Kamis, Juli 25, 2024

Creating liberating content

Peluang Bisnis Pengelolaan Limbah...

Jakarta, Limbahnews.com - Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) melihat adanya potensi untuk terlibat...

BUMN Pertanian Garap Limbah...

Jakarta, Limbahnews.com - PT Pertani (Persero) menggandeng Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pasca...

E-Commerce Akui Penjualan Bahan...

Jakarta, Limbahnews.com - E-commerce B2B resin atau biji plastik pertama di Indonesia, Tokoplas.com...

Adhi Karya Bidik Pendapatan...

Jakarta, Limbahnews.com - PT Adhi Karya Tbk (ADHI) mengincar pendapatan berulang atau recurring...
BerandaKomunitas500 TKA China...

500 TKA China Masuk Sultra, Bagaimana Kelanjutan Amdal Limbah PT VDNI?

Jakarta, Limbahnews.com – Pihak manajemen PT Virtue Dragon Nickel Industry (VDNI) mengatakan 500 tenaga kerja asing (TKA) akan datang ke Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara, menggunakan visa kerja.
External Affair Manager PT VDNI Indrayanto kepada media menjelaskan, 500 TKA China tersebut bukan menggunakan visa kunjungan seperti yang dituduhkan sejumlah kalangan selama ini.
“Mereka, 500 TKA China adalah tenaga ahli, yang sudah mendapatkan dokumen Rencana Penggunaan Tenaga Kerja Asing (RPTKA) dari Kemenaker, persetujuan telex visa dari Dirjen Imigrasi, dan menggunakan visa 312 atau visa kerja dan bukan 211 visa kunjungan seperti yang dituduhkan,” terang Indrayanto dalam keterangan tertulisnya, pad akhir Juni lalu.
Menurut dia, setelah selesai pemasangan alat dan smelter siap beroperasi, maka yang akan mengambil alih pengoperasiannya adalah tenaga kerja Indonesia yang telah disekolahkan oleh pihak perusahaan ke China.
“Nantinya, 500 TKA ini akan kembali setelah 3 bulan, paling lama 6 bulan, sesudah selesai pemasangan alatnya,” terangnya.
Lalu bagaimana kelanjutan aktivitas perusahaan nikel internasional dengan investasi Rp 42 triliun tersebut?
Wakil Gubernur Sulawesi Tenggara (Sultra) Lukman Abunawas menyatakan, pabrik di Kecamatan Morosi, Konawe itu belum mengantongi analisis dampak lingkungan (Amdal) limbah.
Dia menegaskan, perusahaan harus memperhatikan pembangunan berwawasan lingkungan.
“Perusahaan jangan mengabaikan limbah pabrik yang dapat merusak lingkungan sekitar,” ujar Lukman Abunawas belum lama ini.
Dia juga menyebut, pabrik PT VDNI berada pada posisi yang berdekatan dengan Sungai Konaweha. Sumber air bersih bagi puluhan ribu warga di sekitar pabrik.
“Ini mesti diperhatikan. Soal keberadaannya, silahkan cek di lapangan,” ujar Lukman.
Dia menambahkan, bangga dengan hadirnya PT VDNI di Sulawesi Tenggara. Namun, harus memperhatikan aspek sosial terkait budaya masyarakat setempat, dalam hal ini masyarakat Tolaki.
Menurutnya, budaya masyarakat Tolaki sebagai salah satu komunitas terbesar di sekitar perusahaan, masih terjaga dan dihormati. Warga disekitar, kata Ketua Lembaga Adat Tolaki ini, bersikap religius, santun dan beretika.
External Affair Manager PT VDNI Indrayanto mengatakan, tidak ada limbah berbahaya di perusahaan. Menurutnya, tidak ada limbah B3 di PT VDNI.
“Limbah pengolahan ore nikel hanya berupa slag (ampas) hasil pembakaran. Dan itu, bersifat keras dan dapat digunakan untuk bahan bangunan,” ujarnya.
Dia merinci, tak ada limbah cair dari hasil pembakaran ore nikel. Slag, sudah digunakan untuk menambah kepadatan pengerasan jalan dan konstruksi di sekitar perusahaan. [LN-04]

limbahnews.com || redaksi@limbahnews.com

Continue reading

Cara Mudah Mengelola Sampah Organik Dengan Biopori

Sampah organik merupakan salah satu jenis sampah yang paling banyak dihasilkan oleh masyarakat di Indonesia. Sampah organik ini dapat berasal dari sisa makanan, daun-daunan, ranting-ranting, dan sebagainya.Menurut data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), dari 17 juta ton timbulan...

Kreatif dan Ramah Lingkungan: Jam Tangan Estetik ini Terbuat Limbah Kayu

Jika berada di tangan yang tepat, bahkan limbah yang biasanya berakhir di tempat sampah, bisa diubah menjadi sesuatu indah dan bernilai ekonomi.Itulah yang dilakukan oleh Ryssa Putri, wanita berusia 24 tahun asal Blitar. Dia menekuni usaha pembuatan jam tangan...

Masker Bedah Didaur Ulang untuk Hasilkan Gas Kaya Hidrogen

Masker bedah telah menjadi barang yang sangat umum dalam kehidupan sehari-hari kita selama pandemi COVID-19. Meskipun dunia telah berhasil melewati masa kritis ini, limbah masker medis ini masih menjadi masalah bagi lingkungan.Namun, peneliti dari Kaunas University of Technology (KTU)...