Minggu, Juli 21, 2024

Creating liberating content

Waspadai Harga Plastik di...

Kapal khusus memuat limbah plastik dari lautan. (Ist)Jakarta, Limbahnews.com - Ada sedikit cahaya...

Naksir Pengolahan Limbah Tambang,...

Ilustrasi pemulihan lahan bekas tambang (Mikrobios.id)Jakarta, Limbahnews.com - PT PP Presisi Tbk (PPRE)...

PD PAL Minta Dana...

Jakarta, Limbahnews.com - Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta Abdurrahman Suhaimi mengkritisi permintaan anggaran...

Pelaku Industri Kimia dan...

Jakarta, Limbahnews.com - Pelaku industri plastik yang tergabung dalam Asosiasi Industri Olefin, Aromatik...
BerandaBisnisRaksasa Rebutan Bahan...

Raksasa Rebutan Bahan Baku Sampah Plastik, Perusahaan Kecil Jadi Korban?

Jakarta, Limbahnews.com – Upaya mengolah sampah plastik terus berkembang. Produsen air minum dalam kemasan (AMDK), Danone Aqua, sudah terjun ke bidang usaha pengolahan sampah plastik (daur ulang) berbasis polyethylene terephthalate (PET) di Indonesia. Hal ini diikuti oleh Coca-Cola dengan menggandeng perusahaan multinasional Dynapack Asia (Dynapack).

Cola Coca berdalih bahwa joint venture dengan Dynapack ini merupakan partisipasi nyata dalam melestarikan lingkungan dan meningkatkan kualitas limbah PET untuk produk kemasan makanan. Hal itu sekaligus sebagai implementasi visi Coca-Cola sebagai perusahaan world without waste.

Lintong Manurung yang juga Ketua Umum Jaringan Pemerhati Industri dan Perdagangan dalam sebuah tulisannya justru menilai partisipasi raksasa produsen minuman kemasan itu bisa berdampak negatif.

Dikatakan, hadirnya kedua perusahaan raksasa dunia ini, Coca Cola dan Danone yang merupakan produsen penghasil merek yang paling dipilih menimbulkan berbagai implikasi dan dampak buruk bagi industri daur ulang PET dalam negeri yang sudah berjalan baik hingga saat ini.

Industri daur ulang PET yang sudah bertumbuh dan berkembang dengan sangat baik di Indonesia. Mata rantai usaha yang melibatkan banyak pelaku usaha kecil yang terdiri dari pemulung, pelapak, industri pencacah dan industri daur ulang akan hancur dan menutup usahanya. “Hal itu karena harus bersaing bebas dengan perusahaan raksasa dunia untuk memperebutkan hasil kerja dari para pemulung dalam mendapatkan bahan baku limbah plastik,” jelasnya dalam laman jawapers.co.id.

Seperti diketahui, jenis sampah plastik PET memang bernilai ekonomis tinggi karena dapat di daur ulang menjadi bahan baku plastik yang menghasilkan produk yang memiliki nilai tambah seperti bahan baku tekstil, kemasan (botol) minuman dll. Dengan pertimbangan peluang bisnis yang menguntungkan dan memanfatkan regulasi pemerintah tentang Extended Producer Responsibility (EPR) dalam UU Nomor 18 Tahun 2008 adalah EPR, kedua raksasa ini masuk dalam bisnis yang selama ini sudah digeluti ratusan industri-industri kecil dan banyak melibatkan tenaga kerja di Indonesia.

“Sayangnya kebijakan kedua perusahaan raksasa ýang memiliki teknologi dan modal yang sangat besar serta kemampuan daya saing yang sangat tinggi jelas meremukkan ribuan perusahaan kecil,” tulis Lintong.

Dalam waktu dekat, katanya, dampak buruk akan terlihat pada perusahaan-perusahaan kecil ini yang meliputi seluruh pelapak, industri pencacah dan industri daur ulang berbasis PET akan tutup sehingga menambah pengangguran di Indonesia.

Sejatinya, kedua perusahaan raksasa dunia, kalau sungguh-sungguh berminat membantu penyelesaian masalah sampah plastik di Indonesia seharusnya tidak perlu ikut berinvestasi di bidang industri pengelolaan sampah plastik (recycling). Apalagi industri recycling PET ini sudah bertumbuh dan banyak diminati pengusaha-pengusaha kecil.

Alternatif yang paling baik, lanjut Lintong, seharusnya membangun dan membina industri kecil plastik yang sudah ada sebagai anak angkat (sub contractor) sebagai mana dianut/dilaksanakan industri-industri besar dunia sebagai mata rantai pemasoknya.

“Danone dan Coca Cola sebagai perusahaan besar yang sudah lama beroperasi dan mendapat manfaat besar di negeri ini seharusnya memberikan kontribusi menyelesaikan penanggulangan plastik yang kurang ekonomis untuk didaur ulang. Mulai dari sachet, multilayer dan jenis plastik lainnya yang saat ini menjadi sampah masuk ke sungai dan laut atau terbuang di daratan lalu membunuh biota dan mencemari lingkungan hidup,” tegasnya.

Dia menekankan, sebagai negara yang menganut ideologi Pancasila dan memiliki semangat ekonomi gotong royong membangun pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan bangsa, seharusnya pemerintah mengarahkan kebijakan investasi di negeri ini dengan tujuan pemerataan pembangunan dan pemerataan berusaha. Pelaksanaan ekonomi bebas sebagaimana dianut negara-negara kapitalis sejatinya dihindari di negeri ini.

Secara terpisah, Gideon Wijaya Ketaren selaku pendiri aplikasi pengolah sampah plastik, Mountrash, menambahkan bahwa pemerintah seharusnya mempertimbangkan dalam setiap investasi justru tidak membawa kesengsaraan masyarakat. Kolaborasi yang dibangun adalah saling memberdayakan dan memperkuat sehingga solusi yang dipakai juga bisa lebih komprehensif.

Ditegaskan, jangan sampai pemerintah hanya mau mengejar kuantitas pengurangan sampah plastik melalui investasi perusahaan besar, tetapi di sisi lain mematikan ribuan usaha pengolahan sampah plastik yang sudah beroperasi selama puluhan tahun.

“Kalau usaha rakyat belum efisien, ya itu tugas pemerintah untuk mendorong kemitraan sehingga semua pihak semakin kuat,” ujar CEO PT Mountrash Avatar Indonesia ini. [LN-04]

limbahnews.com || redaksi@limbahnews.com

Continue reading

Cara Mudah Mengelola Sampah Organik Dengan Biopori

Sampah organik merupakan salah satu jenis sampah yang paling banyak dihasilkan oleh masyarakat di Indonesia. Sampah organik ini dapat berasal dari sisa makanan, daun-daunan, ranting-ranting, dan sebagainya.Menurut data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), dari 17 juta ton timbulan...

Kreatif dan Ramah Lingkungan: Jam Tangan Estetik ini Terbuat Limbah Kayu

Jika berada di tangan yang tepat, bahkan limbah yang biasanya berakhir di tempat sampah, bisa diubah menjadi sesuatu indah dan bernilai ekonomi.Itulah yang dilakukan oleh Ryssa Putri, wanita berusia 24 tahun asal Blitar. Dia menekuni usaha pembuatan jam tangan...

Masker Bedah Didaur Ulang untuk Hasilkan Gas Kaya Hidrogen

Masker bedah telah menjadi barang yang sangat umum dalam kehidupan sehari-hari kita selama pandemi COVID-19. Meskipun dunia telah berhasil melewati masa kritis ini, limbah masker medis ini masih menjadi masalah bagi lingkungan.Namun, peneliti dari Kaunas University of Technology (KTU)...