Minggu, Juli 21, 2024

Creating liberating content

Tutup Usaha Akibat Corona,...

Jakarta, Limbahnews.com - Wabah virus corona di Indonesia membuat dunia usaha mati suri,...

BUMN Pertanian Garap Limbah...

Jakarta, Limbahnews.com - PT Pertani (Persero) menggandeng Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pasca...

Turis Asing Kapok ke...

Ilustrasi potensi wisata di Indonesia.Bintan, Limbahnews.com - Environment Estate Departemen Nirwana Resort...

Garap Investasi, NTB Bakal...

Mataram, Limbahnews.com - Organisasi nirlaba Classroom of Hope bertemu Wakil Gubernur NTB Sitti...
BerandaKomunitasDerita Pemulung dan...

Derita Pemulung dan Usaha Daur Ulang Sampah Menghadapi Corona (1)

Ilustrasi pemulung. (Istimewa/Mountrash.com).

Jakarta, Limbahnews.com – Sore itu, pertengahan Maret 2020, Mang Odon mengirim sampah plastik. Jenis PET (Polyethylene Terephthalate) botol air mineral biru muda dan bening yang masih dicampur. Dia tidak mengirim dalam jumlah banyak, hanya sekitar 50 kg dalam seminggu. Dia hanya pemulung. Sampah plastik jenis PET dikirim ke tempat saya. Sampah jenis lain seperti kardus, besi, dan sampah plastik lainnya seperti HDPE (High Density Polyethylene), LLDPE (Linier Low Density Polyethylene), PP (Polypropylene), dan lainnya dikirim ke pengepul lainnya.

Tempat pengolahan saya hanya fokus mengolah plastik jenis PET. Mang Odon tinggal di Parungpanjang, Bogor, Jawa Barat. Selesai ditimbang, langsung bayar tunai sekitar Rp 200.000. Harga sampah plastik PET saat itu sekitar Rp 4.000 per kg. Setelah itu, saya dan Mang Odon duduk sambil ngobrol soal virus corona dan dampak ke daur ulang, terutama pemulung. Saya bilang ke Mang Odon, kalau kemungkinan segera tutup 2-4 minggu karena pabrik daur ulang skala besar juga tutup. Selain itu, harga limbah turun drastis, terutama plastik jenis PET. Mang Odon pun menimpali bahwa dia akan berhenti untuk memulung sampah. Dia akan coba menanam bunga di tanah kosong milik seorang tetangga. Selain harga turun drastis, yang membuat Mang Odon berhenti memulung, dia sulit menjualnya karena sebagian besar lapak tidak menerima lagi sampah plastik. Mungkin dia berhenti sementara sambil melihat situasi kondusif.

Tidak hanya Mang Odon, lapak-lapak atau pengepul limbah/sampah pun kebingungan untuk menjual barangnya. Lapak Monang juga berhenti menerima limbah plastik, terutama PET, dari pemulung.

Sebuah pabrik daur ulang khusus jenis plastik PET juga terpaksa ikut berhenti. Harus merumahkan karyawan dan belum tahu lagi sampai kapan harus tutup.

Baca : Maret, Pinjaman Bank Dunia untuk Program Citarum Mulai Cair

Kalau dari hukum ekonomi, fenomena sekarang kemungkinan besar disebabkan permintaan (demand) turun drastis, bahkan berhenti. Industri daur ulang pun terpaksa harus ikut menghentikan operasi. Akhirnya semua pihak, dari pemulung, pelapak, pengepul, pabrik penggilingan limbah plastik, pabrik daur ulang skala besar, hingga industri bahan jadi dari limbah plastik pun harus hati-hati, cenderung mengerem aktivitas, bahkan harus berhenti. Rantai suplai daur ulang kehilangan napas.

Sebagian aktivitas perekonomian turun mulai medio Maret 2020. Dari usaha skala besar sampai usaha mikro mulai terdampak wabah atau pandemik corona (Covid-19). Tak terkecuali pelaku sektor daur ulang sampah, terutama sampah plastik. Sebagian pasar produk daur ulang, baik berupa cacahan maupun produk jadi, diekspor ke China dan beberapa negara lainnya. Sementara itu, China telah berjibaku dengan Covid-19 sejak akhir 2019 di Kota Wuhan, Provinsi Hubei. Bahkan, China harus memperpanjang libur Tahun Baru Imlek 2020 karena wabah Covid-19. Padahal, libur Imlek selama ini berdampak langsung terhadap penurunan permintaan produk dari China.

Industri daur ulang pun kian terpukul. Harga sampah plastik turun sejak Oktober 2019 dan terus berlanjut hingga saat ini. Tidak hanya penurunan harga, permintaan juga turun drastis. Bahkan, sebagian pabrik daur ulang harus tutup karena mengikuti imbauan pemerintah untuk menjaga jarak sosial (social distancing) dan permintaan turun drastis. Tidak sedikit pengolahan sampah plastik harus berhenti karena permintaan dari pabrik daur ulang juga mandek. Karyawan pun harus berhenti. Mereka akhirnya pulang kampung. Tidak hanya sektor daur ulang, seluruh sektor terkenda dampak corona.

Baca : Mountrash Siapkan IoT Pengelolaan Sampah di SMAN 44

Tidak hanya Indonesia, seluruh negara di dunia juga terdampak. Negara adidaya seperti Amerika Serikat yang konon memiliki teknologi serba canggih pun kini sedang berjibaku mengatasi wabah tersebut. Bahkan, AS kini menjadi pusat pandemik Covid-19.

Jika wabah corona di dalam negeri berlarut hingga beberapa bulan ke depan, industri daur ulang akan sangat terdampak. Tidak sedikit usaha daur ulang yang gulung tikar. Pada akhirnya, akan terjadi seleksi alamiah, yaitu yang kuat bisa bertahan dan sebaliknya yang tidak bisa bertahan akan tutup.

Namun, pemerintah bisa mengambil langkah untuk bisa meminimalisir dampak buruh terhadap sektor daur ulang sampah. Pemerintah bisa mengurangi atau menutup sementara impor bahan baku/biji plastik (virgin plastic). Selain itu, pemerintah bisa mengurangi/menutup impor produk jadi plastik. Lalu porsi impor itu diganti seluruhnya dari dalam negeri sehingga industri recycle domestik bisa mengisi pasar yang selama ini diisi dari produk impor. Pemerintah juga bisa memberikan keringan kredit dan lain-lain ke industri daur ulang untuk tetap bisa bertahan dan beroperasi.

Baca : Dukung Usaha Daur Ulang dengan Mencegah Bahan Baku Impor (2)

Salah satu perusahaan petrokimia di Tanah Air, menegaskan bahwa saat ini masih produksi secara normal. Bahkan, tren kenaikan permintaan alat pelindung diri (APD) medis, ventilator, makser, dan lainnya membuat perusahaan itu fokus memproduksi polyphenyl ether (PPE).

Dikisahkan oleh Sepudin Zuhri / Owner Alala Recycling syefuu.bi@gmail.com/IG:alala.recycling/081586047575

Limbahnews.com menerima tulisan/laporan dari para pelaku UMKM hingga industri daur ulang atau terkait pengolahan sampah. Naskah dan foto silahkan dikirim ke redaksi@limbahnews.com.

Continue reading

Cara Mudah Mengelola Sampah Organik Dengan Biopori

Sampah organik merupakan salah satu jenis sampah yang paling banyak dihasilkan oleh masyarakat di Indonesia. Sampah organik ini dapat berasal dari sisa makanan, daun-daunan, ranting-ranting, dan sebagainya.Menurut data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), dari 17 juta ton timbulan...

Kreatif dan Ramah Lingkungan: Jam Tangan Estetik ini Terbuat Limbah Kayu

Jika berada di tangan yang tepat, bahkan limbah yang biasanya berakhir di tempat sampah, bisa diubah menjadi sesuatu indah dan bernilai ekonomi.Itulah yang dilakukan oleh Ryssa Putri, wanita berusia 24 tahun asal Blitar. Dia menekuni usaha pembuatan jam tangan...

Masker Bedah Didaur Ulang untuk Hasilkan Gas Kaya Hidrogen

Masker bedah telah menjadi barang yang sangat umum dalam kehidupan sehari-hari kita selama pandemi COVID-19. Meskipun dunia telah berhasil melewati masa kritis ini, limbah masker medis ini masih menjadi masalah bagi lingkungan.Namun, peneliti dari Kaunas University of Technology (KTU)...