Minggu, Juli 21, 2024

Creating liberating content

Anthony Pratt, Miliarder Daur...

Jakarta, Limbahnews.com - Bukan rahasia lagi bagi turunan Yahudi menguasai ekonomi dunia. Rupanya...

PD PAL Minta Dana...

Jakarta, Limbahnews.com - Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta Abdurrahman Suhaimi mengkritisi permintaan anggaran...

Investor Surabaya Segera Bangun...

Ambon, Limbahnews.com - Pabrik plastik akan segera dibangun di Toisapu, Kecamatan Leitimur Selatan,...

Sektor Makanan dan Minuman...

Jakarta, Limbahnews.com - Sejumlah tantangan harus dihadapi industri plastik hilir. Sebut saja terimbas...
BerandaTeknologiPolemik "Multilayer", Keamanan...

Polemik “Multilayer”, Keamanan dan “Waste Management”

Jakarta, Limbahnews.com – Kemasan dibuat untuk mengurangi sampah makanan. Sebanyak 30 persen makanan di dunia terbuang percuma karena rusak. Oleh karena itulah, kemasan dibuat untuk melindungi makanan supaya tahan lama, aman dan tidak meracuni, tapi juga harus ramah lingkungan.

Henky Wibawa, Ketua Federasi Pengemasan Indonesia (FPI) menyatakan hal itu terkait isu kemasan multilayer yang hinggi masih membebani lingkungan karena bocor ke lingkungan.

Lalu kenapa produsen menggunakan kemasan multilayer yang tidak LDU (Layak Daur Ulang)? Menurut Henky, kemasan itu harus dapat melindungi produk yang dikemasnya tahan laman, aman, sehat dan layak dikonsumsi.

“Contohnya kemasan kopi sachet sekali pakai, menumbuhkan ekonomi warung-warung pinggir jalan hingga penjual kopi asongan dengan konsumennya kalangan bawah bisa menikmati kopi,” kata dia.

Tanpa kemasan sachet multilayer, lanjut Henky, maka kopi yang dijual tersebut tidak akan layak lagi untuk diminum karena berjamur, aroma kopinya hilang, bergumpal, dan produknya rusak. “Kalau dihilangkan, ekonomi kelas bawah akan terdistrupsi dan terjadi PHK besar-besar pada karyawan di pabrik kopi itu,” ucap Henky.

Konsumen kelas bawah, menurut Henky juga menjadi perhatian Lever Brothers, grup Unilever di India yang melakukan survey daya beli konsumen terhadap produk odol atau pasta gigi pada 1997. Hasilnya hanya 10 persen konsumen yang membeli atau memakai odol dalam tube karena daya beli masyarakat rendah.

Untuk memenuhi kebutuhan konsumen kelas bawah, maka dibuatlah odol dalam sachet multilayer yang bisa dipakai hingga 10 kali. Kualitas odol seharga 1 rupe itu tetap terjaga kualitasnya.

Bagaimana dengan di Indonesia?

Menurut Henky, pada awal tahun 90-an, Indonesia tengah menggenjot proyek infratruktur. Banyak kuli bangunan membutuhkan Shampoo, tapi jika membeli shampoo dalam botol ia tak mampu. Maka dikembangkanlah shampoo kemasan sachet, sehingga para kuli bangunan itu bisa membelinya.

Lalu pelaku UMKM di daerah yang memproduksinya produknya, mereka juga butuh kemasan agar makanannya tahan lama, tetap renyah dan tidak rusak sampai ke konsumen di kota-kota besar. Maka tugas produsen kemasanlah untuk membuat kemasan itu sesuai dengan kebutuhannya.

Menurut Henky, saat ini perubahan gaya hidup menyebabkan tuntutan kemasan semakin kompleks, yang tadinya tiga aspek (better, safer dan cheaper atau ekonomis) menjadi enam aspek yang harus diperhatikan oleh produsen kemasan, termasuk untuk menjaga keseimbangan lingkungan yakni, kemasan itu harus better, faster, safer, smarter, cheaper dan greener (LDU).

“Contohnya di Jepang, kemasan retort, adalah kemasan untuk makanan siap saji yang memiliki ketahanan kuat dan untuk makanan. Dengan kemasan retort, makanan dapat disimpan selama setahun lebih pada suhu ruangan, tidak rusak, tidak berjamur, aroma dan rasanya tetap enak,” kata dia.

Kemasan retort di Jepang itu dibuat dengan material multilayer yang terdiri dari PET, alumunium foil, Nylon dan CPP multilayer. Tapi, di Negeri Sakura itu, kemasan tersebut tidak bocor ke lingkungan, karena waste management-nya berjalan dengan baik.

“Jadi bukan salah kemasannya, tapi lihat apakah waste management-nya sudah baik atau belum,” tukas Henky.

Saut Marpaung, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Sampah Indonesia (APSI) sependapat dengan Henky Wibawa. Menurut dia, waste management di Indonesia belum berjalan, padahal Undang-undang, peraturan pemerintah, peraturan menterinya sudah ada, tapi implementasinya zero.

Menurut dia, untuk mendorong waste management, pemerintah harus segera membuat aturan main untuk proses implementasi EPR (Extended Producer Responsibility). Saat ini Permen LHK No.75 Tentang Tanggung Jawab Pengurangan Sampah oleh Produsuen belumlah cukup untuk melaksanakan EPR, sebab itu baru sebatas “nasihat”.

Saut menyatakan, kita sudah banyak berbicara dalam diskusi, rapat, FGD, seminar nasional hingga internasional tentang persampahan, tentang sampah plastik dan sachet yang bocor ke lingkungan, tapi semua itu hanya hiruk-pikuk di wacana dan nol implementasi.

Cukuplah kita berwacana, saatnya pemerintah pusat dan pemerintah daerah bersinergi melaksanakan Undang-undang, menyediakan infrastruktur persampahan.

“Pemerintah juga punya tugas mengedukasi masyarakat, menyediakan infrastruktur hingga membentuk badan EPR. Badan itulah yang akan menghubungkan kerjasama produsen dengan pemda dan pendaur ulang untuk mengelola sampah secara circular economy,” kata Saut seperti ditulis dalam laman adupi.org. [ES/Adupi]

Limbahnews.com || redaksi@limbahnews.com

Continue reading

Cara Mudah Mengelola Sampah Organik Dengan Biopori

Sampah organik merupakan salah satu jenis sampah yang paling banyak dihasilkan oleh masyarakat di Indonesia. Sampah organik ini dapat berasal dari sisa makanan, daun-daunan, ranting-ranting, dan sebagainya.Menurut data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), dari 17 juta ton timbulan...

Kreatif dan Ramah Lingkungan: Jam Tangan Estetik ini Terbuat Limbah Kayu

Jika berada di tangan yang tepat, bahkan limbah yang biasanya berakhir di tempat sampah, bisa diubah menjadi sesuatu indah dan bernilai ekonomi.Itulah yang dilakukan oleh Ryssa Putri, wanita berusia 24 tahun asal Blitar. Dia menekuni usaha pembuatan jam tangan...

Masker Bedah Didaur Ulang untuk Hasilkan Gas Kaya Hidrogen

Masker bedah telah menjadi barang yang sangat umum dalam kehidupan sehari-hari kita selama pandemi COVID-19. Meskipun dunia telah berhasil melewati masa kritis ini, limbah masker medis ini masih menjadi masalah bagi lingkungan.Namun, peneliti dari Kaunas University of Technology (KTU)...