Minggu, Juli 21, 2024

Creating liberating content

Limbah Sawit PTPN II...

Jakarta, Limbahnews.com - PT Perkebunan Nusantara (PTPN) II, anak perusahaan PT Perkebunan Nusantara...

Tipping Fee Bantargebang Rp...

Bekasi, Limbahnews.com - Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi bakal menerima uang sebesar Rp 379...

Garap Investasi, NTB Bakal...

Mataram, Limbahnews.com - Organisasi nirlaba Classroom of Hope bertemu Wakil Gubernur NTB Sitti...

Circulate Capital Luncurkan Pendanaan...

Mountrash membangun kemitraan dalam pengelolaan sampah plastik di Indonesia.Jakarta, Limbahnews.com - Circulate Capital...
BerandaKasusDPR Desak Sucofindo,...

DPR Desak Sucofindo, Belum Ada Tindak Lanjut Reekspor Limbah Plastik

  • Ilustrasi impor limbah plastik (Ist)

Jakarta, Limbahnews.com – Setelah heboh ditemukannya 70 dari 1.015 kontainer yang akan masuk ke Indonesia, Komisi IV DPR RI sudah mendesak agar PT Sucofindo melakukan reekspor ke negara asal. Setelah sepekan berlalu, belum ada tanda-tanda untuk memulangkan kontainer berisi limbah plastik tersebut.

Limbahnews berusaha mengonfrmasi beberapa pihak pada Selasa (28/1) tetapi belum mendapatkan konfirmasi. PT Sucofindo selaku badan usaha milik negara (BUMN) yang melakukan verifikasi impor tersebut juga belum memberikan keterangan lebih lanjut.

Pada Kamis (23/1) lalu, Komisi IV DPR mendesak PT Sucifindo mengembalikan peti kemas berisi limbah plastik yang ada di Pelabuhan Tanjung Priok ke negara asal.

Baca : 1.015 Kontainer Sampah Impor Ilegal Milik PT New Harvestindo International?

Pada sidak Komisi IV DPR bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) di Pelabuhan Tanjung Priok, Kamis (23/1), ditemukan limbah plastik di dalam 70 peti kemas atau kontainer.

Wakil Ketua Komisi IV DPR Dedi Mulyadi mengatakan sampah plastik tersebut merupakan hasil impor dari tiga negara, yakni Amerika, Inggris, dan Australia.

Menurut Dedy, PT Sucofindo selaku pengimpor menyebutkan bahwa sampah plastik limbah ini merupakan bahan baku biji plastik yang diatur dalam Peraturan Menteri Perdagangan.

Baca : Turis Asing Kapok ke Bintan Akibat Limbah Minyak Hitam

“Kalau dikatakan itu bahan scrab untuk biji plastik, menurut saya tidak. Itu adalah sampah yang berasal dari TPA (Tempat Pembuangan Akhir) yang dipress, kemudian dimasukkan ke kontainer. Sampah ini harus segera dikembalikan ke negara asalnya,” tegas Dedi dalam keterangan resminya.

Dikatakan, sampah yang awalnya berjumlah 70 kontainer itu akan bertambah menjadi 1.015 kontainer yang akan berdatangan dari 14 pelabuhan menuju Tanjung Priok.

Untuk diketahui, salah satu surveyor independen yang dipercaya pemerintah dan para pelaku usaha adalah PT Sucofindo (Persero). Pemerintah mempercayakan inspeksi barang modal bukan baru (termasuk limbah plastik) pada Sucofindo, antara lain, karena Sucofindo berstatus BUMN sehingga bisnis Sucofindo selalu mendukung kebijakan pemerintah.

Batam

Terkait dengan kewenangan verifikasi tersebut, DPR RI juga pernah meminta Sucofindo bertanggung dan melakukan reekspor atas limbah kontainer. Desakan Komisi VII DPR saat itu karena terindikasi berisi bahan berbahaya dan beracun (B3) yang masuk di Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau pada awal Juli 2019 lalu.

Ketua Komisi VII DPR RI saat itu, Gus Irawan Pasaribu menegaskan hal itu karena Sucofindo yang meloloskan impor tersebut.

“Salah satu yang bertanggung jawab atas permasalahan tersebut PT. Sucofindo karena mereka yang meloloskannya. Walaupun saya juga enggak yakin, kalau memang betul-betul diperiksa, masa sampai kecolongan,” ujar Gus Irawan seperti diberitakan media lokal.

Saat memimpin kunjungan kerja spesifik Komisi VII DPR RI ke Batam, Jumat (5/7/2019), Gus Irawan mengaku menemukan limbah yang sangat berbahaya bagi lingkungan. Total kontainer yang terindikasi membawa sampah dari luar negeri sebanyak 65 kontainer, dengan komposisi 11 kontainer dinilai aman, 16 kontainer tercampur, dan 38 kontainer terkontaminasi limbah B3.

Apakah desakan Komisi VII DPR saat itu dilakukan PT Sucofindo, belum ada informasi lebih lanjut. [LN-03]

Limbahnews.com // redaksi@limbahnews.com

Continue reading

Cara Mudah Mengelola Sampah Organik Dengan Biopori

Sampah organik merupakan salah satu jenis sampah yang paling banyak dihasilkan oleh masyarakat di Indonesia. Sampah organik ini dapat berasal dari sisa makanan, daun-daunan, ranting-ranting, dan sebagainya.Menurut data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), dari 17 juta ton timbulan...

Kreatif dan Ramah Lingkungan: Jam Tangan Estetik ini Terbuat Limbah Kayu

Jika berada di tangan yang tepat, bahkan limbah yang biasanya berakhir di tempat sampah, bisa diubah menjadi sesuatu indah dan bernilai ekonomi.Itulah yang dilakukan oleh Ryssa Putri, wanita berusia 24 tahun asal Blitar. Dia menekuni usaha pembuatan jam tangan...

Masker Bedah Didaur Ulang untuk Hasilkan Gas Kaya Hidrogen

Masker bedah telah menjadi barang yang sangat umum dalam kehidupan sehari-hari kita selama pandemi COVID-19. Meskipun dunia telah berhasil melewati masa kritis ini, limbah masker medis ini masih menjadi masalah bagi lingkungan.Namun, peneliti dari Kaunas University of Technology (KTU)...