Kamis, Juli 25, 2024

Creating liberating content

Vietnam Mulai Lirik Kredit...

Jakarta, Limbahnews.com - Konsep kredit plastik dalam mengurangi limbah dari plastik terus digulirkan...

Tangani Limbah Corona, PT...

Jakarta, Limbahnews.com - Penanganan limbah medis terkait wabah corona (Covid-19) oleh PT Jasa...

Raksasa Rebutan Bahan Baku...

Jakarta, Limbahnews.com – Upaya mengolah sampah plastik terus berkembang. Produsen air minum dalam...

E-Commerce Akui Penjualan Bahan...

Jakarta, Limbahnews.com - E-commerce B2B resin atau biji plastik pertama di Indonesia, Tokoplas.com...
BerandaLimbahHilang Rp 551...

Hilang Rp 551 Triliun Per Tahun, Kementan dan FAO Kaji Pangan yang Terbuang

Jakarta, LN– Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) dan Kementerian Pertanian RI mengkaji penyebab penyusutan dan terbuangnya pangan di Indonesia, di mana buah dan sayuran paling banyak terbuang dalam rantai pangan.

“Buah dan sayuran adalah komoditas bergizi yang paling banyak hilang dan terbuang. Kita perlu bekerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan untuk memperbaiki situasi dan mengurangi susut dan limbah pangan di Indonesia,” kata Retno Sri Hartati Mulyandari, Sekretaris Direktorat Jenderal Hortikultura Kementan.

Berdasarkan data Bappenas pada 2021, susut dan terbuangnya pangan (food loss and waste) di Indonesia mencapai 115-184 kilogram per kapita per tahun selama dua dekade terakhir, dengan limbah terbesar terjadi pada tahap konsumsi, demikian keterangan FAO Indonesia pada Sabtu (3/9/2022). Angka tersebut mencakup terbuangnya pangan dari produksi ke grosir dan juga sisa pangan dari eceran ke rumah tangga, kata FAO. Adapun makanan yang terbuang paling banyak ditemukan pada tanaman, terutama sereal.

Sementara sektor pangan yang paling tidak efisien, karena banyak terbuang (menyusut) dalam rantai pangan adalah buah dan sayur. Kerugian ekonomi akibat susut dan terbuangnya pangan di Indonesia mencapai nilai sekitar Rp 213 triliun hingga Rp 551 triliun per tahun atau setara 4-5 persen dari produk domestik bruto (PDB) Indonesia.
FAO juga menyebutkan bahwa di kawasan Asia Pasifik, hampir setengah dari buah dan sayuran terbuang atau hilang, bahkan sebelum sampai ke piring konsumen.

“Sangat penting untuk memahami hambatan dan tantangan dalam rantai nilai untuk mengurangi kehilangan pangan, terutama untuk komoditas yang mudah rusak, seperti buah-buahan dan sayuran,” kata Perwakilan FAO di Indonesia Rajendra Aryal.

Dikatakan, terbuangnya pangan seringkali disebabkan berbagai keterbatasan manajerial dan teknis dalam teknik panen, penyimpanan, transportasi, pengolahan, fasilitas pendinginan, infrastruktur, pengemasan dan sistem pemasaran.

Untuk itu, FAO akan memberikan bantuan teknis kepada Kementan untuk mengeksplorasi hambatan dalam mengurangi susut dan terbuangnya pangan pada komoditas hortikultura yang mudah rusak. Kajian FAO bersama Kementan itu berfokus pada tiga komoditas terpilih, yakni cabai di Banyuwangi, Jawa Timur; bawang merah di Brebes, Jawa Tengah; dan kubis di Cianjur, Jawa Barat. Penelitian itu akan dilakukan mulai September 2022 hingga Januari 2023.

Studi itu bertujuan menghasilkan pemahaman yang lebih baik tentang titik susut dan terbuangnya pangan yang kritis dan solusi untuk mengatasinya pada tahap produksi hingga mencapai pasar grosir. Hasil studi mendalam terhadap ketiga komoditi tersebut juga akan dijadikan model bagi studi-studi selanjutnya di berbagai komoditi yang berisiko mengalami penyusutan. (Ant/LN-02)

Continue reading

Cara Mudah Mengelola Sampah Organik Dengan Biopori

Sampah organik merupakan salah satu jenis sampah yang paling banyak dihasilkan oleh masyarakat di Indonesia. Sampah organik ini dapat berasal dari sisa makanan, daun-daunan, ranting-ranting, dan sebagainya.Menurut data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), dari 17 juta ton timbulan...

Kreatif dan Ramah Lingkungan: Jam Tangan Estetik ini Terbuat Limbah Kayu

Jika berada di tangan yang tepat, bahkan limbah yang biasanya berakhir di tempat sampah, bisa diubah menjadi sesuatu indah dan bernilai ekonomi.Itulah yang dilakukan oleh Ryssa Putri, wanita berusia 24 tahun asal Blitar. Dia menekuni usaha pembuatan jam tangan...

Masker Bedah Didaur Ulang untuk Hasilkan Gas Kaya Hidrogen

Masker bedah telah menjadi barang yang sangat umum dalam kehidupan sehari-hari kita selama pandemi COVID-19. Meskipun dunia telah berhasil melewati masa kritis ini, limbah masker medis ini masih menjadi masalah bagi lingkungan.Namun, peneliti dari Kaunas University of Technology (KTU)...