Kamis, Juli 25, 2024

Creating liberating content

Bank Dunia Soal Daur...

Jakarta. Limbahnews.com - Negara-negara Asia Tenggara merugi sebanyak US$ 6 miliar atau Rp...

Botol PET Wajib Pakai...

Jakarta, Limbahnews.com - Asosiasi Industri Air Minum Dalam Kemasan (Aspadin) menyatakan kewajiban menggunakan...

Indonesia Luncurkan Bursa Karbon,...

Pemerintah Indonesia secara resmi meluncurkan Bursa Karbon pada hari Selasa lalu (26/9/23) ....

E-Commerce Akui Penjualan Bahan...

Jakarta, Limbahnews.com - E-commerce B2B resin atau biji plastik pertama di Indonesia, Tokoplas.com...
BerandaKomunitas11 Tahun Pencemaran...

11 Tahun Pencemaran Laut Timor, Ada Kesengajaan Pembiaran?

Kupang, Limbahnews.com – Yayasan Peduli Timor Barat (YPTB) menyatakan kasus pencemaran Laut Timor akibat kebocoran ladang minyak Montara pada 21 Agustus 2009 sudah berjalan hampir 11 tahun lalu. Sayangnya, hingga saat ini kasus tersebut belum ada tindak lanjut.

“Pada 17 Agustus 2020, Indonesia genap 75 tahun dan pada saat yang sama rakyat di Nusa Tenggara Timur selama 11 tahun terus dibiarkan memikul tanggung jawab kasus pencemaran Laut Timor yang dilakukan Australia. Dan sampai saat ini belum ada titik terang,” kata Ketua YPTB Ferdi Tanoni di Kupang , Minggu (9/8/2020).

Dikatakan, hingga saat ini penyelesaian ganti rugi oleh pemerintah Australia dan perusahaan pencemar, yakni PTTEP Australasia, masih dibayangi tanda tanya dan penuh dengan ketidakjelasan. “Tidak menutup kemungkinan ada upaya untuk membiarkan sehingga tidak ada penyelesaian,” tegasnya.

Baca : Didukung Bank DKI, Ansor DKI Gelar Pelatihan Bank Sampah Mountrash

Ferdi mengatakan luasan perairan laut yang tercemar, menurut data hasil investigasi tim Australia yang dirujuk oleh Direktur Yayasan Peduli Timor Barat Ferdi Tanoni, mencapai 90.000 kilometer persegi, dan sebanyak 70-80 persen wilayah yang tercemar berada di wilayah Indonesia berdampak pada kerusakan lingkungan.

“Dampak yang dirasakan rakyat NTT luar biasa, seperti usaha budidaya kelautan dan perikanan di sepanjang pesisir Timor Barat hingga Pulau Rote, Sabu, dan Sumba gagal total,” ujarnya.

Menurut Ferdi, Pemerintah Indonesia dimungkinkan menggunakan klausul dalam Konvensi Hukum Laut Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNCLOS), yakni negara peratifikasi wajib menjaga lingkungan laut.

“Pemerintah Australia pun pantas ‘diingatkan’ dan diminta pertanggungjawaban serta menekan PTTEP Australasia segera membayar klaim ganti rugi Montara. Jika ini tak dilakukan Pemerintah Indonesia, ‘bangsa kalah’ adalah kisah masa depan,” katanya.

Menurut dia, penderitaan akibat pencemaran ini dirasakan di 13 Kabupaten dan Kota di NTT mencapai lebih dari 100,000 mata pencaharian rakyat, puluhan orang meninggal dunia, banyak sekali yang sakit, puluhan ribu hektare terumbu karang hancur di perairan Laut Sawu dan puluhan kali lipat ikan Paus terdampar dan ratusan ekor yang mati.

Baca : Ini 10 Merek Penyumbang Potensial Mikroplastik di Kali Surabaya

Dengan belum selesainya kasus ini ia mengkritik Pemerintah Indonesia dengan diberlakukannya Perjanjian Perdagangan RI-Australia IA-CEPA telah mengesampingkan penderitaan rakyat NTT.

Sebagai Ketua Tim Advokasi Rakyat Korban Montara, Ferdi kembali mendesak Tim Satuan Tugas Montara yang berjumlah 5 orang, segera menyampaikan konsep surat yang telah disepakati dan dikirim ke Presiden Joko Widodo untuk ditandatangani, kemudian segera dikirim ke Perdana Meneteri Australia Scott Morrison di Canberra.
Jika tidak ada respons dari Australia, maka Indonesia bisa membawa kasus ini ke ITLOS (Internationa Tribunal Law of the Sea) agar kasus Petaka Pencemaran Laut Timor ini segera berakhir.

limbahnews.com || redaksi@limbahnews.com

Continue reading

Cara Mudah Mengelola Sampah Organik Dengan Biopori

Sampah organik merupakan salah satu jenis sampah yang paling banyak dihasilkan oleh masyarakat di Indonesia. Sampah organik ini dapat berasal dari sisa makanan, daun-daunan, ranting-ranting, dan sebagainya.Menurut data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), dari 17 juta ton timbulan...

Kreatif dan Ramah Lingkungan: Jam Tangan Estetik ini Terbuat Limbah Kayu

Jika berada di tangan yang tepat, bahkan limbah yang biasanya berakhir di tempat sampah, bisa diubah menjadi sesuatu indah dan bernilai ekonomi.Itulah yang dilakukan oleh Ryssa Putri, wanita berusia 24 tahun asal Blitar. Dia menekuni usaha pembuatan jam tangan...

Masker Bedah Didaur Ulang untuk Hasilkan Gas Kaya Hidrogen

Masker bedah telah menjadi barang yang sangat umum dalam kehidupan sehari-hari kita selama pandemi COVID-19. Meskipun dunia telah berhasil melewati masa kritis ini, limbah masker medis ini masih menjadi masalah bagi lingkungan.Namun, peneliti dari Kaunas University of Technology (KTU)...