Minggu, Juli 21, 2024

Creating liberating content

Investasi Plastik Ramah Lingkungan,...

Jakarta, Limbahnews.com - PT Cheil Jedang Indonesia (PT CJ Indonesia) kembali mengembangkan investasi...

Imbas Corona, Industri Daur...

Ilustrasi sampah plastik impor (Artalab.id)Jakarta, Limbahnews.com - Pengusaha Jawa Timur (Jatim) mulai...

Investor Surabaya Segera Bangun...

Ambon, Limbahnews.com - Pabrik plastik akan segera dibangun di Toisapu, Kecamatan Leitimur Selatan,...

Peluang Bisnis Pengelolaan Limbah...

Jakarta, Limbahnews.com - Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) melihat adanya potensi untuk terlibat...
BerandaAnalisisMeracik Skema Pengenaan...

Meracik Skema Pengenaan Cukai Limbah Industri

Limbahnews.com – Limbah merupakan hasil buangan baik yang dihasilkan dari proses produksi maupun kegiatan rumah tangga (domestik). Tidak hanya dari kedua hal tersebut, alam juga dapat menghasilkan limbah. Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat pengembangan industri cukup tinggi. Namun, hingga saat ini, masih belum ada perhatian yang besar terhadap limbah hasil produksi.

Akhir-akhir ini, topik pencemaran limbah terhadap lingkungan menjadi pembicaraan yang hangat di berbagai media. Keberadaan limbah industri yang menimbulkan dampak negatif bagi manusia dan lingkungan perlu ditangani. Para pelaku industri diharapkan tidak hanya memikirkan keuntungan yang tinggi dari produksi dan mengesampingkan pengolahan limbah hasil industri.

Untuk mengontrol limbah industri yang berbahaya tersebut, pemerintah bisa menggunakan instrumen perpajakan, terutama cukai. Selain untuk menambah penerimaan negara, pengenaan cukai mempunyai fungsi utama sebagai pengendali eksternalitas negatif.

Baca : Solusi Integrasi Limbah, Kawasan Industri Jangan Ciptakan Kekumuhan

Limbah hasil industri memiliki karakteristik yang cukup serupa dengan emisi karbon. Adapun pajak atau cukai atas emisi karbon telah dikenakan di berbagai negara di dunia. Dalam contoh yang sederhana, industri (pabrikasi) akan menghasilkan limbah (cair, padat, dan gas) yang merupakan produk sisa (scrap).

Kualitas limbah yang dihasilkan setiap mesin berbeda-beda. Untuk penanganan limbah, dimungkinkan adanya pengenaan cukai atas limbah yang dihasilkan industri di Indonesia. Pengenaan cukai ini tidak menghilangkan kewajiban penyelenggaran corporate social responsibility (CSR) bagi perusahaan.

Pengenaan cukai atas limbah industri juga akan menghasilkan dua manfaat bagi negara. Selain menimbulkan adanya penerimaan negara, setiap industri akan berlomba untuk mengurangi limbah yang dihasilkan.

Baca : Limbah Medis PPLI Meningkat, PTTEP Optimalkan Insinerator PT Pindad

Dengan demikian, selain munculnya penerimaan negara, kelestarian terhadap lingkungan juga akan terbentuk. Cukai yang akan dikenakan atas limbah pabrik dapat dilakukan dalam bentuk atau jenis objek baru. Secara sederhana, cukai terutang adalah besarnya tarif dikalikan dengan objek cukai.

Pemerintah melalui Ditjen Bea dan Cukai (DJBC) dapat menetapkan tarif yang sesuai. Terkait dengan objek, nilai limbah industri harus dapat ditetapkan atau dikonversi dalam bentuk uang. Penetapan nilai objek dalam jenis ini dapat menggunakan skema yang mirip dengan pengenaan pajak bumi dan bangunan (PBB) yakni nilai jual objek pajak (NJOP).

Perlu adanya pengelompokan nilai per jenis limbah, baik untuk limbah cair, limbah padat, maupun limbah gas. Tentunya nilai objek akan makin tinggi apabila dampak dari limbah tersebut makin besar terhadap lingkungan.

Skema Pengenaan Cukai
Di sisi lain, berdasarkan pada hasil wawancara terhadap pelaksana DJBC serta penyuluh pajak Ditjen Pajak (DJP), insentif fiskal yang dapat diterapkan terhadap cukai limbah bisa bermacam-macam. Beberapa model insentif fiskal untuk mengurangi beban cukai seperti penerapan mekanisme pengurang layaknya batasan penghasilan tidak kena pajak (PTKP) dalam pajak penghasilan (PPh) atau nilai jual objek pajak tidak kena pajak (NJOPTKP) dalam PBB.

Mekanisme pengurang ini dibuat dengan cara menetapkan batas jumlah limbah buangan yang wajar suatu industri. Apabila jumlah limbah yang dibuang dalam suatu masa (bulan) belum melebihi ambang batas tersebut, pelaku industri tersebut akan bebas dari pengenaan cukai.

Dalam contoh yang sederhana terkait dengan limbah cair, misalnya, ambang batas tidak kena cukai yang ditetapkan adalah 1.000 liter per bulan. Jika industri menghasilkan limbah 1.200 liter selama satu bulan, cukai yang dikenakan adalah atas limbah 200 liter.

Baca : Debat Kandidat Pilkada Cilegon Bahas Limbah Industri, Ada Apa?

Jumlah limbah sebanyak 200 liter tersebut harus dikonversi ke dalam nilai uang seperti skema NJOP. Kemudian, hasil konversi tersebut dikalikan dengan tarif yang berlaku sehingga diperoleh nilai cukai terutang atas 200 liter limbah tersebut.

Selain itu, insentif lain yang dapat diterapkan dapat menggunakan konsep nilai kena cukai. Adapun nilai kena cukai adalah sebuah tarif (persentase) yang dikalikan dengan nilai objek yang sudah ditetapkan.

Besarnya persentase nilai kena cukai ini dapat ditentukan berdasarkan tingkatan bahaya dari suatu limbah. Limbah bahan berbahaya beracun (B3) terdiri dari beberapa karakteristik. Besarnya nilai kena cukai dapat ditetapkan berdasarkan karakteristik tersebut.

Misalnya, nilai kena cukai untuk limbah mudah meledak sebesar 50%, limbah mudah terbakar senilai 60%, limbah beracun 70%, limbah yang menyebabkan infeksi 80%, limbah bersifat korosif 90%, dan limbah bersifat reaktif 100%.

Persentase yang tercantum di atas hanyalah sebuah contoh. DJBC dapat menentukan sendiri besarnya persentase nilai kena cukai berdasarkan pada kajian yang lebih dalam. Tentunya, makin berbahaya suatu limbah maka makin tinggi nilai kena cukainya.

Penggunaan skema ini tentunya akan menimbulkan kesan keadilan dalam pengenaan cukai itu sendiri. Penentuan persentase nilai kena cukai juga dapat menggunakan tingkat kebahayaan dari suatu limbah. Tingkat kebahayaan ini dapat di ukur secara kimia melalui chemical oxygen demand (COD) atau biologycal oxygen demand (BOD).

Ditulis oleh Jai Kumar sebagai salah satu artikel yang dinyatakan layak tayang dalam lomba menulis DDTCNews 2021. [redaksi@limbahnews.com]

Continue reading

Cara Mudah Mengelola Sampah Organik Dengan Biopori

Sampah organik merupakan salah satu jenis sampah yang paling banyak dihasilkan oleh masyarakat di Indonesia. Sampah organik ini dapat berasal dari sisa makanan, daun-daunan, ranting-ranting, dan sebagainya.Menurut data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), dari 17 juta ton timbulan...

Kreatif dan Ramah Lingkungan: Jam Tangan Estetik ini Terbuat Limbah Kayu

Jika berada di tangan yang tepat, bahkan limbah yang biasanya berakhir di tempat sampah, bisa diubah menjadi sesuatu indah dan bernilai ekonomi.Itulah yang dilakukan oleh Ryssa Putri, wanita berusia 24 tahun asal Blitar. Dia menekuni usaha pembuatan jam tangan...

Masker Bedah Didaur Ulang untuk Hasilkan Gas Kaya Hidrogen

Masker bedah telah menjadi barang yang sangat umum dalam kehidupan sehari-hari kita selama pandemi COVID-19. Meskipun dunia telah berhasil melewati masa kritis ini, limbah masker medis ini masih menjadi masalah bagi lingkungan.Namun, peneliti dari Kaunas University of Technology (KTU)...