar polusi udara yang parah. Kejadian in pula memaksa Presiden Joko Widodo turun gunung mengatasi masalah ini.

Beberapa upaya sudah dilakukan pemerintah salah satunya modifikasi cuaca. Lantas apa itu modifikasi cuaca. Menurut Dosen Program Studi Biologi Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga (Unair), Dwi Ratri M Isnadina, ST, MT modifikasi cuaca adalah suatu rekayasa manusia untuk mengontrol sumber daya air di atmosfer atau awan pembawa hujan.

Modifikasi cuaca bertujuan menekan risiko bencana alam akibat cuaca di suatu daerah. Peneliti pengendalian dan teknologi polusi udara itu mengatakan, apabila ada daerah yang mengalami kebakaran atau kekeringan, maka modifikasi cuaca dilakukan agar di daerah tersebut segera turun hujan.

Sebaliknya, apabila ada daerah yang banjir, maka modifikasi cuaca dilakukan agar di kawasan tersebut tidak turun hujan.

Dwi Ratri menjelaskan, modifikasi cuaca berkorelasi erat dengan aktivitas presipitasi air menjadi awan. Pada umumnya, bentuknya adalah cloud seeding atau penyemaian awan, dengan cara menyebarkan serbuk Agl atau perak iodida di atas awan yang berpotensi menjadi pembawa hujan. Penyebaran serbuk Agl sendiri akan dibantu pesawat atau drone.

Ia juga menjelaskan modifikasi cuaca efektif mengurangi polusi udara karena menghasilkan deposisi basah akibat hujan. Dia menjelaskan, sebuah penelitian di Inggris pun menyimpulkan bahwa semakin sering hujan turun pada hari kerja ketimbang hari libur, maka dampak polusi kegiatan industri juga akan menurun.

Namun yang lebih baik adalah mengurangi polusi dari sumber, seperti halnya lebih baik mencegah daripada mengobati,” kata Dwi Ratri, seperti dikutip dari rilis dalam laman Unair (4/9/2023).

Dwi Ratri menegaskan modifikasi hujan sudah pasti mempunyai dampak positif dan negatif. Negara yang menerapkannya memang dapat memperoleh cuaca yang diharapkan. Kendati begitu, pemakaian kristal garam Agl yang berlebih bisa berdampak pada ekosistem tanah dan air.

“Jika rekayasa ini sering terjadi juga akan mungkin ada dampak terhadap iklim ke depannya,” ujarnya.

Continue reading

Cara Mudah Mengelola Sampah Organik Dengan Biopori

Sampah organik merupakan salah satu jenis sampah yang paling banyak dihasilkan oleh masyarakat di Indonesia. Sampah organik ini dapat berasal dari sisa makanan, daun-daunan, ranting-ranting, dan sebagainya.Menurut data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), dari 17 juta ton timbulan...

Kreatif dan Ramah Lingkungan: Jam Tangan Estetik ini Terbuat Limbah Kayu

Jika berada di tangan yang tepat, bahkan limbah yang biasanya berakhir di tempat sampah, bisa diubah menjadi sesuatu indah dan bernilai ekonomi.Itulah yang dilakukan oleh Ryssa Putri, wanita berusia 24 tahun asal Blitar. Dia menekuni usaha pembuatan jam tangan...

Masker Bedah Didaur Ulang untuk Hasilkan Gas Kaya Hidrogen

Masker bedah telah menjadi barang yang sangat umum dalam kehidupan sehari-hari kita selama pandemi COVID-19. Meskipun dunia telah berhasil melewati masa kritis ini, limbah masker medis ini masih menjadi masalah bagi lingkungan.Namun, peneliti dari Kaunas University of Technology (KTU)...