Minggu, Juli 21, 2024

Creating liberating content

INOV Yakin Industri Daur...

Jakarta, Limbahnews.com - Emiten yang bergerak di bidang daur ulang sampah botol plastik...

Raksasa Rebutan Bahan Baku...

Jakarta, Limbahnews.com – Upaya mengolah sampah plastik terus berkembang. Produsen air minum dalam...

BUMN Pertanian Garap Limbah...

Jakarta, Limbahnews.com - PT Pertani (Persero) menggandeng Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pasca...

Danone AQUA-Veolia Bangun Pabrik...

Dokumentasi pencanangan pabrik (Ist)Pasuruan, Limbahnews.com - Pabrik daur ulang botol PET (Polyethylene Terephthalate)...
BerandaLimbahIBCSD Atasi Limbah...

IBCSD Atasi Limbah Makanan 184 Kg Per Tahun Per Kapita

Jakarta, Limbahnews.com – Indonesia Business Council for Sustainable Development (IBCSD) meluncurkan Gotong Royong Atasi Susut dan Limbah Pangan (Grasp) 2030. Hal ini merupakan gerakan inisiatif mendorong para pemangku kepentingan di seluruh rantai sistem pangan untuk berkolaborasi mencari solusi mengurangi susut dan limbah pangan.
Presiden IBCSD Shinta Kamdani dalam keterangan tertulis, Jumat (10/9/2021) menjelaskan

Grasp 2030 adalah inisiatif berbasis voluntary agreement, di mana semua pihak bergabung secara sukarela untuk bertindak bersama karena urgensi isu food loss and waste. Hal itu merupakan komitmen sektor swasta mewujudkan rantai pangan yang berkelanjutan di Indonesia.

“Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Partnering for Green Growth and Global Goals (P4G) yang mendanai program ini, sehingga Grasp 2030 ini dapat dimulai. Grasp 2030 tidak hanya akan menjadi bagian dari solusi untuk mengurangi masalah sampah dan meningkatkan ketahanan pangan di Indonesia, tetapi juga dapat meningkatkan manfaat ekonomi, sosial dan lingkungan,” kata Shinta.

Baca : 8 Universitas di Indonesia dan Eropa Berkolaborasi Atasi Limbah Makanan

Kajian Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menyebutkan masyarakat Indonesia menghasilkan limbah atau sampah makanan 184 kg/tahun per kapita. Menurut data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, sampah makanan di Indonesia menyumbang sebesar 44% atau hampir separuh dari total sampah di Indonesia. Artinya, mengurangi sampah makanan, akan berdampak secara signifikan terhadap pengurangan sampah secara keseluruhan.
Apabila makanan terbuang menjadi sampah, hal ini menghasilkan efisiensi penggunaan sumber daya yang buruk dan dampak negatif lingkungan terutama dari emisi gas rumah kaca yang dihasilkan.

Dikatakan, pengurangan susut dan limbah pangan dapat memberikan dampak positif dari sisi sosial, yaitu dari sisi ketahanan pangan dan kebutuhan nutrisi masyarakat. Dari sisi ekonomi, pelaku usaha mendapat keuntungan dengan meningkatkan efisiensi dan meminimalisir kehilangan makanan di setiap lini rantai pasoknya.

Baca : Setahun Sisa Makanan 48 Juta Ton, Indonesia Buang Rp 551 Triliun Per Tahun

Sementara itu, Deputi Bidang Kemaritiman dan Sumber Daya Alam Kementerian PPN/Bappenas, Dr Ir Arifin Rudiyanto M.Sc, menyampaikan sejak Indonesia menjadi anggota pada September 2019 lalu, P4G, Bappenas bersama-sama dengan Shinta Kamdani dari IBCSD, dan Tri Mumpuni sebagai co-chair Indonesia P4G National Platform telah mendukung sejumlah kemitraan di Indonesia.

Aksi Gotong Royong Atasi Susut & Limbah Pangan 2030 adalah inisiatif tindak lanjut dari Halving Food Loss and Waste by Leveraging Economic Systems (Flawless) yang didukung oleh P4G sebagai wadah bagi pihak swasta untuk kegiatan-kegiatan terkait food loss and waste.

Sementara itu, Duta Besar Denmark untuk Indonesia, Lars Bo Larsen memaparkan ketika berbicara tentang rantai nilai pangan, dari produksi hingga konsumsi, penting bagi Indonesia untuk mengidentifikasi berbagai strategi di semua tingkatannya. Tantangan bagi setiap negara adalah bahwa semua memiliki target dan aktor yang berbeda di level yang berbeda. “Saya sangat menghargai semua pembicaraan dan kerja sama yang telah dilakukan dengan Bappenas dan saya ingin mengucapkan terima kasih untuk terlibat dalam hal ini,” jelas dia.

Grasp 2030 dibangun berdasarkan keberhasilan nyata dari apa yang telah dilakukan oleh WRAP (Waste & Resources Action Programme), mitra IBCSD dalam mengembangkan Grasp 2030. Dalam paparannya, Claire Kneller, Head of Asia Pacific WRAP menyampaikan, limbah makanan adalah masalah lingkungan yang sangat besar.
Selain itu, dalam acara peluncuran virtual bertajuk Reinforce Food Loss and Waste Partnership Actions Through Grasp 2030, hadir pula beberapa perwakilan perusahaan dan instansi yang telah bergabung dalam Grasp 2030. [LN-04] redaksi@limbahnews.com

Continue reading

Cara Mudah Mengelola Sampah Organik Dengan Biopori

Sampah organik merupakan salah satu jenis sampah yang paling banyak dihasilkan oleh masyarakat di Indonesia. Sampah organik ini dapat berasal dari sisa makanan, daun-daunan, ranting-ranting, dan sebagainya.Menurut data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), dari 17 juta ton timbulan...

Kreatif dan Ramah Lingkungan: Jam Tangan Estetik ini Terbuat Limbah Kayu

Jika berada di tangan yang tepat, bahkan limbah yang biasanya berakhir di tempat sampah, bisa diubah menjadi sesuatu indah dan bernilai ekonomi.Itulah yang dilakukan oleh Ryssa Putri, wanita berusia 24 tahun asal Blitar. Dia menekuni usaha pembuatan jam tangan...

Masker Bedah Didaur Ulang untuk Hasilkan Gas Kaya Hidrogen

Masker bedah telah menjadi barang yang sangat umum dalam kehidupan sehari-hari kita selama pandemi COVID-19. Meskipun dunia telah berhasil melewati masa kritis ini, limbah masker medis ini masih menjadi masalah bagi lingkungan.Namun, peneliti dari Kaunas University of Technology (KTU)...