Kamis, Juli 11, 2024

Creating liberating content

Tutup Usaha Akibat Corona,...

Jakarta, Limbahnews.com - Wabah virus corona di Indonesia membuat dunia usaha mati suri,...

Eka Sari Lorena Masuk...

Jakarta, Limbahnews.com - PT Eka Sari Lorena Transport Tbk (LRNA) tengah menjajaki bisnis...

Limbah Sawit PTPN II...

Jakarta, Limbahnews.com - PT Perkebunan Nusantara (PTPN) II, anak perusahaan PT Perkebunan Nusantara...

Terkait Amdal dan Limbah,...

Jakarta, Limbahnews.com - PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) berkomitmen ikut berkontribusi mengurangi...
BerandaKebijakanMenghitung Skala Keekonomian...

Menghitung Skala Keekonomian Daur Ulang Sampah Plastik (Bagian I)

Ilustrasi sampah plastik kemasan (Ist)

Sampah plastik berserakan. Cuman perlu dipastikan jenis sampah plastik yang mana? Kalau jenis polyethylene terephthalate (PET) hampir pasti tidak banyak berserakan di jalanan. Sampah jenis ini misalnya, botol air mineral, sangat dicari dan laku. Bahkan, menjadi rebutan. Jadi, pemulungnyapasti langsung ‘mengamankan’ sampah jenis PET.

Sampah jenis lainnya seperti polypropylene dan polyethylene yang sering disebut dengan emberan di kalangan teman pelapak dan pemulung juga laku dan dicari para pendaur ulang.

Nah, sampah plastik yang berseakan ini merupakan jenis lain, terutama plastik sekali pakai atau single use plastic, seperti kantong kresek dan multilayer (terdiri dari berbagai jenis dan lapisan), seperti kantong/kemasan kopi sachet, kemasan sachet shampoo, dan lainnya.

Bagi pendaur ulang sampah plastik perlu diberikan apresiasi. Selain mencari keuntungan, mereka juga secara langsung ikut mengelola sampah plastik sehingga tidak berserakan. Sampah plastik ini paling sulit terurai ketika sudah menyatu di dalam lapisan tanah.

Tidak salah jika para pendaur ulang sampah plastik ini dikategorikan sebagai social entrepreneurship karena selain mencari laba juga ikut membantu menata lingkungan menjadi lebih bersih. Saya akan mengulas lebih banyak soal ekosistem bisnis daur ulang sampah plastik.

Pertama, bahan baku plastik, sebagian besar masih diperoleh dari pemulung, kemudian dijual ke lapak-lapak.

Baca : Mulai 1 Juli, Kantong Plastik Dilarang di Jakarta

Kedua, lapak kemudian menjual sampah plastiknya, PET, PE & PP (emberan) dan lainnya ke pengepresan atau langsung ke penggiling sampah plastik. Pengepresan merupakan usaha mikro dan kecil yang melakukang pengepresan sampah plastik terutama jenis PET dan kardus. Sampah plastik PET dipres dengan mesin hidrolik dengan tujuan mempermudah dalam pengangkutan. Sebagai gambaran, jika botol belum dipres (bodongan) satu truk hanya kisaran 500-600 kg. Jika sudah dipres, 1 truk bisa mengangkut plastik PET hingga 3 – 4 ton.

Ketiga, penggilingan sampah plastik yang langsung membeli bahan baku dari pemulung, lapak, dan pengepresan.

Keempat, pabrik daur ulang sampah plastik yang menerima cacahan (skrap plastik) dari UMKM penggilingan atau membeli PET pres dari UKMK pengepresan. Pabrik daur ulang membeli bahan baku berupa cacahan dan PET presan. Pabrik daur ulang ini bisa langsung membuat produk jadi, produk setengah jadi, skrap plastik, dan biji plastik.

Jadi, ada empat bagian dalam rantai pasok (supply chain) industri daur ulang sampah plastik yang saling terkait antara satu dengan lainnya.

Supply Chain

Saya coba mengurai terlebih dahulu dari sisi kendala atau problematik dalam supply chain daur ulang sampah plastik. Dalam bisnis, meskipun daur ulang plastik lebih cocok masuk kategori social entrepreneurship, semuanya harus ada nilai tambah, laba, dan lainnya agar bisnis ini bisa bertahan atau sustain. Tanpa laba, bahkan rugi, bisnis ini tidak akan bertahan lama, kecuali hanya sekadar kerja sosial atau dana dari kegiatan tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility/CSR).

Pertama, harga produk jadi yang berbahan baku dari plastik daur ulang akan sama dengan produk yang berasal dari biji plastik original/virgin plastic. Perusahaan petrokimia, seperti PT Pertamina (Persero), PT Chandra Asri Tbk., PT Lotte Chemical, Mitsubishi C&G, dan lainnya merupakan produsen produk petrokimia seperti PET, PP, PE, dan lainnya.

Kedua, harga bahan baku baik skrap plastik maupun biji plastik daur ulang pasti lebih murah dibandingkan dengan virgin plastic. Kenapa? Karena proses pengolahan bahan baku dari daur ulang untuk menjadi produk jadi lebih sulit dan membutuhkan effort lebih keras dibandingkan mengolah virgin plastic. Di sini muncul cost/biaya yang lebih besar sehingga harga bahan baku daur ulang pasti dan sudah seharusnya lebih murah atau di bawah virgin plastic. Ini sangat alamiah.

Baca : Menteri LHK Sebut Sampah Plastik Makin Kompleks, Mountrash Beri Solusi

Meskipun, tidak sedikit ditemui harga produk daur ulang lebih mahal dibandingkan virgin plastic. Beberapa produsen makanan dan minuman di dunia mulai sadar terhadap lingkungan. Demikian juga dengan konsumen yang mulai perhatian terhadap lingkunga. Tidak sedikit konsumen yang berani membayar lebih mahal terhadap produk dari hasil daur ulang. Namun, konsumen seperti itu masih sangat kecil. Sebagian besar masih akan mempertimbangkan soal harga, akan memilih harga yang lebih murah. Artinya, tantangan daur ulang untuk menuju ke tahap itu masih sangat jauh dan menghadapi jalan cukup terjal.

Kendala Bahan Baku

Apa yang terjadi dengan siklus bisnis daur ulang plastik di Indonesia? Usaha daur ulang sudah cukup menjamur, apalagi kalau jenis PET, sudah menjadi rebutan. Penggilingan sampah PET pun sudah cukup banyak, bahkan sangat kompetitif. Di sini menyebabkan terjadi perebutan bahan baku sampah PET. Pada akhirnya, harga bahan baku sampah PET menjadi mahal sehingga tidak masuk skala keekonomian bagi bisnis daur ulang sampah plastik.

Siapa yang salah? Lapak? Pemulung. Bukan. Kesalahan utama pada sistem manajemen sampah di negeri ini yang belum tertata dengan baik. Belum ada kesadaran kolektif seluruh stakeholder dari pemerintah, legislatif, masyarakat, dan lainnya soal sampah plastik. Belum ada political will dari pemerintah dan legislatif. Akhirnya, harga bahan baku sampah plastik menjadi mahal dan tidak masuk skala keekonomian.

Kenapa mahal? Karena rantai pasok cukup panjang. Ada pemulung yang harus mengumpulkan sampah, ada pelapak yang harus mengambil margin, ada pengpresan yang juga perlu margin, dan penggilingan sampah plastik.

Jika sistem manajemen sampah sudah terbentuk, tidak perlu ada lagi pemulung di Tanah Air. Loh, nanti kasihan para pemulung kerja apa? Di sinilah tugas Negara untuk memberikan lapangan pekerjaan yang lebih layak kepada rakyatnya. Seperti sudah tidak perlu lagi ada orang jalan keliling mencari sampah, memanggung sampah, dan lainnya.

Kalau tidak ada pemulung, terus siapa yang mengumpulkan/ membersihkan sampah plastik? Jika sistem menajemen sampah sudah berjalan dengan apik, sudah ada political will semua stakeholder, kesadaran masyarakat soal sampah, maka sampah sudah dipilah dari rumah, seperti yang sudah dilakukan di negara maju, Korea Selatan misalnya.

Jika manajemen sampah sudah terbentuk, rantai suplai bahan baku kian pendek, sehingga memangkas biaya. Selain itu, kualitas sampah plastik menjadi lebih baik, tidak kotor seperti saat ini, ini juga akan memangkas biaya produksi daur ulang. Bahkan, biaya sortir bisa dihilangkan jika sampah sudah dipilah dari user (rumah tangga, perkantoran, kompleks pabrik, hotel, restoran, dan lainnya).

Jika itu berjalan, sampah plastik menjadi bersih sehingga memangkas susut, pengolahan menjadi lebih mudah untuk menghasilkan produk berkualitas, biaya sortir terpangkas, dan harga bahan baku menjadi lebih murah. Ini sudah pasti akan memangkas biaya secara keseluruhan dari industri daur ulang. [LN-03]

Sepudin Zuhri (Editor Limbahnews.com, Owner Alala Recycling)

redaksi@limbahnews.com

Continue reading

Cara Mudah Mengelola Sampah Organik Dengan Biopori

Sampah organik merupakan salah satu jenis sampah yang paling banyak dihasilkan oleh masyarakat di Indonesia. Sampah organik ini dapat berasal dari sisa makanan, daun-daunan, ranting-ranting, dan sebagainya.Menurut data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), dari 17 juta ton timbulan...

Kreatif dan Ramah Lingkungan: Jam Tangan Estetik ini Terbuat Limbah Kayu

Jika berada di tangan yang tepat, bahkan limbah yang biasanya berakhir di tempat sampah, bisa diubah menjadi sesuatu indah dan bernilai ekonomi.Itulah yang dilakukan oleh Ryssa Putri, wanita berusia 24 tahun asal Blitar. Dia menekuni usaha pembuatan jam tangan...

Masker Bedah Didaur Ulang untuk Hasilkan Gas Kaya Hidrogen

Masker bedah telah menjadi barang yang sangat umum dalam kehidupan sehari-hari kita selama pandemi COVID-19. Meskipun dunia telah berhasil melewati masa kritis ini, limbah masker medis ini masih menjadi masalah bagi lingkungan.Namun, peneliti dari Kaunas University of Technology (KTU)...