Minggu, Juli 21, 2024

Creating liberating content

Pemerintah Beri Insentif PPN,...

Jakarta, Limbahnews.com - Pemerintah saat ini terus memperbaiki ekosistem industri daur ulang sampah...

Botol PET Wajib Pakai...

Jakarta, Limbahnews.com - Asosiasi Industri Air Minum Dalam Kemasan (Aspadin) menyatakan kewajiban menggunakan...

Eka Sari Lorena Masuk...

Jakarta, Limbahnews.com - PT Eka Sari Lorena Transport Tbk (LRNA) tengah menjajaki bisnis...

Bank Dunia Soal Daur...

Jakarta. Limbahnews.com - Negara-negara Asia Tenggara merugi sebanyak US$ 6 miliar atau Rp...
BerandaKomunitasKKP Bantu Sarana...

KKP Bantu Sarana Pusat Daur Ulang Sampah di Muara Gembong-Bekasi

Jakarta, Limbahnews.com – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Direktorat Pendayagunaan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (P3K), Ditjen Pengelolaan Ruang Laut (PRL) menyerahkan bantuan sarana dan prasarana untuk Tempat Penampungan Sementara/Pusat Daur Ulang (TPS/PDU) di Muara Gembong, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Bantuan tersebut sebagai upaya menangani sampah di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil dan sekaligus mengurangi dampaknya.

Plt Direktur Pengelolaan Ruang Laut Pamuji Lestari menjelaskan bantuan TPS/PDU dapat menjadi stimulan bagi kelompok dan masayarakat sekitar untuk dapat menggerakan dinamika perekonomian yang berbasis pada kebutuhan masyarakat di wilayah tersebut. “Penyaluran bantuan TPS/PDU ini dilakukan sebagai bentuk aksi terhadap penanganan dan pengelolaan sampah, agar sampah-sampah yang dihasilkan di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil dapat segera ditangani, sehingga dapat mengoptimalkan manajemen pengelolaan sampah plastik dari sumbernya,” ujar Pamuji dalam keterangan tertulisnya, Jumat (10/9/2021).

Baca : Jokowi Kirim Kapal Bersihkan Sampah, Labuan Bajo Butuh Aplikasi Mountrash

Dikatakan, bantuan diserahkan kepada kelompok Bank Sampah Koperasi Produsen Rumah Kreatif Bersama Muara Gembong, berupa motor angkut sampah, mesin pres sampah, tempat sampah outdoor, serta bangunan semi permanen sebagai rumah pelindung alat sekaligus tempat produksi.
“Bantuan sarpras (sarana dan prasarana) TPS/PDU tersebut juga sebagai upaya pemberdayaan masyarakat dalam meningkatkan partisipasi dan kapasitas masyarakat agar dapat mengelola sampah plastik dengan baik,“ ujar Pamuji.

Jika dilihat dari wilayahnya, Muara Gembong merupakan daerah pesisir yang dilalui daerah aliran sungai (DAS) Sungai Citarum. Setiap musim hujan, sampah yang mengalir di Citarum sampai laut kurang lebih mencapai 1 ton per hari. Kondisi ini diperparah dengan minimnya kesadaran masyarakat mengelola sampah sehingga menumpuk ke lautan.

Direktur Pendayagunaan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (P3K) Muhammad Yusuf mempertegas bahwa bantuan kepada TPS/PDU tersebut diharapkan kinerja kelompok dan pemberdayaannya semakin diperluas. Dukungan sarpras tersebut membuka peluang meningkatkan nilai tambah dari sampah yang dikelola.
“Jadi tidak hanya mampu membeli sampah dari nasabah bank sampah dan menjual ke pengepul saja, namun dapat terus berkembang bias menjadi pengepul besar. Sampah-sampah yang dikelola juga sudah dalam bentuk pres atau dipadatkan,” kata Yusuf.

Baca : Nadine Chandrawinata Curhat Soal Mangrove dan Sampah

Dia mengharapkan dukungan semua pihak, baik dari kecamatan, kelurahan dan masyarakat sekitarnya untuk terus bersama-sama bijak dalam mengelola sampah. Sejalan dengan itu, Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Jami’ Al-Hidayah diharapkan semakin berperan dalam menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan melalu dakwah di lingkungan masjid. Hal ini dapat menjadi jalan pembuka dalam membangun kesadaran masyarakat dalam pengelolaan sampah yang pada akhirnya dapat terbangun sebuah sistem tata kelola pengelolaan sampah yang terintegrasi dengan baik (good governance) dari hulu sampai hilir dengan konsep circular economy berbasis masjid.

“Tanpa dimulai dari diri sendiri, pengelolaan sampah yang terintegrasi tidak akan berjalan,” ujarnya.

Seperti diketahui, wilayah pesisir dan laut Indonesia sangat rentan dengan berbagai ancaman pencemaran baik dari aktivitas domestik manusia, industri, perhubungan laut, dumping maupun aktivitas lainnya. Indonesia dianggap sebagai penyumbang sampah plastik terbesar ke-2 di dunia, dimana 80% sampah yang masuk laut berasal dari daratan. Sampah yang masuk ke laut sangat berdampak pada sektor ekonomi dan pariwisata, mengganggu kehidupan biota laut dan ekosistem pesisir dan kesehatan manusia. Banyak biota yang memakan plastik (entangled) dan terjerat plastik (ingestion).

Jika sampah plastik ini tidak dikendalikan dan dikelola dengan baik, maka terjadi proses pelapukan menjadi mikro dan nano plastik yang akan merusak ekosistem pesisir dan/atau dimakan oleh plankton atau ikan. Selanjutnya, produktivitas perikanan dapat menurun dan implikasi dari mikroplastik bisa masuk ke jejaring makanan (food-chain) yang akhirnya menimbulkan masalah pada kesehatan manusia. [LN-03] redaksi@limbahnews.com

Continue reading

Cara Mudah Mengelola Sampah Organik Dengan Biopori

Sampah organik merupakan salah satu jenis sampah yang paling banyak dihasilkan oleh masyarakat di Indonesia. Sampah organik ini dapat berasal dari sisa makanan, daun-daunan, ranting-ranting, dan sebagainya.Menurut data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), dari 17 juta ton timbulan...

Kreatif dan Ramah Lingkungan: Jam Tangan Estetik ini Terbuat Limbah Kayu

Jika berada di tangan yang tepat, bahkan limbah yang biasanya berakhir di tempat sampah, bisa diubah menjadi sesuatu indah dan bernilai ekonomi.Itulah yang dilakukan oleh Ryssa Putri, wanita berusia 24 tahun asal Blitar. Dia menekuni usaha pembuatan jam tangan...

Masker Bedah Didaur Ulang untuk Hasilkan Gas Kaya Hidrogen

Masker bedah telah menjadi barang yang sangat umum dalam kehidupan sehari-hari kita selama pandemi COVID-19. Meskipun dunia telah berhasil melewati masa kritis ini, limbah masker medis ini masih menjadi masalah bagi lingkungan.Namun, peneliti dari Kaunas University of Technology (KTU)...