Jumat, Juli 12, 2024

Creating liberating content

Naksir Pengolahan Limbah Tambang,...

Ilustrasi pemulihan lahan bekas tambang (Mikrobios.id)Jakarta, Limbahnews.com - PT PP Presisi Tbk (PPRE)...

Limbah Sawit PTPN II...

Jakarta, Limbahnews.com - PT Perkebunan Nusantara (PTPN) II, anak perusahaan PT Perkebunan Nusantara...

Vietnam Mulai Lirik Kredit...

Jakarta, Limbahnews.com - Konsep kredit plastik dalam mengurangi limbah dari plastik terus digulirkan...

Circulate Capital Luncurkan Pendanaan...

Mountrash membangun kemitraan dalam pengelolaan sampah plastik di Indonesia.Jakarta, Limbahnews.com - Circulate Capital...
BerandaAnalisisPlastic Neutral, Donasi...

Plastic Neutral, Donasi dan Insentif Menghindari Racun

Sapta Putra Ginting PhD, Senior Coastal Management Consultant pada World Bank

Limbahnews.comPlastic Neutral merupakan upaya dan partisipasi masyarakat lebih luas untuk mengurangi sampah plastik yang terbuang di alam. Hal ini dengan mendorong partisipasi masyarakat maupun korporasi ikut menyumbangkan dana ke lembaga tertentu untuk pengurangan sampah plastik.

Upaya pengurangan sampah plastik sendiri bisa dilakukan dalam beberapa fase; seperti rethink (perubahan pola pikir/mindset sehingga mengurangi penggunaan plastik), reduce (pengurangan penggunaan plastik), reuse (penggunaan plastik sekali pakai menjadi beberapa kali), dan recycle (daur ulang penggunaan plastik). Secara umum plastik bekas diolah kembali menjadi untuk dimanfaatkan dalam kegiatan lainnya.

Baca : Revolusi Mental Atasi Sampah, Mountrash Bermitra dengan IPB University

Di Indonesia, sebagian sampah plastik ini pada akhirnya bermuara atau masuk ke laut (marine plastic debris), yang mengalami pelapukan sehingga menjadi micro-plastic. Jumlah marine plastic debris ini meningkat setiap tahun sejalan dengan berkembangnya berbagai industri dan penggunaan bahan baku plastik. Sampah yang masuk ke laut (marine debris) umumnya mengandung banyak plastik dan logam yang mengalami proses pelapukan dan penguraian yang cukup lama yaitu 50 – 400 tahun.

Laporan dari Jambeck.et al, 2015, menyebutkan marine debris yang didominasi sampah plastik di Indonesia diperkirakan menduduki nomor 2 (dua) di dunia yaitu sekitar 1,29 juta metrik ton/tahun setelah China sebesar 3,53 juta metrik ton/tahun. Akumulasi sampah plastik di perairan pesisir dan laut Indonesia telah mengalami proses pelapukan dan terurai menjadi micro-plastic.

Nonton : Jojo: Ada 7 kode jenis Plastik dan cara memilah Botol Plastik ala MOUNTRASH

Ternyata, micro-plastic ini dimakan ikan kecil dan ikan sedang serta predator, selanjutnya ikan yang memakan micro-plastic ini masuk ke dalam rantai makanan (food chain). Ini diperkuat dengan penelitian Universitas Hassanudin pada tahun 2015 yang menemukan 76 ikan dari 11 spesies terbukti 28% ikan memakan micro-plastic ukuran 0.1 – 1.6 mili meter (mm) di Tempat Pemasaran Ikan (TPI) Poutere, Makassar. Penelitian lain dari University California at Davis terhadap 64 ikan dari 12 spesies dan 12 kerang-kerangan menemukan bukti bahwa 67% ikan dan 25% kerang-kerangan memakan micro-plastic ukuran 0.3-5.9 mm di Pasar Ikan Halfmoon Bay, California.

Baca : Ampas Jadi Saus, Cabut Sendiri Singkong Rp 50.000 Per Pohon

Micro-plastic yang dimakan oleh ikan dikhawatirkan menjadi salah satu sumber racun karsinogen yang berpotensi masuk ke dalam rantai makanan (food chain) yang akan dikonsumsi manusia. Dalam jangka panjang akumulasi dari micro-plastic ini bisa berubah menjadi racun yang menimbulkan penyakit bagi manusia dan keturunannya.

Saat ini, dalam satu tahun diperkirakan 359 juta metrik ton plastik dimanfaatkan dan pada akhirnya menjadi limbah, artinya kira kira 53 kg plastik dimanfaatkan per orang per tahun. Upaya konvensional pengelolaan sampah sekarang, melalui kumpul, angkut, buang ke TPA dan olah seadanya, tidak akan menyelesaikan masalah sampah plastik. Salah satu masalahnya selain SDM dan teknologi adalah minimnya dana untuk mengelola sampah secara umum dan juga sampah plastik.

Oleh sebab itu diharapkan masyarakat yang mampu bisa berpartisipasi menyumbangkan/mendonasikan dananya untuk mengurangi dan mengelola sampah plastik yang ada sehingga jumlahnya jadi nol atau di offset menjadi tidak ada lagi sampahnya. Dana tersebut diatur lembaga yang dipercaya dan diakui sehingga donasi masyarakat atau koorporasi dikelola secara transparan dan dipertanggungjawabkan.

Ditulis oleh Sapta Putra Ginting PhD, Senior Coastal Management Consultant pada World Bank.

Limbahnews.com adalah media informasi, solusi dan teknologi pengelolaan limbah/sampah, hingga inovasi dalam ekonomi sirkular. Platform ini juga melayani berbagai jasa terintegrasi dan konsultasi, seperti AMDAL, manajemen dan promosi teknologi/industri daur ulang, penguatan brand/merek/citra, serta berbagai kerja sama lainnya. Info lanjut bisa menghubungi 081356564448.

Continue reading

Cara Mudah Mengelola Sampah Organik Dengan Biopori

Sampah organik merupakan salah satu jenis sampah yang paling banyak dihasilkan oleh masyarakat di Indonesia. Sampah organik ini dapat berasal dari sisa makanan, daun-daunan, ranting-ranting, dan sebagainya.Menurut data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), dari 17 juta ton timbulan...

Kreatif dan Ramah Lingkungan: Jam Tangan Estetik ini Terbuat Limbah Kayu

Jika berada di tangan yang tepat, bahkan limbah yang biasanya berakhir di tempat sampah, bisa diubah menjadi sesuatu indah dan bernilai ekonomi.Itulah yang dilakukan oleh Ryssa Putri, wanita berusia 24 tahun asal Blitar. Dia menekuni usaha pembuatan jam tangan...

Masker Bedah Didaur Ulang untuk Hasilkan Gas Kaya Hidrogen

Masker bedah telah menjadi barang yang sangat umum dalam kehidupan sehari-hari kita selama pandemi COVID-19. Meskipun dunia telah berhasil melewati masa kritis ini, limbah masker medis ini masih menjadi masalah bagi lingkungan.Namun, peneliti dari Kaunas University of Technology (KTU)...