Kamis, Juli 11, 2024

Creating liberating content

Imbas Corona, Industri Daur...

Ilustrasi sampah plastik impor (Artalab.id)Jakarta, Limbahnews.com - Pengusaha Jawa Timur (Jatim) mulai...

Potensi Pasar Masih Besar,...

German - Indonesian Forum on Potential Cooperation in Indonesia's Recycling Sector (Econid)Jakarta, Limbahnews.com...

Tangani Limbah Corona, PT...

Jakarta, Limbahnews.com - Penanganan limbah medis terkait wabah corona (Covid-19) oleh PT Jasa...

PD PAL Minta Dana...

Jakarta, Limbahnews.com - Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta Abdurrahman Suhaimi mengkritisi permintaan anggaran...
BerandaKasusAturan Baru PBB,...

Aturan Baru PBB, Malaysia Kirim Balik Sampah Plastik dari AS

Kuala Lumpur, Limbahnews.com – Malaysia akan mengembalikan satu kontainer berisi sampah plastik dari Amerika Serikat (AS) karena dianggap melanggar aturan baru Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tentang limbah berbahaya.
Juru Bicara Kementerian Lingkungan Malaysia Mohamad Khalil Zaiyany Sumiran mengatakan kepada Reuters bahwa kiriman limbah yang tidak mengantongi persetujuan sebelumnya untuk diimpor ke Malaysia, sedang dalam perjalanan dari AS.

“Setelah penyelidikan, Malaysia akan mengirim kembali peti kemas itu ke negara asal,” kata Mohamad Khalil, Rabu (24/3/2021), tanpa menyebut kapan tepatnya kiriman akan tiba.

Menteri Lingkungan Malaysia Tuan Ibrahim Tuan Man mengatakan dalam sebuah pernyataan pada Sabtu (20/3) bahwa pihak berwenang akan melarang kontainer, yang dikirim dari Los Angeles, California pada 14 Maret.

Dua tahun lalu, lebih dari 180 negara setuju untuk melarang perdagangan sampah plastik yang sulit didaur ulang sebagai upaya untuk menghentikan negara-negara kaya membuang sampah di negara berkembang, yang seringkali berakhir dengan mencemari lingkungan lokal dan laut. Aturan baru PBB yang mengatur perdagangan limbah berbahaya, yang berada di bawah Konvensi Basel, mulai berlaku pada Januari tahun ini.
Negara-negara penandatangan konvensi itu sekarang hanya dapat memperdagangkan limbah plastik jika memenuhi kriteria kontaminasi rendah tertentu—yang berarti bersih, dipilah dan mudah didaur ulang—atau jika negara pengekspor mendapat persetujuan sebelumnya dari negara pengimpor.

AS, yang menghasilkan lebih banyak sampah plastik per kapita dibandingkan negara lain, adalah satu-satunya negara besar yang tidak meratifikasi Konvensi Basel dan tidak terikat oleh peraturannya. Namun, berdasarkan perjanjian tersebut, Malaysia tidak dapat menerima sampah plastik terlarang dari AS.
Malaysia, yang menjadi tujuan utama sampah plastik dunia setelah China, melarang impor pada 2018 dan telah mengembalikan ribuan ton sampah plastik sejak saat itu. [LN-05]

Limbahnews.com || redaksi@limbahnews.com

Continue reading

Cara Mudah Mengelola Sampah Organik Dengan Biopori

Sampah organik merupakan salah satu jenis sampah yang paling banyak dihasilkan oleh masyarakat di Indonesia. Sampah organik ini dapat berasal dari sisa makanan, daun-daunan, ranting-ranting, dan sebagainya.Menurut data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), dari 17 juta ton timbulan...

Kreatif dan Ramah Lingkungan: Jam Tangan Estetik ini Terbuat Limbah Kayu

Jika berada di tangan yang tepat, bahkan limbah yang biasanya berakhir di tempat sampah, bisa diubah menjadi sesuatu indah dan bernilai ekonomi.Itulah yang dilakukan oleh Ryssa Putri, wanita berusia 24 tahun asal Blitar. Dia menekuni usaha pembuatan jam tangan...

Masker Bedah Didaur Ulang untuk Hasilkan Gas Kaya Hidrogen

Masker bedah telah menjadi barang yang sangat umum dalam kehidupan sehari-hari kita selama pandemi COVID-19. Meskipun dunia telah berhasil melewati masa kritis ini, limbah masker medis ini masih menjadi masalah bagi lingkungan.Namun, peneliti dari Kaunas University of Technology (KTU)...