Minggu, Juli 21, 2024

Creating liberating content

Imbas Corona, Industri Daur...

Ilustrasi sampah plastik impor (Artalab.id)Jakarta, Limbahnews.com - Pengusaha Jawa Timur (Jatim) mulai...

Pemerintah Beri Insentif PPN,...

Jakarta, Limbahnews.com - Pemerintah saat ini terus memperbaiki ekosistem industri daur ulang sampah...

Botol PET Wajib Pakai...

Jakarta, Limbahnews.com - Asosiasi Industri Air Minum Dalam Kemasan (Aspadin) menyatakan kewajiban menggunakan...

DKI Jakarta Larang Kantong...

Ilustrasi sampah plastik di TPS Sunter Koja, Jakarta. (Ist)Jakarta, Limbahnews – Bebeharapa hari...
BerandaTeknologiTekan Emisi, Pangeran...

Tekan Emisi, Pangeran Charles Ajak Kurangi Limbah Makanan

London, Limbahnews.com – Pangeran Charles dari Kerajaan Inggris menegaskan perlunya upaya untuk mengurangi limbah makanan yang dapat membuat emisi rumah kaca di dunia menurun. Saat ini dia berencana membuat proyek di Kanada agar setiap rumah tangga bisa mengurangi hingga sepertiga limbah makanan.

Menurut Charles, setiap keluarga dapat mengurangi emisi rumah kaca dan berhemat dengan membatasi jumlah makanan yang dibuang. Dalam sebuah wawancara, Prince of Wales ini bercerita tentang sebuah proyek penelitian di mana para keluarga mengadakan use-up day dan memotong sepertiga produk yang dibuang setiap pekannya.
Selama ini, Charles dikenal mengikuti praktik untuk menghabiskan makanan dan mengadopsi insiatif untuk mnenghemat sumber daya. Termasuk di antaranya dengan mengubah mobil sport Aston Martin miliknya untuk dapat menggunakan bahan bakar bioetanol dari wine (minuman anggur).

Baca : KLHK-Polri Selidiki Pencemaran Pesisir Lampung, Apa Kelanjutannya?

Selain itu, Charles mengatakan yayasan yang didirikan olehnya telah bekerja sama dengan koki selebritas Jamie Oliver dan Jimmy Doherty untuk membuat ‘Food for The Future’ atau makanan untuk masa depan. Ini adalah sebuah program yang mengajarkan anak-anak tentang siklus atau proses pembuatan makanan mulai dari masih menjadi bahan baku di ladang hingga menjadi hidangan di atas meja.

“Jika dapat mendorong dan memungkinkan mereka untuk melihat bahwa makanan adalah bagian dari sistem gabungan yang dapat membantu kesehatan bumi, mereka akan jauh lebih dapat membantu mengubah situasi untuk menghindari bencana iklim yang sedang terjadi,” ujar Charles seperti dilansir media Standard.co.uk, belum lama ini.

Charles mengatakan dalam satu hal, orang-orang akan menemukan bahwa hampir dalam semalam mereka dapat membantu mengurangi emisi gas rumah kaca global hingga 10 persen tanpa biaya apa pun. Namun, apa yang perlu dilakukan menurutnya adalah membuat pilihan berdasarkan informasi untuk membantu mengurangi jumlah besar makanan yang dibuang.

Baca : Digitalisasi 50 Bank Sampah, Sekda Palangka Raya Berharap Semakin Diperluas

Dia menggambarkan proyek di Kanada, di mana 1.000 keluarga menyisihkan satu hari dalam sepekan, sebagai use-up day untuk makanan yang akan dibuang ke tempat sampah. Apa yang mengejutkan ditemukan kemudian adalah keluarga-keluarga itu mengurangi jumlah makanan yang mereka buang setiap pekan dengan angka yang cukup signifikan.

“Itu menunjukkan jika setiap keluarga di Kanada melakukan hal yang sama, sekitar 250 ribu ton makanan per tahun dapat dihemat. Jadi bayangkan dampaknya di Inggris, yang merupakan rumah bagi hampir 30 juta orang lebih banyak daripada Kanada,” jelas Charles.

Charles berharap hal tersebut membuat para peteni tidak akan lagi berada di bawah tekanan yang sama untuk menghasilkan cukup banyak makanan dari tanah kita yang sulit. Termasuk untuk menghemat emisi gas rumah kaca yang sangat besar dan ada kemungkinan pengurangan besar dalam tagihan belanja mingguan masyarakat. [LN-04] redaksi@limbahnews.com || 081356564448

Continue reading

Cara Mudah Mengelola Sampah Organik Dengan Biopori

Sampah organik merupakan salah satu jenis sampah yang paling banyak dihasilkan oleh masyarakat di Indonesia. Sampah organik ini dapat berasal dari sisa makanan, daun-daunan, ranting-ranting, dan sebagainya.Menurut data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), dari 17 juta ton timbulan...

Kreatif dan Ramah Lingkungan: Jam Tangan Estetik ini Terbuat Limbah Kayu

Jika berada di tangan yang tepat, bahkan limbah yang biasanya berakhir di tempat sampah, bisa diubah menjadi sesuatu indah dan bernilai ekonomi.Itulah yang dilakukan oleh Ryssa Putri, wanita berusia 24 tahun asal Blitar. Dia menekuni usaha pembuatan jam tangan...

Masker Bedah Didaur Ulang untuk Hasilkan Gas Kaya Hidrogen

Masker bedah telah menjadi barang yang sangat umum dalam kehidupan sehari-hari kita selama pandemi COVID-19. Meskipun dunia telah berhasil melewati masa kritis ini, limbah masker medis ini masih menjadi masalah bagi lingkungan.Namun, peneliti dari Kaunas University of Technology (KTU)...