Minggu, Juli 21, 2024

Creating liberating content

Pemerintah Beri Insentif PPN,...

Jakarta, Limbahnews.com - Pemerintah saat ini terus memperbaiki ekosistem industri daur ulang sampah...

Ramadan Dongkrak Penjualan AMDK,...

Jakarta, Limbahnews.com - Industri Air Minum dalam Kemasan (AMDK) di Indonesia mulai bergerak...

Coca-Cola Bangun Pabrik Daur...

Jakarta, Limbahnews.com - Coca-Cola Amatil Indonesia (Amatil Indonesia) dan Dynapack Asia melakukan pembangunan...

Adhi Karya Bidik Pendapatan...

Jakarta, Limbahnews.com - PT Adhi Karya Tbk (ADHI) mengincar pendapatan berulang atau recurring...
BerandaRagamSektor Pertanian Bakal...

Sektor Pertanian Bakal Terdampak Akibat Suhu Ekstrem

Bahkan, krisis pangan akan menjadi ancaman nyata dalam beberapa tahun kedepan.

Tahun 2023 ini ditetapkan sebagai tahun terpanas yang pernah terjadi dalam kurun 120 ribu tahun terakhir. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pun menetapkan tahun ini sebagai tahun mendidih.

Beberapa sektor akan terdampak seiring suhu ekstrem yang terjadi, yang paling terdampak yaitu sektor pertanian. Krisis pangan pun menanti dan akan menjadi ancaman nyata.

Studi ini dirilis peneliti Oxford, Carolin Kroeger seperti dilansir dari laman Oxford pada 21 Agustus 2023 lalu. Dalam studinya yang sudah dipublikasi di jurnal Nature Human Behaviour di tanggal yang sama, Kroeger menganalisa beberapa data yang dikumpulkan selama beberapa tahun.

Hasilnya pun menunjukkan apabila negara dengan populasi sebanyak India mengalami kondisi iklim yang sangat panas, maka akan ada peningkatan orang yang mengalami krisis pangan sebanyak 8 juta orang dengan tingkat sedang sampai tingkat yang parah. Kondisi perubahan suhu yang menjadi panas dapat mempengaruhi pada kemampuan penduduk dalam bertahan hidup.

Ketika keadaan suhu terlalu panas maka seseorang akan sulit untuk melakukan aktivitas seperti bekerja terutama yang mata pencahariannya di lingkungan luar dan terpapar langsung dengan suhu panas.

Salah satu pekerjaan yang terdampak langsung tersebut tidak hanya petani tetapi juga pembuat bata yang dilakukan survei di Benggala Barat, India. Diketahui bahwa para pembuat bata mengalami kerugian sampai dengan 50% karena tidak mampu membawa lebih banyak bata karena kesulitan akibat terhalang suhu yang panas.

Melihat dari beberapa kondisi penduduk tersebut, maka ketika pekerjaan mereka terhalang tentu akan berdampak langsung pada kurangnya pendapatan mereka. Begitu pula saat pendapatan menurun, maka berdampak pula pada kemampuan mereka untuk membeli makanan dan bisa terjadi krisis pangan.

“Biasanya penelitian hanya berfokus pada pembahasan suhu panas yang merusak tanaman dan menyebabkan krisis pangan dalam hitungan bulan. Namun penelitian ini akan menunjukkan bahwa panas juga menyebabkan krisis pangan hanya dalam hitungan hari,” jelasnya.

Terjadinya krisis pangan dapat memberikan dampak terhadap lebih dari dua miliar orang di dunia. Bahkan jika terjadi kenaikan suhu yang lebih dari sebelumnya, tentu hal itu juga meningkatkan kerusakan tanaman dan hasil panen. Pada akhirnya fenomena krisis pangan dapat menjadi lebih parah. Penelitian ini ditujukan untuk melihat bagaimana efek jangka pendek yang timbul dari kenaikan suhu terhadap ketersediaan pangan.

Penelitian ini diharapkan dapat memajukan pengetahuan masyarakat dan paham mengenai cara bertahan hidup ketika berhadapan dengan krisis pangan akibat kenaikan suhu. Hal tersebut disampaikan oleh salah satu profesor dari Oxford, Aaron Reeves.

“Dengan penelitian ini maka akan sangat berguna untuk menambah pemahaman kita tentang dampak panas yang ekstrem pada kehidupan orang yang mengalaminya dan dapat menjadi bahan diskusi kita untuk memikirkan solusi terhadap masalah tersebut,” ungkapnya.

Continue reading

Cara Mudah Mengelola Sampah Organik Dengan Biopori

Sampah organik merupakan salah satu jenis sampah yang paling banyak dihasilkan oleh masyarakat di Indonesia. Sampah organik ini dapat berasal dari sisa makanan, daun-daunan, ranting-ranting, dan sebagainya.Menurut data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), dari 17 juta ton timbulan...

Kreatif dan Ramah Lingkungan: Jam Tangan Estetik ini Terbuat Limbah Kayu

Jika berada di tangan yang tepat, bahkan limbah yang biasanya berakhir di tempat sampah, bisa diubah menjadi sesuatu indah dan bernilai ekonomi.Itulah yang dilakukan oleh Ryssa Putri, wanita berusia 24 tahun asal Blitar. Dia menekuni usaha pembuatan jam tangan...

Masker Bedah Didaur Ulang untuk Hasilkan Gas Kaya Hidrogen

Masker bedah telah menjadi barang yang sangat umum dalam kehidupan sehari-hari kita selama pandemi COVID-19. Meskipun dunia telah berhasil melewati masa kritis ini, limbah masker medis ini masih menjadi masalah bagi lingkungan.Namun, peneliti dari Kaunas University of Technology (KTU)...