Minggu, Juli 21, 2024

Creating liberating content

Naksir Pengolahan Limbah Tambang,...

Ilustrasi pemulihan lahan bekas tambang (Mikrobios.id)Jakarta, Limbahnews.com - PT PP Presisi Tbk (PPRE)...

Peluang Bisnis Pengelolaan Limbah...

Jakarta, Limbahnews.com - Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) melihat adanya potensi untuk terlibat...

Waspadai Harga Plastik di...

Kapal khusus memuat limbah plastik dari lautan. (Ist)Jakarta, Limbahnews.com - Ada sedikit cahaya...

E-Commerce Akui Penjualan Bahan...

Jakarta, Limbahnews.com - E-commerce B2B resin atau biji plastik pertama di Indonesia, Tokoplas.com...
BerandaTeknologiMenteri LHK Sebut...

Menteri LHK Sebut Sampah Plastik Makin Kompleks, Mountrash Beri Solusi

Jakarta, Limbahnews.com – Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya menyebutkan permasalahan sampah di Indonesia masih belum selesai dan menjadi semakin kompleks sehingga peta jalan pengurangan sampah oleh produsen menjadi salah satu cara mengatasinya.

“Persoalan sampah di Indonesia belum selesai, bahkan cenderung makin kompleks dengan mangnitude yang semakin besar. Pekerjaan rumah kita untuk pengelolaan sampah yang lebih baik dan berkelanjutan masih sangat banyak,” kata Menteri LHK dalam konferensi pers daring yang diadakan di Jakarta, Selasa (9/6/2020).

Siti Nurbaya memberi contoh bagaimana total timbunan sampah sekitar 67,8 juta ton pada 2020 dapat terus bertambah dengan pertumbuhan jumlah penduduk dan meningkatnya kesejahteraan masyarakat.
Menurut dia, yang perlu diperhatikan adalah meningkatnya jumlah dan ragam dari sampah jenis plastik dalam total timbunan sampah tersebut. Hal itu menjadikan sampah plastik sebagai salah satu prioritas pengelolaan sampah secara nasional.

Baca : Raksasa Rebutan Bahan Baku Sampah Plastik, Perusahaan Kecil Jadi Korban?

Jika tidak ada perubahan dari situasi biasa maka Menteri LHK memperingatkan komposisi plastik akan bertambah dua kali lipat pada 2050, berkontribusi 35 persen dari total sampah yang ada.
Hal itu, kata dia kepada Antara, akan mengakibatkan semakin banyak plastik yang tidak tertangani dan bisa mencemari ekosistem daratan dan perairan serta mengancam kesehatan manusia.

Selain pemerintah dan masyarakat, komunitas bisnis juga memiliki peranan dalam upaya pengurangan dan pengelolaan sampah. Peran tersebut, tegas Siti, sudah dituangkan secara rinci dalam Peraturan Menteri LHK Nomor P.75/MENLHK/SETJEN/KUM.1/10/2019 tentang Peta Jalan Pengurangan Sampah oleh Produsen yang diterbitkan 19 Desember 2019.

“Permen 75 itu menegaskan tentang target, tahapan dan langkah dalam kurun waktu 10 tahun yang konkret dan terukur, yang perlu dilakukan dan yang harus dilakukan produsen dalam upaya memenuhi kewajibannya,” kata dia.

Terkait sampah plastik tersebut, Gideon W Ketaren selaku pendiri aplikasi pengelola sampah Mountrash sangat memaklumi kekhawatiran dari Menteri LHK. Salah satu cara mengatasi sampah adalah memanfaatkan berbagai inovasi dan teknologi digital sehingga persoalan sampah bisa menjadi peluang bisnis.

“Banyak potensi bangsa Indonesia dengan berbagai inovasi dan teknologi ini yang bisa menjadi solusi atas persoalan sampah. Keprihatinan Menteri LHK harus memacu semua pihak untuk secara total mengatasi sampah plastik,” tegas alumni Institut Pertanian Bogor (IPB) ini.

Dia menjelaskan, aplikasi Mountrash bisa menjadi salah satu solusi dalam menjawab persoalan sampah plastik di Indonesia. Aplikasi yang sudah diunduh berbagai lapisan masyarakat tersebut tidak hanya sekadar mempercepat pengumpulan berbagai jenis sampah plastik, tetapi justru menciptakan peluang dan lapangan kerja baru.

Baca : Mountrash Dukung Kerja Sama APSI dan Pemkab Klungkung

Gideon menjelaskan dengan Mountrash pengumpulan sampah plastik bisa dilakukan dengan cepat, bersih, dan langsung dari sumbernya. “Jadi tidak menimbulkan banyak biaya di TPS Kelurahan, malah ibu rumah tangga mendapatkan income hanya dari memilah sampahnya di rumah,” katanya.

Yang paling penting, lanjutnya, aktivitas revolusi mental trash management ini bisa menyerap banyak tenaga kerja baru di tengah pandemi Covid-19 ini. Dengan kemampuan UMKM daur ulang yang hanya sanggup menggiling/cacah plastik 20 ton/bulan dan para pendaur organik (baik metode BSF dan composting) juga hanya 20 ton/bulan maka untuk mengatasi sampah 67,8juta ton tahun 2020 ini dibutuhkan 200 ribuan UMKM penggiling/cacah. Dalam sistem Mountrash, UMKM penggiling/cacah disebut Mountrash Collection Point (MCP) yang tentunya membutuhkan 3-4 tenaga kerja untuk menjalankan usahanya.

“Jumlah tenaga kerja bertambah seiring dengan meningkatnya jumlah pengepul (MCP). Sampah plastik bisa diatasi, lapangan kerja bertabah dan semua merasakan keuntungan bersama. Jadi, silahkan download Mountrash sekarang juga,” ujar CEO Mountrash Avatar Indonesia ini. [LN-04]

limbahnews.com || redaksi@limbahnews.com

Continue reading

Cara Mudah Mengelola Sampah Organik Dengan Biopori

Sampah organik merupakan salah satu jenis sampah yang paling banyak dihasilkan oleh masyarakat di Indonesia. Sampah organik ini dapat berasal dari sisa makanan, daun-daunan, ranting-ranting, dan sebagainya.Menurut data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), dari 17 juta ton timbulan...

Kreatif dan Ramah Lingkungan: Jam Tangan Estetik ini Terbuat Limbah Kayu

Jika berada di tangan yang tepat, bahkan limbah yang biasanya berakhir di tempat sampah, bisa diubah menjadi sesuatu indah dan bernilai ekonomi.Itulah yang dilakukan oleh Ryssa Putri, wanita berusia 24 tahun asal Blitar. Dia menekuni usaha pembuatan jam tangan...

Masker Bedah Didaur Ulang untuk Hasilkan Gas Kaya Hidrogen

Masker bedah telah menjadi barang yang sangat umum dalam kehidupan sehari-hari kita selama pandemi COVID-19. Meskipun dunia telah berhasil melewati masa kritis ini, limbah masker medis ini masih menjadi masalah bagi lingkungan.Namun, peneliti dari Kaunas University of Technology (KTU)...