Minggu, Juli 14, 2024

Creating liberating content

Raksasa Rebutan Bahan Baku...

Jakarta, Limbahnews.com – Upaya mengolah sampah plastik terus berkembang. Produsen air minum dalam...

Pemerintah Beri Insentif PPN,...

Jakarta, Limbahnews.com - Pemerintah saat ini terus memperbaiki ekosistem industri daur ulang sampah...

Waspadai Harga Plastik di...

Kapal khusus memuat limbah plastik dari lautan. (Ist)Jakarta, Limbahnews.com - Ada sedikit cahaya...

Jepang Ingin Impor Limbah...

Ilustrasi pengolahan limbah sawit (Mikrobios.id)Medan, Limbahnews.com - Jepang tertarik mengimpor limbah dari kelapa...
BerandaTeknologiPemuda Ini Buat...

Pemuda Ini Buat Inovasi Energi Terbarukan, Terinspirasi Ayat Al-Qur’an

Ide Pengembangan Energi Terbarukan Supriadi Legino kini banyak dipakai di berbagai daerah.

Pemerintah Indonesia menargetkan akan menggunakan energi terbarukan sebanyak 23% pada tahun 2025. Rencana ini sudah tertuang dalam rencana umum energi nasional (RUEN).

Guna merealisasikan hal ini, kini pemerintah bersama kementerian terkait tengah gencar melakukan percepatan pengembangan energi baru terbarukan atau yang biasa disingkat EBT. Tak hanya itu, pemerintah juga mendorong masyarakat hingga perguruan tinggi juga dituntut secara bertahap untuk mulai beralih kepada penggunaan EBT guna mewujudkan kemandirian energi nasional.

Ditengah situasi ini, muncul pemuda bernama Supriadi Legino, salah seorang pendiri serta pencetus pengembangan EBT di Tanah Air. Ia juga salah satu orang pertama kali menggunakan metode bernama teknologi olah sampah di sumbernya (TOSS) dalam pengembangan EBT.

Alumnus Institut Teknologi Bandung (ITB) tersebut terinspirasi dari satu ayat dalam Al Quran, tepatnya Surah Yasin Ayat 80 yang artinya, “Yaitu (Allah) yang menjadikan api untukmu dari kayu yang hijau, maka seketika itu kamu nyalakan (api) dari kayu itu” seperti terkutip dalam salah atu ayat Al-Quran.

Berkat Insprirasi itu, Firman berhasil membuat TOSS makin berkembang. Hingga saat ini muncul beberapa kerja sama pengembangan TOSS di berbagai daerah, termasuk melalui perguruan tinggi.

Salah satunya yang fokus pada pengembangan dan pengolahan EBT tersebut ialah Universitas Andalas (Unand) yang berada di Kota Padang, Provinsi Sumatera Barat.

Perguruan tinggi pertama di luar Pulau Jawa itu memulai pengembangan EBT pada Februari 2023, tepatnya setelah menandatangani kerja sama dengan perusahaan rintisan yang pertama kali menerapkan metode TOSS dalam hal riset, pengembangan dan pengolahan sampah menjadi sumber energi.

Kini, Unand telah mengembangkan EBT menjadi sumber energi alternatif bagi industri sekelas PT Semen Padang yang merupakan perusahaan semen tertua di Indonesia, bahkan di Asia Tenggara.

Menilik perguruan tinggi negeri itu lebih lanjut sebagai kampus hijau yang berada di lokasi perbukitan, institusi pendidikan ini dikenal sebagai salah satu kampus terasri di Ibu Pertiwi sebab keberadaannya yang dikelilingi pepohonan hijau serta rindang.

Sebelum ini, daun-daun kering, termasuk ranting pohon yang berjatuhan di lingkungan kampus, dikumpulkan oleh para petugas kebersihan untuk dibawa ke tempat pengolahan sampah.

Dedaunan kering berserta ranting kayu tersebut diolah menjadi pupuk kompos yang berguna bagi petani. Namun, proses pembuatan kompos sempat terkendala pasokan kotoran sapi yang merupakan bahan pendukung dari pembuatan pupuk organik.

Berangkat dari permasalahan itu, departemen teknik lingkungan, fakultas teknik kampus itu mencoba mengolah daun-daun kering menjadi bahan bakar alternatif hingga akhirnya digunakan oleh PT Semen Padang, salah satu perusahaan di bawah Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Sejak dimulai pada Februari 2023, Unand sudah berhasil mengolah kurang dari lima ton daun maupun ranting kayu menjadi bahan bakar alternatif.

Hebatnya, dedaunan kering tersebut ternyata mampu mengurangi persentase penggunaan batu bara yang selama ini menjadi sumber energi utama dari PT Semen Padang dalam menjalankan produksinya. Kendati belum sepenuhnya mampu menggantikan batu bara, namun hal itu rupanya telah menjadi langkah besar untuk menyelamatkan Bumi dari dampak perubahan iklim dan pemanasan global.

Koordinator bidang Energi dan Perubahan Iklim Tim Green Campus Unand Fadjar Goembira mengatakan berdasarkan hasil uji laboratorium PT Semen Padang, hasil olahan sampah organik yang dikerjakan kampus itu sudah memenuhi spesifikasi yang dibutuhkan perusahaan semen tersebut.

“Pada dasarnya, semua (sampah organik) yang terkumpul bisa diolah dengan teknologi TOSS ini,” katanya.

Terkait pengolahan daun-daun kering maupun ranting kayu, pada dasarnya hal itu dilakukan dengan cukup sederhana. Daun yang telah dikumpulkan dicacah menggunakan mesin pencacah hingga halus atau berukuran kecil.

Setiap 20 centimeter (cm) ketebalan sampah dalam biodrying harus disiram dengan bioaktivator untuk mempercepat proses pengeringan.

Selanjutnya, untuk pengeringan sendiri memakan waktu lima hingga tujuh hari. Setelah itu, sampah kering tersebut siap digunakan sebagai bahan bakar alternatif oleh PT Semen Padang.

Berdasarkan hasil uji laboratorium PT Semen Padang, nilai kalori dari pembakaran sampah organik tersebut ialah antara 3.000 hingga 3.200 per gram.

Selain di kampus tersebut, teknik pengolahan sampah organik menggunakan metode TOSS juga berhasil dikembangkan oleh salah satu desa di Denpasar, Bali. Bahkan, pengolahan itu sudah menghasilkan nilai ekonomis dengan nilai jual produk Rp1.500 per kg.

Energi ini lebih ramah lingkungan. Sementara pembakaran batu bara itu menjadi penyebab pemanasan global.

Continue reading

Cara Mudah Mengelola Sampah Organik Dengan Biopori

Sampah organik merupakan salah satu jenis sampah yang paling banyak dihasilkan oleh masyarakat di Indonesia. Sampah organik ini dapat berasal dari sisa makanan, daun-daunan, ranting-ranting, dan sebagainya.Menurut data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), dari 17 juta ton timbulan...

Kreatif dan Ramah Lingkungan: Jam Tangan Estetik ini Terbuat Limbah Kayu

Jika berada di tangan yang tepat, bahkan limbah yang biasanya berakhir di tempat sampah, bisa diubah menjadi sesuatu indah dan bernilai ekonomi.Itulah yang dilakukan oleh Ryssa Putri, wanita berusia 24 tahun asal Blitar. Dia menekuni usaha pembuatan jam tangan...

Masker Bedah Didaur Ulang untuk Hasilkan Gas Kaya Hidrogen

Masker bedah telah menjadi barang yang sangat umum dalam kehidupan sehari-hari kita selama pandemi COVID-19. Meskipun dunia telah berhasil melewati masa kritis ini, limbah masker medis ini masih menjadi masalah bagi lingkungan.Namun, peneliti dari Kaunas University of Technology (KTU)...