Kamis, Juli 11, 2024

Creating liberating content

Botol PET Wajib Pakai...

Jakarta, Limbahnews.com - Asosiasi Industri Air Minum Dalam Kemasan (Aspadin) menyatakan kewajiban menggunakan...

PD PAL Minta Dana...

Jakarta, Limbahnews.com - Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta Abdurrahman Suhaimi mengkritisi permintaan anggaran...

Tipping Fee Bantargebang Rp...

Bekasi, Limbahnews.com - Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi bakal menerima uang sebesar Rp 379...

Daur Ulang 14,5 Juta...

Gideon W KetarenJakarta, Limbahnews.com – Aplikasi pengelolaan sampah, Mountrash.com, terus meningkatkan kinerjanya dalam...
BerandaTeknologiTingkatkan Biomassa dan...

Tingkatkan Biomassa dan Limbah, Bagaimana Biorefinery di Cilacap?

Jakarta, Limbahnews.com – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengatakan teknologi biorefinery dapat digunakan untuk meningkatkan nilai ekonomi biomassa dan limbahnya menjadi sumber energi dan produk-produk bernilai tambah.

“Konsep dan aplikasi biorefinery di Indonesia masih terus dikembangkan. Oleh karena itu diperlukan upaya evaluasi berkelanjutan terhadap perkembangan biorefinery dalam menyiapkan data base bahan baku yang digunakan, proses produksi, dan juga produk yang dihasilkan,” kata Kepala Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI Puspita Lisdiyanti dalam seminar virtual (webinar) Biorefinery in Indonesia: Current Status and Future Prospects, Jakarta, Kamis.

Biorefinery merupakan salah satu teknologi yang banyak dikembangkan dunia termasuk Indonesia. Teknologi itu merupakan perkembangan dari teknologi konversi biomassa dengan pendekatan yang lebih terintegrasi.

Puspita menuturkan saat ini biorefinery telah diaplikasikan pada berbagai industri strategis baik pangan, pakan, farmasi, kesehatan, lingkungan, dan energi. Pemanfaatan teknologi biorefinery bertujuan membuat berbagai produk turunan berbasis biomassa dengan pendekatan bioteknologi.

Baca : Investasi Plastik Ramah Lingkungan, CJ Indonesia Bangun Pabrik Rp 2,1 T

Dikatakan, teknologi biorefinery penting terutama untuk meningkatkan pemanfaatan sumber biomassa karbohidrat selulosa yang melimpah dari berbagai industri perkebunan, pertanian, dan kehutanan, serta pemanfaatan koleksi mikroba lokal dan sumber genetikanya yang akan menjadi satu kunci penting dalam teknologi biorefinery tersebut.

Menurut Puspita, seperti ditulis Antara, dengan tersedianya sumber biomassa dan mikroba yang tidak terbatas, maka melalui biorefinery terpadu akan dapat dihasilkan berbagai jenis produk berbasis kekayaan hayati (bioresources) yang meliputi flora, fauna dan mikroba lokal, dan akan bernilai lebih kompetitif di masa depan.

Belum lama ini, dalam rangka meninjau perkembangan proyek strategis nasional Refinery Development Master Plan (RDMP) dan kesiapan biorefinery di Refinery Unit IV Cilacap, sejumlah pejabat dari Kantor Staf Presiden (KSP) mengunjungi Kilang Pertamina Cilacap. Rombongan tamu diterima Vice President (VP) Strategic Planning PT Kilang Pertamina International Suprayitno, General Manager (GM) Pertamina Refinery Unit (RU) IV Joko Pranoto, dan Project Coordinator RDMP RU IV Cilacap Ari Dwikoranto di Gedung Patra Graha.

Rombongan KSP yang hadir yaitu Tenaga Ahli Utama Kedeputian I KSP Trijoko Solehoedin, didampingi tiga orang Tenaga Ahli Madya dan Muda Kedeputian I yakni Ahmad Agus Setiawan, Ferdy Alfarizka Putra, dan Dara Andhika Permatahati.

Baca : RPTRA Sedekah Minyak Jelantah, Kuningan Barat Garap ‘Kampung Tersenyum’

Menurut Joko, kilang-kilang dengan pengembangan biorefinery tersebut adalah Dumai, Plaju, dan Cilacap dengan progres tahap uji coba green gasoline ke-1. Seperti diberitakan media lokal, strategi Pertamina dan dukungan pemerintah dalam keberhasilan proyek biorefinery kolaborasi dengan produsen crude palm oil (CPO) eksisting untuk memenuhi kebutuhan 1 juta ton/tahun selama 20 tahun.

“Saat ini sudah pada tahap studi skema kerja sama dengan PT Perkebunan Nusantara (PTPN), termasuk penentuan formula perhitungan insentif yang dilakukan bersama Pertamina, EBTKE, Kemenkeu, Kemenristek dan ITB,” kata Joko.

Dikatakan, hal ini sebagai pemenuhan Peraturan Pemerintah (Permen) No 79 tahun 2014 tentang Kebijakan Energi Nasional dan Peraturan Menteri ESDM Nomor 12 tahun 2015 tentang Penyediaan, Pemanfaatan dan Tata Niaga Bahan Bakar Mabati (Bio Oil) sebagai bahan bakar lain. [LN-04]

limbahnews.com || redaksi@limbahnews.com

Continue reading

Cara Mudah Mengelola Sampah Organik Dengan Biopori

Sampah organik merupakan salah satu jenis sampah yang paling banyak dihasilkan oleh masyarakat di Indonesia. Sampah organik ini dapat berasal dari sisa makanan, daun-daunan, ranting-ranting, dan sebagainya.Menurut data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), dari 17 juta ton timbulan...

Kreatif dan Ramah Lingkungan: Jam Tangan Estetik ini Terbuat Limbah Kayu

Jika berada di tangan yang tepat, bahkan limbah yang biasanya berakhir di tempat sampah, bisa diubah menjadi sesuatu indah dan bernilai ekonomi.Itulah yang dilakukan oleh Ryssa Putri, wanita berusia 24 tahun asal Blitar. Dia menekuni usaha pembuatan jam tangan...

Masker Bedah Didaur Ulang untuk Hasilkan Gas Kaya Hidrogen

Masker bedah telah menjadi barang yang sangat umum dalam kehidupan sehari-hari kita selama pandemi COVID-19. Meskipun dunia telah berhasil melewati masa kritis ini, limbah masker medis ini masih menjadi masalah bagi lingkungan.Namun, peneliti dari Kaunas University of Technology (KTU)...