Jumat, Juli 12, 2024

Creating liberating content

Adhi Karya Bidik Pendapatan...

Jakarta, Limbahnews.com - PT Adhi Karya Tbk (ADHI) mengincar pendapatan berulang atau recurring...

E-Commerce Akui Penjualan Bahan...

Jakarta, Limbahnews.com - E-commerce B2B resin atau biji plastik pertama di Indonesia, Tokoplas.com...

Potensi Pasar Masih Besar,...

German - Indonesian Forum on Potential Cooperation in Indonesia's Recycling Sector (Econid)Jakarta, Limbahnews.com...

Angkasa Pura Properti dan...

Medan, Limbahnews.com - PT Angkasa Pura Properti, salah satu anak perusahaan PT Angkasa...
BerandaKasusSetelah Sidak Pabrik,...

Setelah Sidak Pabrik, Adakah Kelanjutan Pencemaran di Gunung Putri – Bogor?

Bogor, Limbahnews.com – Matinya ribuan ikan di Situ Citongtut Ribuan, Gunung Putri, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, pada awal Februari lalu, ternyata masih menimbulkan sejumlah tanda tanya. Hal itu terkait dengan dampak lingkungan, program pemulihan situ (danau), penegakkan hukum dan pihak yang bertanggung jawab hingga pembenahan sebagai solusi jangka panjang.

Beberapa hari setelah kabar matinya ikan tersebut mencuat, beberapa pihak dari Komisi III DPRD Kabupaten Bogor, perwakilan Camat Gunung Putri, Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP), Dinas Perhubungan (Dishub) dan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) melakukan inspeksi mendadak (sidak).

Sidak dilakukan terhadap dua perusahaan kimia, yaitu PT Arindo Pacific Chemicals dan PT Van Aroma serta satu rumah sakit Permata Hospital di wilayah Kecamatan Gunung Putri, tepatnya di jalan raya Mercedez Benz, Desa Cicadas, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin (22/2/2021).

Dalam sidak itu, Komisi III membahas pembangunan koefisien dasar bangunan (KDB), ruang terbuka hijau (RTH) dan pengelolaan limbah. Sidak dalam rangka menyikapi permasalahan pencemaran limbah industri yang belum lama terjadi di Situ Citongtut sehingga ribuan ikan mati.

Ikan mati di Situ Citoungtut, Gunung Putri, Kabupaten Bogor (Ist)

Anggota Komisi III Achmad Fathoni mengatakan setelah nanti dicek, pihaknya akan melihat perizinannya benar atau tidak. Jadi, aktivitas usaha atau industri harus mematuhi aturan yang ada sehingga semua pihak dan lingkungan juga terjaga dengan baik.

“Kalau melanggar aturan, ini yang jadi masalah. Bayangkan dapat CSR dari perusahaan, katakan setahun seratus atau dua ratus juta, mau memperbaiki situ berapa biayanya kalau tercemar,” terangnya kepada sejumlah media.

Baca : Dalam Dua Pekan, Ribuan Ikan Mati di Dua Situ Gunung Putri-Bogor

Setelah sidak tersebut, hingga awal Maret lalu, Limbahnewss.com belum mendapatlan lagi hasil evaluasi dan tindak lanjut terkait dengan penanganan limbah situ Citongtut. Hal ini menjadi indikasi awal bahwa proses penanganan limbah industri di Kabupaten Bogor selalu tidak jelas.
Kondisi ini pernah diulas Limbahnews.com terkait dengan pencemaran ratusan pabrik dan industri yang membuang limbah ke Kali Cileungsi dan Kali Cikeas beberapa tahun lalu.

Seperti diketahui, Bupati Bogor Ade Yasin sudah meminta DLH untuk menelusuri penyebab matinya ribuan ikan di Situ Citongtut, Gunung Putri.
Ade Yasin meminta laporan hasil investigasi dari DLH Bogor mengenai matinya ribuan ikan tersebut diserahkan dalam waktu dekat.

Kepala Desa Cicadas, Dian Hermawan menyebutkan, ribuan ikan itu mengambang dan menumpuk ke permukaan pinggir danau yang airnya dalam kondisi keruh berwarna hitam. Selain itu, masyarakat juga mengeluhkan bau yang tak sedap. Dian menambahkan ribuan ikan yang mati tersebut merupakan sumbangan dari pemerintah dan pihak swasta. [LN-03]

Limbahnews.com || redaksi@limbahnews.com

Continue reading

Cara Mudah Mengelola Sampah Organik Dengan Biopori

Sampah organik merupakan salah satu jenis sampah yang paling banyak dihasilkan oleh masyarakat di Indonesia. Sampah organik ini dapat berasal dari sisa makanan, daun-daunan, ranting-ranting, dan sebagainya.Menurut data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), dari 17 juta ton timbulan...

Kreatif dan Ramah Lingkungan: Jam Tangan Estetik ini Terbuat Limbah Kayu

Jika berada di tangan yang tepat, bahkan limbah yang biasanya berakhir di tempat sampah, bisa diubah menjadi sesuatu indah dan bernilai ekonomi.Itulah yang dilakukan oleh Ryssa Putri, wanita berusia 24 tahun asal Blitar. Dia menekuni usaha pembuatan jam tangan...

Masker Bedah Didaur Ulang untuk Hasilkan Gas Kaya Hidrogen

Masker bedah telah menjadi barang yang sangat umum dalam kehidupan sehari-hari kita selama pandemi COVID-19. Meskipun dunia telah berhasil melewati masa kritis ini, limbah masker medis ini masih menjadi masalah bagi lingkungan.Namun, peneliti dari Kaunas University of Technology (KTU)...