Rabu, Juli 24, 2024

Creating liberating content

Limbah Sawit PTPN II...

Jakarta, Limbahnews.com - PT Perkebunan Nusantara (PTPN) II, anak perusahaan PT Perkebunan Nusantara...

Naksir Pengolahan Limbah Tambang,...

Ilustrasi pemulihan lahan bekas tambang (Mikrobios.id)Jakarta, Limbahnews.com - PT PP Presisi Tbk (PPRE)...

INOV Yakin Industri Daur...

Jakarta, Limbahnews.com - Emiten yang bergerak di bidang daur ulang sampah botol plastik...

Pelaku Industri Kimia dan...

Jakarta, Limbahnews.com - Pelaku industri plastik yang tergabung dalam Asosiasi Industri Olefin, Aromatik...
BerandaKebijakan305 Perusahaan Masih...

305 Perusahaan Masih Tidak Taat Aturan Lingkungan

Jakarta, Limbahnews.com – Tingkat kepatuhan industri terhadap peraturan lingkungan cukup tinggi. Namun, masih ada 305 perusahaan yang dinyatakan tidak mematuhi peraturan lingkungan sehingga menimbulkan dampak buruk atau mencemari lingkungan hidup.

Tingkat ketaatan industri diukur dalam penilaian Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan (PROPER) dalam Pengelolaan Lingkungan oleh Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) periode 2018-2019. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengevaluasi 2.045 perusahaan di Indonesia. Dari jumlah ini, 303 perusahaan masih berstatus merah dan dua perusahaan lainnya bernilai PROPER hitam.

Nilai PROPER merah dan hitam adalah tingkat ketaatan pada peraturan lingkungan hidup yang terbawah. Perusahaan dengan PROPER merah mengelola lingkungan, tetapi belum sesuai persyaratan dalam aturan perundangan. Adapun perusahaan bernilai PROPER hitam ialah perusahaan yang sengaja mengakibatkan pencemaran atau lalai melanggar peraturan berlaku.

Dua perusahaan dengan peringkat hitam itu adalah PT PBCM yang berlokasi di Kabupaten Tangerang, Banten, dan PT TRD yang beroperasi di Kota Medan, Sumatera Utara. PT PBCM berjenis usaha pengolahan logam, tetapi mengolah limbah B3 tanpa izin. Adapun PT TRD, produsen kayu lapis, yang menggunakan limbah B3 berupa sludge IPAL sebagai tanah timbun untuk mengisi tanah turun di daerah rawa yang masih lahan milik sendiri.

Namun, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya pekan lalu menilai ketaatan perusahaan pada aturan lingkungan hidup membaik. Tahun 2019, ketaatan ini 85 persen dari 2.045 perusahaan yang dinilai. Dalam catatan Kementerian LHK, tingkat ketaatan pada aturan lingkungan hidup tahun 2018 mencapai 87 persen dari 1.906 perusahaan peserta.

Lunak

Penilaian PROPER merah dan hitam, menurut Siti, juga sekaligus menjadi penegakan hukum lunak. Sebab, perusahaan-perusahaan berstatus merah dan hitam bisa diteliti tim penegakan hukum sesuai tingkat kesengajaannya dan kerusakan lingkungan yang diakibatkannya.

Tahun 2019, sebanyak 26 perusahaan mendapatkan anugrah PROPER emas atau dinilai konsisten menunjukkan keunggulan lingkungan dalam proses produksi, melaksanakan bisnis yang beretika, dan bertanggung jawab terhadap masyarakat. Sebanyak 174 perusahaan lainnya berkategori hijau karena telah mengelola lingkungan lebih dari yang dipersyaratkan dalam peraturan. Adapun 1.507 perusahaan lain bernilai biru karena telah mengupayakan pengelolaan lingkungan sesuai ketentuan.

Dari 2.045 perusahaan itu, seperti ditulis Kompas, 13 perusahaan tidak diumumkan peringkatnya karena sedang menjalani proses penegakan hukum dan 20 perusahaan lainnya saat ini tidak beroperasi. [LN-05]

limbahnews.com // redaksi@limbahnews.com

Continue reading

Cara Mudah Mengelola Sampah Organik Dengan Biopori

Sampah organik merupakan salah satu jenis sampah yang paling banyak dihasilkan oleh masyarakat di Indonesia. Sampah organik ini dapat berasal dari sisa makanan, daun-daunan, ranting-ranting, dan sebagainya.Menurut data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), dari 17 juta ton timbulan...

Kreatif dan Ramah Lingkungan: Jam Tangan Estetik ini Terbuat Limbah Kayu

Jika berada di tangan yang tepat, bahkan limbah yang biasanya berakhir di tempat sampah, bisa diubah menjadi sesuatu indah dan bernilai ekonomi.Itulah yang dilakukan oleh Ryssa Putri, wanita berusia 24 tahun asal Blitar. Dia menekuni usaha pembuatan jam tangan...

Masker Bedah Didaur Ulang untuk Hasilkan Gas Kaya Hidrogen

Masker bedah telah menjadi barang yang sangat umum dalam kehidupan sehari-hari kita selama pandemi COVID-19. Meskipun dunia telah berhasil melewati masa kritis ini, limbah masker medis ini masih menjadi masalah bagi lingkungan.Namun, peneliti dari Kaunas University of Technology (KTU)...